Sejumlah warga berfoto dengan dekorasi bertemakan Idul Fitri di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Selasa (26/4/2022). Dekorasi berbentuk masjid, ketupat dan bedug yang dihiasi oleh tanaman tersebut dalam rangka menyambut Idul Fitri 1433 Hijriah. Republika/Put | Republika/Putra M. Akbar

Laporan Utama

15 May 2022, 05:30 WIB

Lanjutkan Kebaikan Ramadhan

Dampaknya besar jika seorang Muslim melanjutkan rutinitas kebaikan selama Ramadhan.

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

 

Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa, umat Islam bergembira merayakan Idul Fitri 1443 H. Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga pimpinan Majelis Rasulullah, Habib Nabiel Al Musawa mengatakan, Idul Fitri memiliki dua makna. Pertama, dapat  kembali berbuka. Maksudnya, kembali makan dan minum seperti biasanya. Makna lainnya yakni  kembali pada fitrah atau suci.

Hal ini menurut Habib Nabiel, dikuatkan dengan sejumlah hadits yang menjelaskan tentang orang yang berpuasa Ramadhan atau yang melakukan qiyamul lail saat Ramadhan, akan dihapuskan dosa-dosanya. Karena itu, orang yang diampuni dosa-dosanya berarti kembali pada fitrah atau kesucian.

Habib Nabiel menjelaskan bahwa tradisi saling memaafkan (halal bihalal) seperti yang dilakukan umat Islam di Indonesia merupakan hal yang baik. Menurut dia, saling memaafkan merupakan bentuk ibadah horizontal (habluminannas).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

"Ibadah habluminallah dan habluminannas itu seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Bagus shalatnya, puasanya, tapi tidak bagus sama orang lain, tidak minta maaf sama orang lain, itu salah. Karena dosa kepada manusia itu tak bisa dimaafkan tanpa kita minta maaf. Maka ketika Lebaran tidak ada salahnya kita mohon maaf lahir dan batin," kata Habib Nabiel kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Habib Nabiel juga mengajak umat agar tidak mempersoalkan tentang doa-doa atau pun ucapan Lebaran. Menurut Habib Nabiel, doa seperti "Taqabbalallahu minna wa minkum" atau doa ja’alanallah minal aidin wal faizin atau ucapan mohon maaf lahir batin adalah doa dan ucapan yang memiliki makna yang baik di antara sesama Muslim. 

photo
Sejumlah warga lanjut usia (lansia) membaca Alquran saat mengikuti Pesantren Ramadhan Lansia di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Rabu (6/4/2022). Pesantren kilat yang digelar oleh Majelis Taklim Pusdai Jawa Barat itu diikuti oleh puluhan lansia untuk mengisi waktu selama Ramadhan dengan belajar mengaji dan wawasan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Pakar tafsir Alquran yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bayt Alquran-Pusat Ustaz Syahrullah Iskandar mengatakan, umat Islam telah ditimpa agar menjadi insan yang bersih secara spiritual dan peka terhadap sesama selama sebulan penuh.

Wasekjen Pengurus Besar Darud Da'wah wal Irsyad (PB DDI) ini menjelaskan, setiap Muslim telah dididik agar bisa mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan antara amarah dan nafsu serta melatih kedisiplinan dan bertanggung jawab. Karena itu, Ustaz Syahrullah  mengatakan, orang yang meraih berkah Ramadhan adalah mereka yang meningkat kesalehan individu dan sosialnya setelah Ramadhan. 

photo
Seorang balita mengikuti orang tuanya saat berdoa pada pelaksanaan salat Idul Fitri 1443 H di Masjid Nuurusysyifaa’ Sunter Jaya, Jakarta, Senin (2/5/22). Meski adanya himbauan jamaah untuk tetap memakai masker, pelaksanaan shalat Idul Fitri di masjid ini kembali normal setelah 2 tahun dilanda pandemic Covid 19. Foto: Darmawan/Republika. - (REPUBLIKA)

"Ramadhan hanya sebulan, tetapi implikasinya harus terpatri di bulan-bulan setelahnya. Justru, berkah Ramadhan bagi seseorang akan lebih nyata terlihat di bulan-bulan setelahnya. Kesalehan individu semakin meningkat secara kualitas dan kuantitas, demikian halnya kesalehan sosial semakin menaik dan berefek kebaikannya pada banyak orang," kata Ustaz Syahrullah.

