Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

16 May 2022, 03:02 WIB

Sarinah, Revolusi Fisik, dan Lebaran 1966

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Senin, 13 Desember 1965, pemerintah mengumumkan revaluasi mata uang rupiah dari Rp 1.000 menjadi Rp 1. Esok harinya lantas dikenal sebagai “Selasa Gila”.

Masyarakat resah. Hari itu, harga barang-barang kebutuhan naik minimal 25 persen. Pada September 1965, nilai dolar AS di pasar gelap mencapai Rp 9.000. Nilai tukar resmi Rp 5.000 per dolar.

Banyak toko yang memilih tutup, tapi polisi bertindak. Memaksa pemilik toko tetap buka. Kain tetrex yang pada hari Senin masih berharga Rp 45 ribu per meter, pada Selasa naik menjadi Rp 80 ribu per meter.

Harga beras semula Rp 1.800 per liter, naik menjadi Rp 6.000 per liter. Emas yang semula berharga Rp 40 ribu per gram, naik menjadi Rp 100 ribu per gram. Pada malam Lebaran 1966, toko-toko di pusat perbelanjaan Jakarta, Pintu Kecil, sudah kehabisan barang. Lebaran jatuh pada 23 Januari 1966.

 
Harga beras semula Rp 1.800 per liter, naik menjadi Rp 6.000 per liter. Emas yang semula berharga Rp 40 ribu per gram, naik menjadi Rp 100 ribu per gram.
 
 

Orang-orang antre di bank untuk menyetorkan uang. Saldo tabungan/deposito mereka akan dipotong 10 persen untuk sumbangan revolusi, termasuk saldo yang sudah ada sebelum 13 Desember 1965. Saat itu jumlah uang beredar mencapai Rp 1.800 miliar, tetapi sebanyak Rp 1.200 miliar disimpan di rumah.

Pada “Selasa Gila” itu, Sarinah meraup omzet Rp 30 juta dalam waktu 2,5 jam. Pukul 11.00-13.00 manajemen Sarinah menutup toko untuk melakukan pemesanan barang lalu menaikkan harga jual 25 persen.

Baru lima bulan dibuka, Sarinah semula didedikasikan untuk menjadi stabilisator harga. Harga rokok Virginia di kios kaki lima harganya Rp 25 per bungkus, di Sarinah dijual dengan harga Rp 17,5 per bungkus.

Selama lima bulan dibuka, baru empat lantai yang dioperasikan dari rencana 14 lantai. Karena kekurangan modal, lantai 5-14 disetop pembangunannya. Lantai-lantai lain itu akan digunakan untuk restoran, bioskop, salon kecantikan, dan kelab makan malam. Karena kesulitan keuangan itu, menjelang Lebaran 1966 Sarinah terpaksa harus menjual baja tulangan beton untuk menggaji karyawannya.

 
Karena kesulitan keuangan itu, menjelang Lebaran 1966 Sarinah terpaksa harus menjual baja tulangan beton untuk menggaji karyawannya.
 
 

Empat lantai yang sudah dibuka itu terdiri atas lantai bawah tanah, lantai dasar, lantai pertama, dan lantai kedua. Lantai bawah digunakan untuk menjual sayuran segar, daging, ikan, dan bahan makanan lainnya.

Sedangkan, lantai dasar dipenuhi kios barang-barang rumah tangga dan kosmetik. Lantai pertama untuk toko tekstil, lantai kedua untuk alat tulis dan perlengkapan kantor.

Di antara toko-toko yang ada di lantai dasar, ada toko peralatan makan. Sebelum ada revaluasi rupiah, harga paket peralatan makan itu “hanya” Rp 1,8 juta. Namun, setelah ada revaluasi, harga mendadak naik menjadi Rp 2,5 juta, dan tetap dibeli orang.

Toserba Sarinah merupakan obsesi Sukarno dalam melakukan revolusi fisik seusai revolusi kemerdekaan. Ada Tokyo Club yang bersedia memberi pinjaman untuk proyek-proyek revolusi fisik itu. Tak hanya Sarinah.

Mulai dibangun April 1963, pusat perbelanjaan Sarinah ditujukan untuk menyaingi toko-toko Cina yang ada di Jakarta. Selain membangun Sarinah, Sukarno melakukan revolusi fisik dengan membangun ulang Pasar Glodok dan Pasar Senen (1965).

Sebelumnya, Sukarno membangun Hotel Indonesia yang menjadi hotel mewah di Asia dan orang asing menyewa kamarnya dengan dolar (diresmikan Agustus 1962 dengan biaya pinjaman dari Jepang), Gelanggang Olahraga (mulai Februari 1960), Monumen Nasional (mulai Agustus 1961), dan Gedung Conefo di Senayan (mulai April 1965) untuk konferensi internasional negara-negara yang baru merdeka.

