Idul Fitri menjadi momentum kemenangan para pejuang Ramadhan. | Abdan Syakura/Republika

Laporan Utama

15 May 2022, 04:05 WIB

Pejuang Ramadhan, Para Pemenang Sejati

Idul Fitri menjadi momentum kemenangan para pejuang Ramadhan.

OLEH IMAS DAMAYANTI

Idul Fitri menjadi momentum kemenangan para pejuang Ramadhan. Mereka yang berpuasa bukan sekadar lapar dan dahaga tetapi juga puasa jiwa. Meski secara zahir mereka tak bisa dibedakan dengan orang-orang yang ‘kalah berpuasa’, mereka punya karakter dan kepribadian unggulan. Dengan bekal Ramadhan, ketakwaan mereka tak akan terempas saat menghadapi sebelas bulan berikutnya.

Memaknai Hari Kemenangan

Idul Fitri menjadi momentum kemenangan bagi umat Islam. Sebuah hari untuk merayakan kesuksesan selepas tiga puluh hari menempuh ibadah puasa Ramadhan.

Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis mengatakan, makna Idul Fitri yakni kembali kepada kebahagiaan setiap tahunnya. Idul Fitri berasal dari kata ‘Idil’ yang berarti kembali dapat dimaknai sebagai kembalinya umat Islam kepada kebahagiaan dan kefitrahan.

“Ungkapan dari bahagia itu pada Idul Fitri lah yang membuat kita haram puasa saat itu. Jadi tidak boleh ada orang miskin yang kekurangan, harus diberi saat itu. Makanya zakat fitrah sah dilakukan sebelum pelaksanaan shalat Idul Fitri,” kata Kiai Cholil saat dihubungi Republika, Selasa (26/4).

Dia menceritakan bagaimana Idul Fitri di zaman Rasulullah SAW. Menurut dia, Nabi SAW menjalankan shalat Idul Fitri saat pagi tiba. Setelah itu, Rasulullah bersilaturahim demi menebar kebahagiaan di hari raya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Kiai Cholil mengisahkan, saat Idul Fitri terdapat beberapa anak muda di keluarga Rasulullah yang bermain hadrah sehingga membuat Sayyidina Abu Bakar menegur mereka karena khawatir mengganggu Rasulullah SAW. Bukannya marah, Nabi justru melarang Sayyidina Abu Bakar untuk menegur anak-anak muda tersebut.

Alasan Nabi adalah karena anak-anak itu sedang bahagia di Idul Fitri. “Sehingga di zaman Nabi pun, mereka merayakan kebahagiaan. Kita pun boleh, asal berbahagianya tidak berlebihan,” kata dia.

Kiai Cholil mengingatkan, saat Syawal tiba, umat Islam perlu memastikan bahwa setiap diri telah terbiasa dengan rutinitas selama  Ramadhan. Dengan demikian, semua ibadah selama Ramadhan masih dapat diterapkan saat Syawal tiba. Karena itu, untuk melengkapi puasa Ramadhan maka terdapat puasa selama puasa enam hari di bulan Syawal.

Di sisi lain, dia mengingatkan agar selama sebulan penuh menjalani ibadah di bulan Ramadhan, umat Islam dapat menjalankan sebelas bulan ke depan dengan sebaik-baiknya.

Ketua Umum Ikatan Dai Seluruh Indonesia (Ikadi) KH Ahmad Satori Ismail mengatakan, makna hari kemenangan adalah dengan melaksanakan sebaik-baiknya ibadah dan melaksanakan perintah Allah SWT. Ramadhan sebagai momentum bagi umat Islam untuk mereguk nilai-nilai ibadah dinilai harus dimaksimalkan sebaik mungkin.

“Jika kita menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya, maka ketakwaan kita akan naik. Di situlah saat Idul Fitri tiba, kita kembali kepada fitrah, kesucian dan kemenangan di dunia,” kata dia.

photo
ILUSTRASI. Dengan bekal Ramadhan, ketakwaan mereka tak akan terempas saat menghadapi sebelas bulan berikutnya. - (Republika/Agung Fatma Putra)

Kesalehan sosial

Anggota Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Ustaz Oni Sahroni menjelaskan, Syawal kaya dengan nilai-nilai kesalehan sosial. Saat Idul Fitri tiba, ujar dia,  seorang anak akan bersilaturrahim kepada orang tua, dengan keluarga, dan para tetangga.

Menurut dia, bersilaturrahim kepada keluarga sendiri lebih utama ketimbang kepada orang lain. “Awal Syawal itu ada momentum mudik untuk bersilaturahim mengetahui kondisi keluarga dan semaksimal mungkin memberikan jalan keluar saat menemui kesulitan dalam keluarga,” kata dia.

Di dalam silaturahim, kata dia, aktualisasi kesalehan sosial juga dapat diterapkan dengan cara berbagi, berdonasi, membantu kebutuhan orang tua maupun kerabat, yang membutuhkan bantuan. Dia menegaskan, berbagi merupakan aktivitas yang paling dicintai Allah SWT.

 
Awal Syawal itu ada momentum mudik untuk bersilaturahim mengetahui kondisi keluarga.
 
 

Menurut dia, hal yang paling prioritas dalam kesalehan sosial saat momentum Idul Fitri adalah membersamai para dhuafa. Caranya, yakni  meringankan kebutuhan mereka dengan apa yang kita punya. Jika tidak memiliki harta, ujar Ustaz Oni, kita bisa berbagi dengan mengorbankan tenaga dan pikiran untuk mereka.

