Pekerja membuat replika robot di Er Studio Art, Bantul, Yogyakarta, Rabu (14/10). Pandemi Covid-19 menjadikan awal inovasi bagi Er Studio Art. Awalnya bergerak di dekorasi panggung dan seni lukis kini merambah ke pembuatan replika robot. Penjualan robot d | Wihdan Hidayat / Republika

Inovasi

23 May 2022, 09:41 WIB

Kemeriahan Pasar Robotika 

Robot rekondisi dan daur ulang juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. 

Cerita tentang perkembangan teknologi di dunia robotika, bisa ditarik jauh ke belakang. Pada 1516, Leonardo da Vinci telah merancang sekaligus membuat sebuah robot singa untuk raja Prancis, Francis I.

Singa tersebut, dapat berjalan sendiri, saat diketuk dengan sebuah tongkat "ajaib". Tak hanya itu, singa tersebut juga akan membuka dadanya kemudian memperlihatkan "bunga bakung" atau fleur de lis yang merupakan lambang kerajaan Prancis saat itu.

Kini, sentuhan kecerdasan buatan (AI), mesin belajar, big data, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari pengembangan robot komersial. Pabrik-pabrik pembuat robot pun, berdiri megah, dan melahirkan robot yang ditujukan untuk berbagai keperlukan. 

Salah satunya, adalah pabrik robot Engineerd Art yang telah berdiri sejak 2005. Perusahaan robot tersebut berada di Falmouth yang merupakan kota nelayan dengan populasi sedikit lebih dari 20 ribu, dan terletak di ujung barat daya negara di daerah Cornwall, Inggris.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Engineered Arts (@engineered_arts)

Sejauh ini, Engineered Arts telah membuat sekitar setengah lusin robot. Namun model terbarunya, Ameca, merupakan produknya yang paling tercanggih. 

Dikutip dari The Verge, pekan lalu, kantor pusat perusahaan, memiliki nuansa bengkel pengrajin yang tenang dan banyak udara masuk. Ke mana pun seseorang pergi di dalam gedung, ada anggota tubuh mekanis, wajah silikon, serta kepala tanpa tubuh yang terbesar di meja dan rak. 

CEO Engineered Arts Will Jackson mengungkapkan, menjelajahi tempat itu terasa seperti berada di balik layar serial televisi Westworld. “Awalnya menakutkan melihat bentuk manusia dipecah menjadi komponen penyusunannya, tetapi akan segera menjadi terbiasa dengan pemandangan itu,” ujarnya. 

Engineered Arts tidak membangun robot mereka sepenuhnya dari awal. Tetapi keterlibatan perusahaan dalam setiap bagian konstruksi robot, dimulai dari mencetak permukaan karet hingga memprogram otak robot. 

Salah satu robot yang ada di bengkel, nampak dapat bergerak secara otomatis, ia juga bisa mengerutkan pipinya, mengangkat alisnya, lalu meringis dan berkedip. "Alasan membuat robot yang terlihat seperti manusia adalah untuk berinteraksi dengan manusia. Wajah manusia adalah alat komunikasi yang sangat tinggi, dan itulah mengapa kami membuat robot ekspresif ini," ungkap Jackson. 

Robot yang diberi nama Ameca ini, sempat dipamerkan pada ajang Consumer Electronics Show (CES) 2022, Las Vegas, Amerika Serikat (AS), Januari 2022. Ia memiliki setidaknya 17 motor untuk mengatur gestur dan ekspresi wajahnya. 

Tetapi mesin AI-nya juga memiliki dukungan lain. Jackson menjelaskan, sistem AI yang dimiliki Ameca bersifat hibrida. Karena, ada seseorang lain yang mendengar dan berbicara melalui robot ini dari tempat lain. Ekspresinya juga dikontrol oleh operator dan berbasis pada sistem kamera. 

Daur Ulang

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by OK Grade (@okgrade)

Besarnya industri robot saat ini, juga mendorong pertumbuhan pasar robot daur ulang. Studi yang dilakukan perusahaan data dan analitik asal India, Astute Analytica, menunjukkan, pertumbuhan yang luar biasa dalam pendapatan pasar untuk pasar robot bekas dan rekondisi global. Tepatnya, dari 1,7 juta dolar Amerika Serikat (AS) pada 2021 menjadi  3,6 juta dolar AS pada  2028. 

Pasar juga diperkirakan akan tumbuh sekitar 11,1 persen selama periode 2022-2028. Dikutip dari laman resmi Astute Analytica, robot yang diperbaharui terus mendapatkan popularitas yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Hal ini, disebabkan semakin banyak perusahaan internasional dan regional yang membuat robot industri, kemudian digunakan di berbagai industri untuk aplikasi seperti penanganan material dan logistik. Namun, biasanya robot bekas dan yang diperbarui, akan diperkuat dengan mekanisme dan perangkat tambahan yang berbeda seperti GPS, sistem penglihatan, dan sensor canggih.

Salah satu robot daur ulang yang terkenal, adalah Daisy dari Apple. Daisy merupakan Daisy adalah robot yang ditugaskan untuk mendaur ulang produk Apple, khususnya Iphone yang masuk dalam program trade in.

Robot milik Apple ini memiliki fungsi krusial untuk membuat material Iphone dapat digunakan kembali dan tidak merusak lingkungan. “Kami telah membuat kemajuan nyata dalam pekerjaan untuk mengatasi krisis iklim dan untuk suatu hari membuat produk tanpa mengambil apa pun dari bumi,” kata Lisa Jackson selaku wakil presiden lingkungan, kebijakan, dan inisiatif sosial Apple Inc. 

Dikutip dari Apple Newsroom, menurutnya, Daisy kini punya peran lebih dari sekadar robot yang membantu proses daur ulang Iphone. Daisy mampu membongkar 200 Iphone per jam. Ia juga mampu memproses daur ulang satu juta perangkat pada 2017. 

Dengan kemampuan ini, teknologi Daisy akan dikembangkan tidak sebatas untuk mendaur ulang perangkat saja. Beberapa perusahaan otomotif dikabarkan tertarik untuk mengadaptasi teknologi yang dimiliki Daisy. 

 
Kami telah membuat kemajuan nyata dalam pekerjaan untuk mengatasi krisis iklim. 
LISA JACKSON, Wakil Presiden Lingkungan, Kebijakan, dan Inisiatif sosial Apple Inc.
 
 

  ';

Sesudah Ramadhan Berlalu

Syawal yang datang sesudah Ramadhan hendaknya tetap menjadi momen perbaikan ketakwaan.

SELENGKAPNYA

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

SELENGKAPNYA

Menghapus Kemiskinan Ekstrem

Pandemi telah melonjakkan permasalahan kemiskinan, jenis, dan dimensinya.

SELENGKAPNYA
×