ILUSTRASI Syawal yang datang sesudah Ramadhan hendaknya tetap menjadi momen perbaikan ketakwaan. | DOK AP VINCENT THIAN

Khazanah

16 May 2022, 03:16 WIB

Sesudah Ramadhan Berlalu

Syawal yang datang sesudah Ramadhan hendaknya tetap menjadi momen perbaikan ketakwaan.

OLEH UMAR MUKHTAR

 

Saat ini, kita sedang memasuki pertengahan Syawal. Sementara itu, semerbak wangi Ramadhan terasa masih saja lekat. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ahmad Zubaidi mengatakan, berbagai amal ibadah yang dilakukan selama bulan suci lalu hendaknya menjadi penyemangat untuk kini dan nanti.

“Apa-apa yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan itu bukan sekadar dilaksanakan pada ketika itu saja, tetapi merupakan pelatihan yang harus diterapkan juga untuk 11 bulan berikutnya,” ujar Kiai Ahmad kepada Republika baru-baru ini.

Sebagai Muslim, kita seyogianya memiliki mental yang visioner dan sekaligus reflektif. Dalam arti, pandangan menatap jauh ke depan, tanpa mengabaikan hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari masa lalu.

Perbaiki Takwa

Dalam surah al-Baqarah ayat 183, dijelaskan bahwa tujuan berpuasa adalah takwa. “Artinya, kita melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-larangan-Nya,” ucap Kiai Ahmad Zubaidi. Dengan menjaga spirit ketakwaan sehabis Ramadhan, insya Allah seorang Muslim akan lebih konsisten dalam memperbaiki diri.

Seluruh anggota tubuh, mulai dari mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki hingga anggota tubuh yang lainnya, telah dipuasakan dan dikendalikan hanya untuk ketaatan kepada Allah SWT. Dengan begitu, selama 11 bulan ke depan, seluruh anggota tubuh pun akan bisa diarahkan dalam rangka ketaatan kepada-Nya.

“Apalagi berkenaan dengan lisan. Sudah dilatih selama bulan Ramadhan, kita harus ketat menjaga lisan. Jangan digunakan untuk ghibah dan perbuatan-perbuatan keji lain, seperti fitnah dan adu domba,” sambungnya.

photo
ILUSTRASI Rutinitas ibadah kala Ramadhan lalu seyogianya menjadi pemicu semangat untuk terus istikamah ibadah. - (DOK REP Abdan Syakura)

Istikamah

Ramadhan dapat dikatakan membekas pada diri seseorang apabila ia menjadi lebih istikamah dalam beramal kebajikan. Tidak perlu banyak sekaligus. Sedikit demi sedikit, tetapi rutin dilakukan sesuai kemampuan dan keadaan itu lebih baik.

“Sunah-sunah juga kita lakukan. Jangan berhenti hanya karena Ramadhan usai. Misalnya, membaca Alquran dilanjutkan. Bersedekahnya, qiyamullail-nya juga dilanjutkan,” tutur Kiai Ahmad.

Jika selama Ramadhan lalu seseorang terlatih konsisten beribadah, wajib maupun sunah, maka cenderung tidak menjadi soal di luar bulan suci tersebut.

photo
ILUSTRASI Zakat bukan hanya amalan yang khas Ramadhan, tetapi juga ada di luar bulan suci. - (DOK REP PRAYOGI)

Tunaikan Zakat

Dalam ajaran Islam, ibadah tidak hanya berkenaan dengan hubungan vertikal, yakni antara seorang insan dan Tuhannya. Relasi antarsesama Muslimin dan manusia seluruhnya juga penting. Di Ramadhan lalu, pelbagai amalan mengisyaratkan hal itu. Sebut saja, zakat fitrah.

Menurut Kiai Ahmad, zakat fitrah merupakan salah satu instrumen menyucikan diri dan harta seorang Muslim. Hal itu dijelaskan dalam Alquran surah at-Taubah ayat 103.

Di luar bulan suci pun, masih terdapat zakat. Misalnya, zakat harta (maal). “Kalau tidak dengan zakatnya, maka infak dan sedekahnya dilanjutkan walau Ramadhan sudah berlalu. Jangan berhenti,” ujarnya.


Akhirnya Kembali Mudik

Bagi orang tua, tentu kehadiran anaknya lebih mahal ketimbang uang berjuta-juta.

SELENGKAPNYA

Jenderal Kompeni Mandi di Kali

Para budak juga berfungsi untuk menjaga gengsi. Makin banyak memiliki budak, makin tinggi status sosial seseorang.

SELENGKAPNYA

Abu Ubaidah Sang Penolak Jabatan Khalifah

Rasulullah memberi Abu Ubaidah bin Jarrah gelar “orang kuat yang terpercaya”.

SELENGKAPNYA
×