Dengan demikian, Ustaz Oni menjelaskan, hal tersebut bisa menjadi solusi bagaimana masalah-masalah dhuafa bisa terselesaikan.“Khususnya jika ada di antara dhuafa tersebut adalah bagian dari keluarga,” kata Ustaz Oni.

photo
Sejumlah umat Islam berdoa saat iktikaf di Masjid Raya Nurul Islam, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Ahad (24/4/2022). - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Menjaga Ibadah Lewat Puasa Syawal 

 

Syawal menjadi tonggak awal umat Islam selepas berpisah dengan Ramadhan. Segenap kebaikan selama Ramadhan diharapkan bisa diteruskan saat Syawal. Wakil Ketua Umum PP Persatuan Islam (Persis) Ustaz Jeje Zaenudin mengatakan, ibadah-ibadah di bulan Syawal merupakan sebuah amal kebaikan yang sayang jika dilewati umat Islam.

Salah satu ibadah yang khas pada bulan tersebut adalah puasa Syawal. “Makna puasa Syawal itu sendiri adalah puasa enam hari di bulan Syawal setelah selesai menunaikan puasa di bulan Ramadhan. Hal itu dalam rangka menjaga kontinyuitas puasa Ramadhan agar tidak berhenti dari puasa secara total,” kata Ustaz Jeje yang merupakan Ketua MUI Bidang Seni dan Budaya ini saat dihubungi Republika, Rabu (27/4).

Dia menjelaskan, keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal menurut hadis Nabi SAW, yakni melengkapi keutamaan pahala puasa Ramadhan. Rasulullah bersabda, “Barang siapa puasa Ramadhan lalu diikuti puasa enam hari di bulan Syawal maka ia laksana puasa setahun penuh.”

photo
Ribuan umat islam di kota Palembang melaksanakan shalat Idul Fitri 1443 H di Bundaran Air Mancur (BAM) Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo Palembang, Sumatera Selatan, Senin (2/5/2022). Ribuan warga kota Palembang melaksanakan Shalat Idul Fitri 1443 H di kawasan Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo hingga ke atas jembatan Ampera Palembang, setelah dua tahun tidak diperbolehkan melaksanakan shalat ied di kawasan tersebut. - (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/hp.)

Pada hakikatnya, dia mengingatkan, setiap kebaikan pada dasarnya akan dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali lipat. Satu bulan Ramadhan laksana 10 bulan, sedangkan enam hari puasa Syawal laksana dua bulan. Karena itu, dia menjelaskan, rangkaian puasa tersebut laksana satu tahun.

Menurut dia, salah satu yang dapat mendorong ibadah seorang hamba adalah kesadaran mengenai kebutuhan manusia akan karunia dan pahala Allah bagi keselamatan dan kenikmatan yang abadi di kehidupan akhirat kelak. Tanpa keimanan akan adanya kehidupan akhirat yang menjadi balasan dan keberlanjutan kehidupan dunia, dia melanjutkan, manusia akan sulit memiliki motivasi untuk beramal saleh dan beribadah.

Dai sekaligus akademisi dan penulis buku motivasi Republika Penerbit, KH Masyhuril Khamis, mengatakan, puasa Syawal adalah salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan. Puasa Syawal, kata dia, dapat dikatakan sebagai pelengkap kekurangan yang ada pada puasa Ramadhan.

“Sebab tentunya, di bulan Ramadhan meskipun kita berpuasa penuh namun terkadang bisa meninggalkan hal-hal yang sebaiknya dihindari. Seperti menjaga hati, menjaga pandangan, menjaga lisan, dan lain sebagainya,” kata dia.

photo
Sejumlah pelajar mengantre untuk bersalaman dengan guru saat pelaksanaan Halal Bi Halal di SDN Pengadilan 5, Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (12/5/2022). Halal Bi Halal dilakukan untuk saling bermaafan antar pelajar dan guru pada hari pertama sekolah usai libur Lebaran 1443 Hijriah. Republika/Putra M. Akbar - (Republika/Putra M. Akbar)

Hal tersebut sebagaimana sabda Nabi, “Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat dan wajibnya, kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR Tirmidzi).

Dia menjelaskan, puasa Syawal tak harus dilakukan pada tanggal tertentu ataupun berurutan. Menurut dia, siapa yang berpuasa enam hari pada Syawal sama seperti berpuasa setahun penuh. Puasa Syawal pun menjadi sarana seseorang yang hendak  mendapatkan cinta Allah SWT lewat ibadah sunnah. 

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga aku mencintainya,”. (HR Bukhari).

Beliau berpesan kepada setiap umat Islam agar tetap menjaga ibadah sunnahnya, maka berkawanlah dengan orang yang baik dan alim, serta terus menjaga diri dari makanan dan hal-hal yang syubhat.

Pakar Ilmu Alquran KH Ahsin Sakho menambahkan, apabila umat Islam meninggalkan Ramadhan maka hendaknya mengambil ibadah-ibadah sunnah yang ada di bulan Syawal. “Agar kita selalu istiqamah dalam ibadah, setelah berlalunya Ramadhan maka alangkah baiknya ibadah-ibadah sunnah dan amalan kebaikan tetap dikerjakan,” kata dia.


×