Pandu Raharja-Liu | Twitter

Kisah Dalam Negeri

17 May 2022, 03:50 WIB

Teknologi Kanker Antar Pandu Masuk Forbes 30

Panakeia mengembangkan pendekatan pertama yang bisa mendeteksi profil biomarker kanker tanpa harus melakukan tes dengan bantuan teknologi AI.

OLEH NOER QOMARIAH KUSUMAWARDHANI

Pemuda kelahiran Jakarta, Pandu Raharja-Liu (28 tahun), mengharumkan nama Indonesia di dunia kesehatan internasional. Pandu yang merupakan Co-Founder dan Chief Technology Officer (CTO) di Panakeia Technologies, Inggris, sukses mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendeteksi profil biomarker kanker.

Dua perangkat lunak buatan Panakeia pun sudah mendapatkan persetujuan oleh otoritas UK dan Uni Eropa. Berkat inovasinya tersebut, Pandu masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30-Eropa 2022 kategori Sains dan Kesehatan (Forbes 30 Under 30-Europe 2022: Science and Healthcare).

"Pandu Raharja-Liu menggunakan kecerdasan buatan untuk menghasilkan profil biomarker kanker hanya dalam hitungan menit, bukan hari, mempercepat diagnosis, pengobatan, dan pengembangan obat," demikian ditulis Forbes seperti dikutip pada Senin (16/5).

Pandu menceritakan, ia mendapat kabar masuk dalam Forbes 30 Under 30-Eropa pada Selasa (2/5). “Agak kaget juga ketika diumumkan oleh Forbes, terutama kalau melihat orang-orang yang sebelumnya di award Forbes 30 Under 30 yang sekarang banyak yang berkontribusi secara foundational di bidang mereka,” kata Pandu kepada Republika, belum lama ini. 

Panakeia berdiri pada November 2018. Pandu bertemu dengan Pahini Pandya, yang saat ini menjadi co-founder dan CEO Panakeia, di Entrepreneur First London. “Dia [Pahini Pandya] cancer biologist, saya AI researcher. Dulu saya sudah banyak melakukan riset kanker dari sisi computational dan AI," kata pria lulusan Technical University of Munich itu.

Panakeia mengembangkan pendekatan pertama yang bisa mendeteksi profil biomarker kanker tanpa harus melakukan tes dengan bantuan teknologi AI. Pandu percaya ini merupakan sebuah terobosan. 

Pandu menjelaskan, perjalanan diagnosis kanker biasanya dimulai dari ada gejala yang terasa oleh pasien atau terasa saat melakukan skrining. Kemudian, dilakukan gross detection menggunakan teknologi radiografi, seperti CT, MRI, Pet, dan lainnya.

Selanjutnya, sampel biopsi diambil. Berikutnya adalah analisa primer oleh patolog. Setelah itu dilakukan biomarker profiling untuk mendeterminasi spesifik kanker/prognosis kanker/rekomendasi pengobatan. Terakhir adalah tumour board, yang mana onkolog, radiolog, patolog, dan ahli bedah bertemu untuk mendiskusikan rencana pengobatan.

Panakeia, kata Pandu, bekerja di tingkat patologi setelah patolog melakukan analisis primer (apakah ada kanker di biopsi pasien). Pandu menyebut, di zaman sekarang, biomarker profiling penting untuk melihat prognosis pasien dan penting untuk menentukan obat atau treatment apa yang akan berfungsi dan yang tidak ke pasien.

 “Karena zaman sekarang, perawatan kanker lumayan spesifik. Jadi tidak semua teknik bedah, kemo, terapi immuno, akan berfungsi di pasien tertentu. Misalnya, 60 persen obat yang disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration) beberapa tahun lalu, biasanya mempunyai indikasi biomarker tertentu. Jadi untuk obat tersebut, kita harus tahu pasien itu punya profil biomarker apa,” ujarnya.

photo
Pendiri Panakeia, Pandu Raharja-Liu dan Pahini Pandya. - (istimewa)

Selain itu, mengerti biomarker juga penting untuk mempelajari kemungkinan bertahan hidup pasien. Sebab, ada beberapa biomarker yang menandakan kanker tersebut agresif. Untuk mencari tahu biomarker, biasanya menggunakan teknik biokimia semacam immunohistochemistry (IHC), in situ hybridisation (ISH), tes genetik (PCR atau next generation sequencing (NGS). Ini biasanya mahal karena membutuhkan bahan spesialis dan lain-lain.

"Juga lumayan memakan waktu karena tes harus dilakukan di lab spesialis, memerlukan  tenaga spesialis, juga tesnya sendiri lama (seperti PCR untuk Covid-19) dan lain-lain, serta biasanya kurang dapat diandalkan," katanya.

