Pendakwah Muzammil Hasballah berbicara tentang cyberdakwah | Youtube

Opini

Cyberdakwah: Inspirasi Society 5.0 dari Rasulullah 

Cyberdakwah menggambarkan kegiatan dakwah umat melalui penguasaan teknologi informasi.

ALIFAH YASMIN; Alumnus KMI Pondok Modern Darussalam Gontor 2016

Menuju Society 5.0 adalah visi dan cita-cita Jepang, sebuah idealisme yang berupa tawaran untuk tatanan dunia yang lebih kondusif, visioner, dan solusi memecahkan masalah sosial. Sebuah rencana dasar dunia sains dalam perkembangan sains dan teknologi modern, membentuk masyarakat masa depan.

Fase ini adalah fase kelima dari 5 fase yang sudah digolongkan sebelumnya, antara lain; fase Society 1.0; Hunting & Gathering. Society 2.0; Agricultural. Society 3.0; Industrial. Society 4.0; Information. 

Hingga fase keempat, pola masyarakat informasi dengan laju pengetahuan begitu cepat, namun, masih kita dapati lintas informasi sector yang masih dirasa kurang memadai hingga pembentukan relasi satu sama lain sukar dilaksanakan, dan masih terdapat ragam evaluasi dari eksistensi fase keempat, karena itu, timbullah suatu gerakan mengatasnamakan suatu reformasi sosial yang terkemas menjadi sebuah inovasi baru yang menawarkan ragam solusi kreatif, praktis dan mampu menyelesaikan masalah sosial secara parallel. Sebuah Grand Design yang berupa; IoT (Internet of Things), AI (Artificial Intelligence), dan Big Data. 

Menelaah sedikit pemaparan di atas, tampak sebuah inovasi yang begitu dahsyat dan menjamin untuk menyelesaikan segala masalah sosial, kesenjangan regional, usia, gender, dan bahkan mampu menyediakan berbagai produk layanan sesuai kebutuhan baik individu atau kelompok. Dan terlintas betapa agung dan istimewanya kedudukan sains dan teknologi di zaman sekarang.

Seakan sains mengatakan, tanpa adanya kehadiran mereka di bumi, manusia tak mampu mencapai posisinya hingga kini, seperti halnya tanpa adanya sains dan teknologi, manusia tak mampu dengan mudah berkomunikasi dengan cepat, berpindah tempat dengan hitungan jam saja, memenuhi kebutuhan primer hingga sekunder dengan sekedip mata. 

Peningkatan dan perkembangan darinya tentu menimbulkan dampak positif dan negatif. Umat Islam dianjurkan untuk selalu produktif dalam setiap kegiatan menebar kebaikan. Perkembangan ini tentu dimanfaatkan dengan baik untuk penciptaan ladang kebaikan. Percepatan laju informasi, kemudahan bersosialisasi menjangkau dunia yang sulit terjamah, bahkan kita dapat menerangkan suatu kondisi negara tanpa harus mengunjungi negara tersebut, cukup mendalami informasi, membaca perkembangan melalui berita yang terkait, kita mampu menuliskannya, tanpa perlu menghabiskan biaya lebih untuk sekedar mengunjungi lantas menuliskannya. 

Selain daripada itu, perkembangan dan kemajuan sains dan teknologi ini, tentu membangkitkan semangat (spirit) umat muslim untuk berjuang lebih dalam segi dakwah. Jika dulu proses dakwah itu dilakukan maksimal melalui face to face, dakwah di mimbar masjid, adanya halaqah, dan segala kajian yang diadakan suatu instansi, Lembaga, atau sekedar pertemuan rutin suatu kelompok ber-orientasi dakwah dan pendidikan. 

Lantas ia berkembang seperti yang kita saksikan dalam layar televisi be-inci lebar yang sudah jarang kita dapati sekarang. Namun kini, dengan mudahnya kita dapati platform media dakwah Islam di media sosial, baik dalam Youtube, Instagram, Twitter, Facebook, hingga TikTok sekalipun, dengan beragam konten dan fitur menarik, di bawah naungan perkembangan dan kemajuan teknologi, media dakwah ini berkembang pesat, baik dari media dakwah berbentuk tulisan, foto, video, film, digital library, software islami bahkan hingga suara podcast. 

Evolusi media dakwah ini berbuah manis. Ia terkemas dalam konten yang familiar dan mengikuti pola konsumsi masyarakat. Seperti halnya aplikasi muslim Umma yang gencar meluncurkan fitur dakwah menarik. Software Islami seperti Maktabah Syamilah, Waqfeeya, Maktabah Noor. Ragam aplikasi penghafal Qur’an, film-film bernuansa Islami, akun Youtube dakwah dari Kiai kondang hingga milennial, akun Instagram dengan ragam foto dan video tentang ayat suci dan penjabarannya. 

Media tulis baik seperti Islami.co, dawuhguru, iqra.id, syahida.com, suaraislam.id, dan tentu masih banyak lagi aplikasi, platform, website, podcast, podcast, dan akun-akun media sosial yang menyuguhkan konten dan fitur dakwah menarik, sesuai dengan konsumsi dan kualitas masyarakat. Hal ini menciptakan studi khusus mengenai perkembangan dakwah media sosial, hingga tercipta istilah Cyberdakwah. Bagaimana umat muslim menggiatkan dakwah islam melalui penguasaan teknologi informasi. Menjangkau pelosok bumi dengan cepat dan diakses dengan mudah oleh khalayak luas. 

