Santri Gontor putri berpidato di depan kawan-kawannya | Youtube

Opini

23 May 2022, 11:20 WIB

Takaranmu Adalah Apa Yang Kamu Cari

Setiap orang yang hendak belajar di Gontor akan ditanyakan, ke Gontor apa yang kau cari.

ARIANI SUKMA DEWI; Alumnus KMI Pondok Modern Darussalam Gontor 2005

“Ke Gontor Apa Yang Kau cari?”. Sebuah slogan, sekaligus pertanyaan sederhana yang tergantung di setiap sudut area yang mudah dijangkau oleh pandangan mata, ia memiliki jawaban beragam dari setiap pembacanya.

Jawaban adiluhung atas pertanyaan tersebut, “pendidikan dan pengajaran yang dicari”, merupakan pemahaman komprehensif atas perjalanan menuntut ilmu melalui falsafah kehidupan yang terbingkai dalam miniatur bumi, yaitu pesantren. Tanpa kita sadari, miliu pergerakan yang melibatkan seluruh penghuni pesantren tanpa terkecuali, memiliki pengaruh besar dalam pembentukan karakter serta cara pandang seluruh anak didiknya. 

Gontor yang kami sebut sebagai miniatur bumi layaknya kehidupan dunia, didalamnya terdapat beragam suku dan ras, kabinet pemerintahan yang mengatur didalam nya berupa sebuah organisasi, hanya saja di kehidupan miniatur bumi yang kami sebut pesantren tidak ditemui pemisahan kasta ataupun pemetaan status sosial, seperti kehidupan dunia yang sesungguhnya.

Masing-masing dari penduduk pesantren hanya berfikir untuk mencurahkan energi kebermanfaatan bagi yang lain, memikirkan cara untuk berkontribusi, berlomba lomba dalam hal kebaikan, tolok ukur kesuksesan hidup dipesantren dengan akhlak karimah dan banyaknya manfaat bagi umat.

Hal ini bertolak belakang dengan kehidupan bumi yang sesungguhnya, hampir seluruh penduduk bumi berpacu mengumpulkan harta benda seakan hidup didunia selamanya, berjibaku dalam pencapaian pangkat serta jabatan setinggi tingginya. Tidak jarang mengabaikan urusan bersama, status sosial dan harta benda yang dimiliki menjadi tolok ukur sebuah kesuksesan serta kemuliaan seseorang.

Tidakkah kita temui keselarasan antara kalimat “Ke Gontor apa yang kau cari” dengan kalimat, “Ke dunia apa yang kau cari”. Penduduk miniatur bumi (Gontor) tidak memiliki ekspektasi duniawi dengan mengunggulkan prestasi pribadi ataupun golongan, semua nya ikhlas belajar dan bekerja dalam keorganisasian secara maksimal sesuai perannya masing masing tanpa melakukan penolakan, unjuk rasa, pengingkaran, ataupun saling menjatuhkan.

Karena berjalan untuk satu tujuan yang mulia, yaitu meninggikan kalimat-kalimat Allah, meskipun jalan pendakian kita beragam. Tidak ada yang pernah merasa berat hati ketika estafet kepemimpinan berpindah tangan kepada yang lain, tidak perlu ada usaha dan daya upaya untuk mempertahankan posisi atau jabatan yang tengah diemban.

Bukankah kehidupan dunia juga semestinya begitu?. “Ke Dunia apa yang kau cari?”. kalimat tersebut bisa menjadi alat pengingat diri saat laju kehidupan tidak lagi sesuai fitrah, layaknya seorang hamba.

Mobil, rumah, anak, aset, perhiasan, jabatan, dsb, Jika memang itu semua adalah sebuah titipan layaknya menjalani titipan amanat dan tanggung jawab di keorganisasian pesantren, pernahkah kita berfikir untuk apa Dia menitipkan pada kita?, apa yang harus kita lakukan pada sesuatu yang dititipkanNya?, adakah kita memiliki hak atas sesuatu yang bukan menjadi mililk kita?. Mengapa justru hati kita terasa berat ketika titipan itu diminta kembali olehNya?

Kita sebut sebagai ujian, kita ratapi sebagai petaka, bahkan menganggapnya musibah. Kita sebut “titipan yang diambil” tadi dengan penggilan apa saja untuk melukisakan bahwa itu adalah penderitaan. Bahkan saat berdoa, kita meminta titipan yang lebih baik, lebih banyak, dan lebih indah yang sesuai dengan hawa nafsu kita, dengan menolak sakit, menolak kemiskinan, dsb.

Kita jadikan keadilan serta kasihNya layaknya hitungan matematika. Kita rajin beribadah karena berharap dapat menjauh dari derita, serta kesenangan selalu menghampiri. Padahal kita selalu mengucap kata “hidup dan mati adalah untuk ibadah”. 

Namun kita perlakukan Dia seolah mitra dagang yang harus membalas seluruh amal baik kita, dan menolak keputusanNya yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Apakah kita tidak pernah benar benar memahami hakikat kehidupan yang kita jalani di dunia ini?.

Mengutip kalimat Jalaluddin Rumi, “semua orang di planet ini adalah kekanak kanakan, kecuali sangat sedikit orang. Tidak ada yang tumbuh menjadi dewasa, kecuali mereka yang terbebas dari keinginan”. menjalani kehidupan tanpa cinta kepadaNya menjadikan semua laku ibadah adalah beban, semua tarian adalah pikulan kesibukan, dan semua musik hanyalah kebisingan. kearah manakah kita bertumbuh, semakin dewasa atau semakin kekanak kanakan? wallahu a’lam.


Ruh Pondok Bernama Keikhlasan

Keikhlasan menjadi energi yang mewarnai seluruh aktivitas Pondok Modern Darussalam Gontor

SELENGKAPNYA

Politik Santri di Tengah Gempuran Sekularisme

Santri dan pesantren kerap menjadi rujukan bagi elemen masyarakat dalam pencarian solusi permasalahan hidup berdasarkan Islam.

SELENGKAPNYA

Cyberdakwah: Inspirasi Society 5.0 dari Rasulullah 

Cyberdakwah menggambarkan kegiatan dakwah umat melalui penguasaan teknologi informasi.

SELENGKAPNYA
×