Ustaz Syahrullah mengatakan, Idul Fitri mengandung makna filosofis yakni kembalinya nilai-nilai kemanusiaan dan kesucian dalam sanubari seorang Muslim yang menyertai kesehariannya. Mereka yang beridul fitri berarti menjadi pribadi cerdas yakni mampu menguasai dirinya dan senantiasa berbuat untuk kepentingan ukhrawi. Segala perbuatan yang dilakukan selalu disertai pertimbangan ukhrawi sehingga terhindar dari merugikan orang lain.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas mengatakan bahwa inti ibadah puasa yang telah dilalui umat Islam adalah untuk dapat mengendalikan diri dalam dalam menjalankan segala ketentuan Allah dan Rasul-Nya. Dia menjelaskan, buah dari ibadah puasa adalah ketakwaan.

Sebab itu, menurut Buya Anwar Abbas. mereka yang menjalani puasa  sebulan penuh  sehingga menjadikan pribadi yang bertakwa. Dengan menjadi pribadi yang bertakwa, seseorang akan dapat menjalani hidup dengan selamat dan beruntung di dunia dan di akhirat. 

photo
Warga melakukan halal bihalal Idul Fitri 1442 H secara tatap muka di Gang Karya Laksana, Tamansari, Kota Bandung, Kamis (13/5). Sejumlah warga tetap melakukan halal bihalal Idul Fitri 1442 H baik secara tatap muka maupun virtual untuk menjaga tali silaturahmi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan guna mencegah penyebaran Covid-19. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Buya Anwar mengatakan,  Ramadhan yang telah dilalui hendaknya dapat mendorong setiap individu agar menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik. Artinya, seorang Muslim seharusnya tidak sekadar memikirkan kepentingan diri sendiri, tapi juga berkontribusi demi kepentingan serta kemaslahatan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

"Kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang benar-benar bisa menjalani dan memahami serta menghayati nilai-nilai yang ada dalam ibadah puasa Ramadhan tersebut secara baik maka dia tentu akan bisa menjadikan dirinya menjadi sosok anak manusia yang gemar melakukan dan mendorong dirinya dan orang lain untuk berbuat yang makruf dan mencegah dirinya serta orang lain dari berbuat munkar," kata dia.

Apabila seusai  Ramadhan setiap Muslim mampu menerapkan nilai-nilai yang ada selama dia menjalankan ibadah puasa, Buya Anwar menjelaskan, dampaknya akan besar pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Kehidupan  akan lebih baik karena akan tercipta suasana yang aman, tentram, damai, dan bahagia.

Orang yang Taatnya Bertambah Bertemu Hari Kemenangan

photo
KH Mustain Nasoha - (Istimewa)

 

Umat Islam baru saja selesai menunaikan ibadah puasa dan merayakan Idul Fitri 1443 H. Masih ada sebelas bulan lain yang harus kita hadapi sebelum kembali kepada Ramadhan. Lantas, bagaimana semestinya seorang Muslim menjalani kehidupan setelah Idul Fitri?

Wartawan Republika Andrian Saputra mewawancarai Direktur Pusat Studi Konsultasi dan Hukum Islam UIN Raden Mas Said Surakarta yang juga pengajar Pondok Pesantren Al Muayyad Mangkuyudan, KH Mustain Nasoha. Berikut kutipannya

Apa makna Idul Fitri?

Idul fitri merupakan puncak dari semua pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan. Kalau kita ambil fiil madi nya dari aada ya'udu artinya kembali. Sedang kata fitrah bisa bermakna kembali kepada kesucian atau bisa bermakna berbuka puasa. 

Kalau dari kata berbuka puasa maka mengikuti sighat masdar aftara yuftiru. Nabi menyampaikan dalam hadits yang diriwayatkan Anas bin Malik bahwa tidak sekalipun nabi Muhammad itu pergi pada hari Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.

Hari raya itu merupakan sesuatu yang akan kembali setiap tahun. Atau disebutkan juga, Allah akan mengembalikan kebaikan, rasa bahagia pada hamba-Nya. Terlebih karena Idul Fitri itu hari di mana dosa kita diampuni Allah. 

Sayidina Ali berkata, "orang yang kembali pada kesucian itu bukan yang bajunya baru tapi yang taat nya bertambah adalah yang bertemu dengan hari kemenangan". Idul Fitri itu hari di mana dosa diampuni Allah. Maka di hari idul fitri itu dianjurkan untuk senantiasa saling memberi maaf. 

Apakah Tanda orang yang berhasil meraih kemenangan pasca Ramadhan?