Namun, perlu kita ketahui, kekaguman terhadap perkembangan sains dan teknologi perlu disertai dengan adanya alur dan pemahaman yang runut akan awal mula perkembangan sains dan teknologi. Tidak hanya serta merta menerima secara mentah bahwa perkembangan sains ini dari ilmuwan barat sekalipun. Karena sejatinya segala ilmu pengetahuan berbasis Alquran dan Hadis. Namun, sejarah telah mengeksploitasi pemahaman manusia hingga detik ini. Ragam manipulasi, pergeseran makna dan tumpang-tindih alur sejarah telah membutakan hampir sebagian generasi, bahkan cenderung hilang.

Istilah perkembangan sains, kemajuan teknologi selalu dinisbatkan kepada tokoh barat, peran budaya Eropa, hingga cenderung melupakan kontribusi ulama, ilmuwan Islam. Jika perlu ditilik dan ditelaah kembali, adanya ilmu pengetahuan, perkembangan hingga kemajuannya justru menitikberatkan kepada kontribusi umat Islam di zamannya. Sejarah menorehkannya, semenjak zaman Rasulullah, Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, hingga akhirnya terjadilah transmisi ilmu pengetahuan di Barat.

Kembali kepada zaman Rasullullah, jika kita dalami sosok Rasullulah lebih dalam, sebagai seorang Nabi, pendakwah, kepala keluarga, ayah bagi anak-anaknya, motivator, entrepreneur, business man, dan seperti yang dikatakan Muhammad Syafii Antonio, bahwa Muhammad SAW adalah the super leader super manager. Betapa dahsyatnya kekuatan batin dan lahir Rasulullah dalam menghidupkan arab Jahiliyah saat itu menjadi sebuah peradaban madani (Mekkah-Madinah). Mengajarkan, mengubah, meluruskan segala adat tradisi jahiliyah menjadi kebudayaan dan peradaban yang tertata, damai, bersih, bahkan menciptakan miliu intelektual yang kini sulit kita dapati. 

Jika kini kita dapati ragam gadget dengan segala fitur menarik, di zaman Rasulullah kita dapati ragam halaqah yang lebih menjanjikan, terbukti dengan riwayat sanad, hidup bahkan menghidupkan. Jika kita menemukan ragam aplikasi, data, dan segala perhitungan keuangan dan bisnis dengan mudah dan akurat, Rasullullah pun telah menyampaikan melalui QS al-Baqarah 282, yang kemudian hari direalisasikan oleh Khalifah Umar bin Khattab dengan Diwan Baitu-l-Mal wa Tamwil. 

Hal lain lagi, jika kini kita dengan mudahnya berpindah tempat, bertransportasi dari satu daerah ke daerah lain, di zaman Rasulullah dengan berkuda atau bahkan berjalan beriringan, ekspansi militer, penaklukan wilayah demi dakwah terlaksana dengan baik dan tertata, menjangkau luar Jazirah Arab hingga perbatasan Kekaisaran Byzantium, bahkan hingga Rasullullah wafat, kemenangan demi kemenangan di pihak muslim, dari Kaldea (Irak Selatan), Suriah, Damaskus, hingga Mesopotamia, tercatat pasukan Muslimin mampu menyapu kawasan seluas bekas Kekaisaran Romawi. Maka, dapat dikatakan, segala perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan kini yang memudahkan kita adalah buah pemikiran daripada Rasullulah SAW. Buah pemikiran senyawa dengan alur dan tujuan hakikat muslim harus berislam secara intelektual itu sendiri. 

Hal ini dapat kita simpulkan sebagaimana merujuk kepada ilmu pengetahuan Islam, berpedoman Alquran dan Hadist. Jika pengetahuan sejarah sudah berperan dalam penghapusan, manipulasi hakikat sejarah. Alquran dan Hadis lebih daripada itu. Tidak hanya berbatas kepada bacaan wajib usai shalat maghrib, ia melebihi gudang ilmu pengetahuan, darinya lahir banyak ulama, ilmuwan Islam yang telah melahirkan ragam masterpiece dalam bidangnya masing-masing, menciptakan miliu intelektual yang memudahkan aspek fisik dan metafisik kehidupan, bahkan mengguncangkan segala argumentasi pengetahuan kiri berbasis ideologi tak sesuai dengan nilai murni ilmu pengetahuan itu sendiri.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

MUI: Keabsahan Hewan Kurban Terpapar PMK Perlu Didalami

Di 14 kabupaten/kota di Jawa Timur, ditemukan 6.433 sapi yang terkonfirmasi terinfeksi PMK.

SELENGKAPNYA

Hasil Konbes Dorong NU Miliki Tata Kelola Modern

Konbes NU 2022 berlangsung sejak Jumat hingga Ahad di Jakarta.

SELENGKAPNYA

Petani Berharap Harga TBS Sawit Kembali Normal

Konsep cadangan minyak goreng nasional masih dimatangkan pemerintah.  

SELENGKAPNYA