Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48, Senin (23/5). Pra Muktamar ini mengambil tema Dakwah Muhammadiyah di Tengah Populisme dan Evangelisme. | Tangkapan Layar Youtube/TVMU Channel

Khazanah

24 May 2022, 14:41 WIB

Muhammadiyah Harus Siap Hadapi Tantangan Abad Kedua

Para pengamat luar negeri memberi pujian bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam tersukses di dunia.

 

JAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad mengingatkan agar Muhammadiyah bersiap menghadapi tantangan pada abad kedua. Menurut dia, tantangan pada abad kedua tersebut akan berbeda dibandingkan abad sebelumnya. 

“Mungkin pada masa yang akan datang tantangan bagi Muhammadiyah akan lebih rumit lagi,” kata Dadang saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Pra-Muktamar ke-48 Muhammadiyah dan 'Aisyiyah bertema "Dakwah Muhammadiyah di Tengah Populisme dan Evangelisme”, Senin (23/5).  

Ia menerangkan, pada rentang perjalanannya pada abad pertama, Muhammadiyah dinilai sukses. Para pengamat luar negeri memberi pujian bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi Islam tersukses di dunia.

“Namun, pada abad kedua, Muhammadiyah tidak tahu akan seperti apa karena tantangannya sangat luar biasa, sangat berbeda dengan abad pertama,” ujar dia. 

Menurut Dadang, capaian Muhammadiyah pada abad pertama lebih bersifat fisik sebab bangunan-bangunan hebat menjadi kebanggaan Muhammadiyah. Keberhasilan Muhammadiyah pada abad pertama di antaranya membangun banyak rumah sakit, sekolah yang jumlahnya sampai 26 ribu, perguruan tinggi sebanyak 168, dan lembaga kesehatan yang jumlahnya mencapai 542. 

"Itu keberhasilan yang kita saksikan dan melahirkan kekaguman. Tetapi, abad kedua ini sama sekali beda, orientasinya juga beda, rakyatnya pun berbeda," ujar Dadang. 

Karena itu, menurut dia, dakwah Muhammadiyah harus responsif terhadap perubahan-perubahan tersebut. 

Dalam forum yang sama, Pemimpin Redaksi Harian Republika, Irfan Junaidi, menyampaikan aktivitas dakwah dan jurnalisme memiliki banyak sekali kemiripan. Dakwah yang dimaksud adalah dakwah bil lisan karena ada dakwah bil lisan dan bil hal.

"Antara dakwah bil lisan dengan dunia jurnalisme ada kesamaan, misalnya dalam pers kita mengenal ada empat fungsi pers, yaitu untuk menginformasikan, membujuk atau merayu atau memengaruhi, mendidik, menghibur. Kami melihat dalam dunia dakwah bil lisan ada fungsi-fungsi itu," kata Irfan.

Ia mengatakan, memang kadang-kadang ada dai yang melupakan empat fungsi pers sehingga orang yang mendengarkan dakwah yang seharusnya terhibur malah menjadi marah dan sedih. Seperti fungsi pers, dakwah memiliki fungsi untuk mengedukasi dan memengaruhi.

Namun, kadang-kadang ada dai yang terpeleset sedikit menjadi memprovokasi, bukan mengedukasi dan memengaruhi. Irfan mengingatkan, kesalahan-kesalahan dalam berdakwah yang seperti itu mungkin menjadi catatan dan tantangan bersama.

Irfan juga mengingatkan, satu hal yang harus bersama-sama dipikirkan, hari ini masyarakat, publik, dan umat dihadapkan pada situasi yang sedang terbanjiri informasi yang luar bisa. Ada yang menyebut tsunami informasi.

Di tengah era yang seperti ini, menurut dia, penting sekali berpijak di satu pijakan, yakni setiap informasi dan konten dakwah itu adalah sesuatu yang dipastikan benar.

Untuk itu, para aktivis dakwah mesti kembali lagi kepada khitahnya untuk berpegang teguh pada etika. “Kalau lepas dari etika, yang terjadi bukan dakwah rahmatan lil ‘alamin, melainkan dakwah yang mengajak orang berantem,” katanya.


Tiga Besar Tercapai

Peringkat tiga besar SEA Games dicapai dengan kontingen yang lebih ramping.

SELENGKAPNYA

Saudi Larang Warganya ke Indonesia

Larangan itu diklaim berkaitan dengan peningkatan jumlah penularan Covid-19.

SELENGKAPNYA

Isyarat Pencabutan PPKM Menguat

Pencabutan PPKM bisa dilakukan jika indikator penanganan pandemi terus membaik.

SELENGKAPNYA
×