Dalam kitab Hasyiyah Syekh Zadah ala Tafsir Baidhowi dijelaskan tanda orang yang meriah kemenangan Ramadhan. Pertama semakin semangat untuk berbuat baik kepada orang tua. Kedua, meninggalkan melakukan aniaya. Dia sangat punya hati belas kasihan, rahmah, mencintai orang lain sebagaimana atau lebih dari pada mencintai dirinya sendiri.

Ketiga, orang tersebut tidak melakukan ghibah. Keempat, dia cenderung semakin tidak mencintai dunia, artinya semakin rindu kepada akhirat, rindu pada amal saleh. Kelima, semakin banyak zikirnya kepada Allah SWT.

Keenam, semakin sabar ketika mendapat musibah dari Allah. Ketujuh, semakin menjaga sucinya hati dan sucinya zahir. Kedelapan, semakin semangat tadarus Alquran. Kesembilan, mengikhlaskan semua amalnya. Semakin dia ikhlas dalam melakukan ibadah. Kesepuluh, semakin bisa menahan hawa nafsunya.

Apakah setiap Muslim dosanya dihapuskan pada Idul Fitri?

Ya, jadi bahwasanya orang yang melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan penuh kekhususan, keikhlasan, maka dia diampuni Allah SWT. 

Dan sebagaimana dalam Hasyiyah Syekh Zadah bahwa siapa yang telah puasa Ramadhan kemudian di tutup dengan zakat fitrah maka  dia dapat sepuluh kemuliaan. Badannya dibersihkan dari segala dosa, dibebaskan dari api neraka, puasanya diterima, dipastikan masuk surga, keluar kubur selamat tanpa siksa, diterima kebaikan yang dilakukan dalam tahun tersebut, pasti mendapat syafaat dari nabi.

Dia tak akan melewati jembatan siratal mustaqim kecuali seperti kilat menyambar-nyambar. Timbangan amalnya dipenuhi kemuliaan dan dihapus namanya dari orang-orang celaka. 

Jelas kalau dosa orang yang telah melalui bulan Ramadhan dengan sempurna maka akan diampuni Allah seperti bayi baru lahir dari perut ibunya. 

Setelah melalui Ramadhan dan Idul Fitri, apa yang seharusnya dilakukan seorang Muslim ke depannya?

Hendaknya melaksanakan hal ini  secara istiqamah dan meningkat setelah Ramadhan. Sebagaimana di katakan dalam kitab Daqoikul Akbar atau juga dalam Tafsir Al Kabir Imam Fachrudin ar Razi atau dalam I'anatu thalibin.

Pertama,  perbanyak shalat malam, harus ditingkatkan. Kedua, perbanyak puasa sunah. Ketiga, perbanyak zikir. Keempat, memperbanyak shalawat pada nabi. Kelima, memperbanyak sedekah. Keenam, meningkatkan silaturahmi terutama kepada orang tua. Ketujuh, memperbanyak ingat kepada akhirat. 

Apa tipsnya agar kebaikan yang sering dilakukan pada Ramadhan bisa terus dijalankan pada bulan-bulan lainnya?

Selalu mengingat bahwa kita akan mati. Jadi selalu ingat mati. Sebagaimana dikatakan ulama dalam Kutubul Mu'tabaroh. Kemudian dekat-dekat dengan orang saleh. Kalau kita ingin semangat menjalankan ibadah maka dekatlah dengan ahli ibadah. 

Kemudian dekatlah dengan orang yang ahli kebaikan. Sebagaimana kata Imam Fachrudin ar Razi, kalau kita dekat dengan orang ahli tilawah maka kita akn menjadi orang ahli tilawah, kalau dekat dengan orang yang ahli qiyamul lail kita akan jadi orang ahli qiyamul lail. Kemudian jangan suudzan, dan jangan menggunakan dan makan perkara haram.


Suami Menggauli Istri yang Istihadhah, Bolehkah?

Para ulama terbagi dalam tiga kelompok tentang hukum menggauli perempuan yang istihadhah.

SELENGKAPNYA

Berhubungan Intim tanpa Ejakulasi, Wajibkah Mandi Junub?

Bagaimana hukumnya bagi suami istri jika saat melakukan hubungan intim tidak terjadi ejakulasi?

SELENGKAPNYA

Pejuang Ramadhan, Para Pemenang Sejati

Idul Fitri menjadi momentum kemenangan para pejuang Ramadhan.

SELENGKAPNYA
×