Kini gedung itu dikenal sebagai Gedung DPR/MPR. Proyek-proyek ini memunculkan julukan untuk Sukarno sebagai “arsitek tertinggi”.

Proyek gedung Conefo disebut-sebut sebagai proyek yang paling menakjubkan di Asia-Tenggara. Untuk rencana Conefo, Sukarno juga diusulkan mendapat gelar “arsitek tertinggi perdamaian dunia”. Conefo dicetuskan Sukarno di acara Peringatan 10 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) setelah batalnya Konferensi Asia Afrika Kedua di Aljazair.

Cina mendukungnya sekaligus siap membantu proyek pembangunan gedung Conefo itu. Maka, pekerja-pekerja dari Cina bekerja siang malam mengerjakan proyek yang sempat mendapat serangan protes itu.

 
Proyek-proyek revolusi fisik dinilai sebagai proyek kehancuran ekonomi Indonesia, karena proyek megah itu tidak berguna secara langsung untuk kehidupan orang banyak.
 
 

Proyek-proyek revolusi fisik dinilai sebagai proyek kehancuran ekonomi Indonesia, karena proyek megah itu tidak berguna secara langsung untuk kehidupan orang banyak. Penentang proyek segera mendapat julukan kontrarevolusioner.

Sarinah, meski diresmikan dengan empat lantai yang baru jadi, ternyata mampu menarik minat pengunjung. Warga Jakarta mendatangi Sarinah untuk menjajal eskalator yang ada di dalamnya dan mengagumi barang-barang mahal yang dijual di sana. Berkunjung tapi tidak membeli.

Namun, akhirnya mereka bosan juga. Sarinah pun kemudian sepi pada 1967, sehingga 2.000 pelayan tokonya lebih banyak berbincang sesama mereka sambil mengawasi satu-dua pengunjung.

Ketika Ali Sadikin menjadi gubernur DKI Jakarta, ia membawa angin segar untuk melanjutkan proyek revolusi fisik Sukarno di Jakarta. Ia menawarkan pembangunan kasino di Sarinah, sehingga mendatangkan investor.

Jika kasino ini sudah berjalan, Jakarta akan menerima 35 persen dari keuntungannya. Dengan tangan besinya, Ali Sadikin menjalankan berbagai proyek fisik di Jakarta dengan sumber biaya dari kasino yang ada di Jakarta.

Judi olahraga pun merebak. Bahkan, sempat muncul ide membangun kompleks kasino di salah satu pulau, tapi ramai-ramai ditolak karena tak sesuai dengan moral bangsa.

 
Ali Sadikin harus bisa membuat orang-orang luar negeri yang berkunjung ke Indonesia lebih lama menginap di Jakarta. Selain jalan-jalan yang diaspal, hotel-hotel juga dibangun
 
 

Ali Sadikin harus bisa membuat orang-orang luar negeri yang berkunjung ke Indonesia lebih lama menginap di Jakarta. Selain jalan-jalan yang diaspal, hotel-hotel juga dibangun. Transportasi juga diperbaiki. Anggaran tahunan Jakarta mencapai Rp 10 miliar pada 1970, pemasukan dari kasino mencapai Rp 100 juta per bulan.

Pada 1967 itu, Sarinah bisa berdiri dengan delapan lantai, tapi keberadaannya tak bisa mengawal tujuan utamanya: stabilisasi harga dan menjual produk Indonesia. Nyatanya, pada 1967 itu, seperlima barang yang dijual di Sarinah diimpor dari Jepang dan negara lain. Harganya pun lebih tinggi dari toko-toko lain. Sarinah harus ikut serta dalam fluktuasi inflasi.

“Sangat penting untuk menyadari ironi pahit dari kenyataan bahwa sebagian besar orang kaya Cina kehilangan jutaan rupiah di kasino Sarinah, sementara seorang anak lelaki kesepian penuh luka mencoba menjual majalah The Economist di depan hotel prestisius, Hotel Indonesia,” tulis koran Belanda, Tubantia, edisi 13 Februari 1969.

Pada 1988, Presiden Soeharto merenovasi Sarinah. Papan-papan ucapan terima kasih kepada Presiden Soeharto yang telah merenovasi Sarinah dipasang di semua pintu masuk.


Lanjutkan Kebaikan Ramadhan

Dampaknya besar jika seorang Muslim melanjutkan rutinitas kebaikan selama Ramadhan.

SELENGKAPNYA

Mudik demi Orang Tua

Menjaga perasaan orang tua adalah salah satu bentuk ibadah.

SELENGKAPNYA

Pejuang Ramadhan, Para Pemenang Sejati

Idul Fitri menjadi momentum kemenangan para pejuang Ramadhan.

SELENGKAPNYA
×