Seorang mualaf Claudia Theresia menuturkan kisah keislamannya. | DOK CUPLIKAN YOUTUBE NGAJI CERDAS

Oase

16 May 2022, 03:49 WIB

Panggilan Hati Claudia Theresia untuk Berislam

Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?

OLEH RATNA AJENG TEJOMUKTI

 

 

 

Hidayah dapat menyapa siapa saja yang dikehendaki Allah Ta’ala. Mereka mungkin saja berasal dari lingkungan yang jauh dari Islam. Bahkan, ada pula yang sempat menaruh kecurigaan terhadap agama tauhid. Namun, ketika cahaya petunjuk Illahi telah menyinari hati, mereka menjadi Muslim dengan keimanan yang kuat.

Salah seorang mualaf yang merasakan manisnya iman adalah Claudia Theresia. Perempuan kelahiran Surabaya, Jawa Timur, itu menuturkan kisahnya dalam menemukan Islam kepada saluran YouTube NgajiCerdas beberapa waktu lalu.

Menurut dia, ada salah satu sosok terdekat dalam hidupnya yang pertama kali membuatnya kenal agama tauhid. Figur yang dimaksud adalah neneknya.

Sejak masih bayi, Claudia Theresia sudah tinggal bersama dengan sang nenek di Kota Pahlawan. Darinya, wanita itu mendapatkan kasih sayang dan keteladanan. Adapun ayahnya menikah lagi dengan seorang perempuan di Jakarta.

Bagaimanapun, Claudia kecil mengikuti agama ayahnya yang non-Muslim. Kepercayaan bapaknya itu memang berbeda dengan iman sang nenek yang memeluk Islam. Walau di rumah secara sekilas tidak terdapat perbedaan agama. Sebab, belakangan mualaf ini mengetahui bahwa neneknya menyembunyikan keislaman.

 
Kepercayaan bapaknya itu memang berbeda dengan iman sang nenek yang memeluk Islam.
 
 

Hal itu bukanlah masalah. Claudia kecil tetap tumbuh dengan didikan dan kasih sayang. Neneknya juga tidak pernah membujuk atau memaksakan Islam kepadanya. Yang diutamakannya adalah sang putri dapat menjadi anak yang baik hati, penyayang, dan cerdas.

Bagi Claudia, kehangatan yang diberikan sang nenek memberikan kesan tersendiri. Tidak hanya itu, apa-apa yang dilakukan perempuan lansia itu juga menarik perhatiannya. Termasuk di antaranya adalah cara beribadah.

Sebagai seorang Muslimah, neneknya rutin mendirikan shalat. Lima kali dalam sehari amalan itu dilakukannya. Sering kali, ibadah tersebut dilakukannya sendirian di dalam kamar. Dan, tidak jarang Claudia kecil memerhatikannya dari jauh.

Karena penasaran, anak perempuan ini memintanya untuk menjelaskan perihal shalat, wudhu, atau mengaji Alquran. Nenek pun menerangkan kepadanya tentang semua hal itu. Dari sana, mulai timbul simpatinya kepada Islam.

 
Karena penasaran, dia memintanya untuk menjelaskan perihal shalat, wudhu, atau mengaji Alquran. Nenek pun menerangkan kepadanya.
 
 

Lama kelamaan, putri ini menyimpan keinginan dalam hatinya untuk menjadi seorang Muslimah. Kehendaknya untuk mengikuti jejak Nenek terhalang oleh rasa segan terhadap sang ayah. Sebab, bapaknya itu merupakan tulang punggung keluarga yang memenuhi kebutuhan sehari-hari walaupun tinggal jauh di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian, Nenek meninggal dunia. Hingga kini, Claudia tidak akan bisa melupakan kata-kata terakhir perempuan yang amat dikasihinya itu. Sebelum ajal menjemput, neneknya menyampaikan keinginan untuk bisa melihat Claudia berislam dan berhijab.

“Air mata saya berlinang. Apakah ini petunjuk dari Allah untuk menguatkan tekad saya berhijrah?” tanyanya retoris dalam sesi berbagi pengalaman di akun YouTube, seperti dilihat Republika baru-baru ini.