Di UK misalnya, biaya biomarker profiling biasanya di kisaran 450 pound. Untuk biomarker yang baru atau biomarker panel, harganya bisa sampai 4.000 pound dengan turnaround time (TAT) yang bisa mencapai hingga tiga bulan.

“Panakeia ini mengembangkan teknologi AI yang menganalisa biopsi pasien (pada saat analisis primer oleh patolog) dan memberikan informasi biomarker tanpa harus melakukan tes mahal yang memakan waktu lama tersebut. Jadi teknologi kita bisa menyediakan hasil analisa yang sama dalam beberapa menit dengan harga yang jauh lebih rendah,” ujarnya. 

Pandu menceritakan, proses mengembangkan teknologi AI yang menganalisa biopsi pasien dan memberikan informasi biomarker cukup panjang dan bertahap. Awalnya, Panakeia membuat platform dan riset untuk mengembangkan software device medis mereka yang pertama, PANProfiler Breast (ER, PR, HER2) yang bisa memprofil biomarker ER, PR dan HER2 di kanker dada. 

 
Pandu menceritakan, proses mengembangkan teknologi AI yang menganalisa biopsi pasien dan memberikan informasi biomarker cukup panjang dan bertahap.
 
 

"Jadi dari 2019 sampai 2021, Panakeia membangun fondasi platform AI dan membangun software device yang pertama. Semenjak itu, Panakeia juga mulai berekspansi ke kanker kolorektal dengan medical software device yang kedua. Rencananya, kata dia, Panakeia akan berekspansi ke semua jenis kanker. 

Menurut Pandu, Panakeia sudah melakukan studi yang menunjukkan bahwa teknologi mereka bisa diaplikasikan ke semua jenis kanker.  Studi tersebut berjudul Deep learning can predict multi-omic biomarkers from routine pathology images: A systematic large-scale study dan dapat dilihat di situs bioRxiv. Studi tersebut sedang ditinjau kembali di Nature Cancer, jurnal top di bidang kanker.

Teknologi AI buatan Panakeia sudah diaplikasikan dalam pengobatan kanker payudara (satu perangkat medis disetujui secara klinis, beberapa program pengembangan sedang berjalan), kanker kolorektal (satu perangkat medis disetujui, beberapa program pengembangan berjalan), program pengembangan awal di kepala dan leher, ginekologi (serviks dan endometrial), dan paru-paru. 

“Untuk dua software devices yang disetujui, kita sudah menerima di UK dan Uni Eropa, dan sedang proses di FDA. Untuk negara lain kita masih melihat kesempatan juga juga,” ujar Pandu. 

 
Panakeia berharap bisa mengekspansi rangkap kerja mereka. Panakeia ingin komunitas onkologi dan patologi mengadopsi teknologi generasi berikutnya untuk biomarker profiling Panakeia di ranah klinis.
 
 

Panakeia berharap bisa mengekspansi rangkap kerja mereka. Panakeia ingin komunitas onkologi dan patologi mengadopsi teknologi generasi berikutnya untuk biomarker profiling Panakeia di ranah klinis.

“Jadi kita berharap ini bisa menjadi momen seperti toko brick and mortar dan Amazon, di mana kita memberikan teknologi generasi baru yang mengubah cara berpikir kita tentang diagnosa kanker,” kata Pandu.

Ayah Pandu, Nidzom, bersyukur dan bangga masuknya Pandu ke dalam daftar Forbes 30 Under 30-Eropa kategori Kesehatan dan Sains. Menurut Nidzom, pencapaian anaknya bukan hanya untuk status, keilmuan, maupun nilai ekonomi.

Ia berharap apa yang diusahakan anaknya benar-benar bermanfaat dalam membantu pengobatan kanker, yang untuk saat ini sudah diaplikasikan untuk kanker payudara. “Dan kami berharap masalah serupa untuk semua kanker bisa ditemukan pemecahannya sebagaimana program lanjutan yang dia canangkan, semoga,” kata Nidzom. 


Cerita Jenazah di Tempat Sampah

para tokoh setempat kemudian menunjukkan lokasi tempat pembuangan jenazah. Orang-orang mengikuti Nabi Musa dari belakang.

SELENGKAPNYA

Masjid Al Rawdah, Pesona New Gothic Nan Unik

Bicara tentang toleransi, lokasi Masjid Al Rawdah menyimbolkan hal itu.

SELENGKAPNYA

Panggilan Hati Claudia Theresia untuk Berislam

Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?

SELENGKAPNYA
×