Sepeninggalan almarhumah Nenek, Claudia merasa tantangan hidupnya kian berat. Pada 2017, ia lulus SMA. Tidak memiliki banyak pilihan, ia pun tinggal bersama dengan ayah kandung dan ibu tirinya di Ibu Kota.

Walaupun sudah meninggalkan Surabaya, pikirannya masih terpaut pada pesan sang nenek. Sementara itu, hatinya juga dirundung kegalauan. Sebab, sejujurnya Claudia sudah tertarik untuk memeluk Islam. Namun, keinginannya itu tidak berani diungkapkannya.

 
Hatinya juga dirundung kegalauan. Sebab, sejujurnya Claudia sudah tertarik untuk memeluk Islam.
 
 

Di Jakarta, ayahnya merupakan seorang pemuka agama non-Islam. Beberapa kali, bapaknya itu menampakkan ketidaksukaan terhadap agama tauhid. Bahkan, stigma-stigma tentang Muslimin juga diutarakan lelaki ini di rumah.

Selama di kota tersebut, Claudia berupaya mencari pencaharian secara mandiri. Atas saran seorang kawan, ia pun menemukan peruntungan dengan menjadi pemeran figuran di beberapa drama televisi.

Beberapa rumah produksi sering mengajaknya untuk syuting. Di lokasi pengambilan gambar, Claudia kemudian berkenalan dengan seorang pria yang sama-sama seorang pemeran figuran.

Pada kesan awal, lelaki itu tampak pendiam karena jarang terlihat mengobrol lama dengan siapapun. Claudia lalu memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan.

Albert Ray Myers, demikian nama pria tersebut, lama kelamaan menjadi akrab dengan Claudia. Wanita itu juga mulai terbuka untuk mengungkapkan beberapa urusan pribadinya. Yakni, keinginan untuk memeluk Islam.

 
Tanpa diduga, ternyata Albert pun memiliki niat yang sama untuk berislam.
 
 

Tanpa diduga, ternyata Albert pun memiliki niat yang sama untuk berislam. Keduanya kemudian saling bercerita alasan di balik ketertarikan terhadap agama ini.

Lelaki itu menuturkan, keluarganya terdiri atas beberapa pemeluk agama. Dengan latar yang majemuk itu, mereka cenderung terbuka dengan perbedaan serta membebaskan siapapun untuk memilih kepercayaan. Keadaan demikian tidak dialami Claudia.

Albert pun menyampaikan keinginan untuk bersyahadat kepada ibu dan neneknya. Saat itu ayahnya sudah menetap di Amerika usai berpisah dengan ibunya.

Albert juga menceritakan kisah Claudia yang juga ingin bersyahadat. Setelah mendengar kisahnya, ibu dan nenek Albert mencarikan tempat bagi wanita itu untuk mengikrarkan keislaman. Mereka hanya memfasilitasi, tanpa sekali pun berupaya membujuk atau memengaruhi. Lagipula, sejak awal Claudia menunjukkan niat berislam, bahkan sebelum mengenal temannya itu.

Albert mengajak Claudia untuk bersyahadat di Mualaf Center Jakarta. Waktu itu bertepatan dengan awal Ramadhan tahun 2019. Setelah resmi menjadi Muslimah, rasa haru menyelimuti diri perempuan tersebut.

Hidup baru

Beberapa lama kemudian, Albert melamar Claudia. Keduanya lantas menikah. Sempat terjadi ketidaksetujuan. Sebab, pihak keluarga wanita itu belakangan mengetahui bahwa lelaki tersebut mengantarkannya ke sebuah masjid untuk bersyahadat.

“Awalnya, saat keluarga saya mengenal Albert, mereka menyambut senang. Namun begitu tahu saya dan dia memutuskan untuk menjadi mualaf, orang tua saya justru menuduh Albert yang memengaruhi,” kata dia.

Padahal, masing-masing mereka memiliki latar tersendiri dalam memilih Islam sebagai kepercayaan. Akan tetapi, orang tua Claudia tetap bersikeras. Mereka lebih menentang lagi begitu melihat Muslimah tersebut berhijab. Usai bersyahadat, ia memang memutuskan untuk segera menutup aurat secara menyeluruh.

 
Namun begitu tahu saya dan dia memutuskan untuk menjadi mualaf, orang tua saya justru menuduh Albert yang memengaruhi
 
 

Hal ini mendapat tentangan keras dari keluarga Claudia bahkan dia diusir dari rumah. Bersyukur, Albert yang menjadi calon suami saat itu mendukungnya.

Lelaki itu mencarikan indekos syariah yang hanya dapat dihuni perempuan. Pemilik kos tersebut pun memahami duduk persoalan sehingga menerima Muslimah tersebut dengan baik. Bahkan, induk semang kemudian membantu Claudia untuk menemukan seorang ustazah guna mengajarkannya shalat dan mengaji Alquran.

Sekitar dua bulan berikutnya, Claudia dan Albert memantapkan hati menuju jenjang pelaminan. Keduanya lalu menikah pada Juni 2019. Setelah resmi menjadi sepasang suami istri, mereka sempat tinggal serumah dengan ibu dan nenek Albert.

Atas hidayah Allah SWT, keduanya anggota keluarga Albert itu pada akhirnya memeluk Islam. Seisi rumah sering mengisi momen akhir pekan dengan mengikuti kajian keislaman di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Inilah fase baru dalam kehidupan Claudia. Bukan hanya dirinya yang menjadi pemeluk Islam. Ia pun kini sudah menjadi seorang istri. Harapannya, keluarganya menjadi sakinah dan selalui dinaungi ridha Allah SWT.

 
Inilah fase baru dalam kehidupan Claudia. Bukan hanya dirinya yang menjadi pemeluk Islam. Ia pun kini sudah menjadi seorang istri.
 
 

Menurut dia, mengingat Tuhan adalah cara untuk menjalani hidup dengan ketenteraman hati. Sebagai contoh, sejak pandemi Covid-19 melanda Tanah Air suaminya sempat terkena musibah. Perusahaan tempatnya bekerja gulung tikar. Bahkan, Albert tidak memperoleh pesangon usai mengalami pemutusan hubungan kerja.

Keadaan ekonomi yang jatuh tidak menyurutkan semangat pasangan ini. Claudia pun selalu mendukung suaminya. Keduanya lantas berikhtiar untuk membuka usaha sendiri. Bisnis kuliner menjadi garapan mereka. Walaupun belum besar, usahanya itu kian hari semakin tumbuh.

Satu lagi ujian yang juga berat dirasakannya, yakni tatkala kehilangan anak pertama. Itulah duka sebagai orang tua. Sejak kejadian itu, Claudia sempat merasa trauma untuk hamil lagi. Ada kekhawatiran bahwa dirinya akan kembali mengalami kesedihan yang sama.

photo
Seorang mualaf Claudia Theresia menuturkan kisah keislamannya. - (Youtube)

Dengan tenang, sang suami terus menyemangati Claudia. Ia juga berbicara dengan santun kepada keluarga Claudia agar seharusnya menjaga ucapan. Ya, pihak keluarga tersebut sampai hati untuk menyebut bahwa wafatnya sang bayi adalah sebagai “tumbal” akibat keduanya berislam.

Claudia teringat ceramah seorang ulama mengenai dengan firman Allah, yakni surah al-Baqarah ayat 286. Artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ia memaknai ayat suci itu sebagai penyemangat dan optimisme.

Benar saja, beberapa waktu kemudian Claudia hamil. Kandungannya saat ini berusia trimester akhir. Ia berharap, bayinya kelak akan lahir dengan sempurna dan tumbuh besar menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

Claudia dan suami juga berharap dapat terus menambah ilmu agar dapat mendidik buah hati sesuai dengan ajaran Islam. Satu harapannya adalah, keluarganya dapat menerima dengan tangan terbuka keislamannya yang datang dari hati nan ikhlas mencari ridha Ilahi.


Bolehkah Shalat Gaib yang Lokasi Jenazahnya Dekat?

Di antara syarat menshalati jenazah secara hadir adalah adalah harus berada di dalam satu tempat.

SELENGKAPNYA

Ibnu Hajar Sang Ulama Pengembara, Penulis Prolifik

Ibnu Hajar al-Asqalani memiliki kecintaan yang tinggi pada ilmu-ilmu agama.

SELENGKAPNYA

Biografi Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar dipandang luas sebagai syekh-nya para ulama hadis dan fikih.

SELENGKAPNYA
×