Akhirnya Kembali Mudik | Rendra Purnama/Republika

Sastra

15 May 2022, 08:00 WIB

Akhirnya Kembali Mudik

Bagi orang tua, tentu kehadiran anaknya lebih mahal ketimbang uang berjuta-juta.

OLEH WS DHJAMBAK

Kau terlihat resah sambil sesekali menyeka matamu nan basah. Telepon dari ayah tadi sepertinya membelasah rasa resah sehingga makin membuatmu gundah. Tentu kau tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan jika sekadar membantah.

Memang sudah cukup lama juga kau tidak mengunjungi orang tuamu yang renta. Macam-macam alasanmu; entah kau sibuk kerja, atau malah tidak dapat cuti, harga tiket mahal, dan lain sebagainya. Tak pelak, ayahmu yang sudah cukup lama menduda sering menangis di atas kursi rotan yang sudah lapuk —tak jarang ia sibuk menggaruk selepas duduk akibat digigiti kepinding busuk.

Di kampung, ayahmu kau percayakan pada tetangga yang juga masih ada hubungan saudara. Untuk urusan nafkah, kau memang tak pernah lupa. Bahkan, boleh dikata, di antara berlima saudara, kau yang kondisi ekonominya paling cemerlang. Setidaknya, setiap bulan kau selalu mengirimkan uang belanja agak dua juta melalui rekening tetangga.

Namun, bagi orang tua, tentu kehadiran anaknya lebih mahal ketimbang uang berjuta-juta. Bermodalkan HP lama yang layarnya sama buram seperti matanya, pun tidak pandai mengoperasikan telepon pintar. Untuk melihat wajahmu —yang sekarang seakan berlomba dengannya perihal jumlah kerut dan warna uban di kepala— harus menumpang ke tetangga untuk melakukan panggilan video, setelah mencocokkan jadwal denganmu terlebih dahulu. Pun demikian dengan istri dan anak-anakmu, cucunya.

 
Namun, bagi orang tua, tentu kehadiran anaknya lebih mahal ketimbang uang berjuta-juta.
 
 

Kadang, ketika kau resah, dan merasa marah dengan kenakalan anak-anakmu, kau merenung bagaimana ayah dan ibumu dulu bisa sabar menghadapi anak yang nakal sepertimu? Sering juga kau merasa terkena tulah akibat dulu suka melawan orang tua ketika masih muda.

“Aku tahu. Apakah kelak aku pun begitu? Ditinggal anak-anak yang beranjak mandiri dan tak lagi bergantung kepada kita. Sejak menjadi seorang bapak, aku sangat paham betapa menjadi orang tua adalah tugas yang teramat berat.

Bagaimana bisa kita menafkahi seorang, atau katakanlah beberapa orang manusia, tanpa kita berharap timbal balik daripadanya? Bagaimana bisa kita menghabiskan uang yang kita cari jungkir-balik mati-matian demi manusia yang belum tentu membalas budi? Jangankan mengunjungi, mendoakan ketika mati pun belum pasti,” isakmu suatu waktu.

Lagi, kau harus memutar akal meminta pengertian ayah bahwa kau tidak bisa mudik akibat larangan dari pemerintah. Konon, virus laknat pembawa mudarat tengah berkembang biak dan menyerang orang-orang hingga mengakibatkan kematian.

Kau telepon ayah dan meyakinkan bahwa perbatasan dijaga oleh aparat. Yang mencoba lewat disuruh putar arah kembali ke daerah semula, sedang di daerah semula juga disangka dari provinsi sebelah, sehingga tertahan, dikarantina paksa. Bagi yang menolak bisa dipidana.

Ayah hanya diam, tidak mengiyakan, juga tak sama sekali membantah. Kau tentu tahu lebih dari siapa pun bahwa beliau tak lagi resah, apatah lagi marah, melainkan hanya bisa pasrah.

“Kau sehat-sehat di sana. Jaga juga menantu dan cucu-cucu ayah,” pesan ayah yang membuat jantungmu makin haru.

 
“Kau sehat-sehat di sana. Jaga juga menantu dan cucu-cucu ayah,” pesan ayah yang membuat jantungmu makin haru.
 
 

“Baik, Yah. Ayah baik-baik di sana. Kabari kalau butuh apa-apa. Nanti Andi transfer uang untuk kebutuhan Ayah. Mohon maaf lahir dan batin ya, Yah. Insya Allah kita lekas berkumpul lagi selepas korona pergi.”

“Amin.”

***

“Bagaimana, Nak? Bisa pulang tahun ini?”

“Kita tunggu arahan pemerintah, Yah. Semoga saja tahun ini tidak ada larangan mudik lagi. Mohon doanya, Yah.”

“Iya, Nak. Semoga. Kau tahu, bagi orang tua sepertiku, keberadaan keluarga pada satu hari Lebaran pertama itu lebih berharga ketimbang beberapa hari lainnya. Meskipun dua bulan lalu kau sudah mudik, meski hanya sebentar, tapi ayah berharap kau dan adik-adikmu bisa mudik bersama keluarga.”

“Iya, Yah.”

Kau tak membantah, sebab memang tak ada yang patut disanggah. Engkau pun paham bahwa ketika Lebaran pertama, tak ada salahnya bagi orang tua untuk bersikap egois dan berharap anak-anaknya hadir, meski kemudian pergi lagi menghambur entah ke mana. Namun, kau kembali harus melulur kecewa dalam-dalam sebab untuk kedua kalinya engkau tidak bisa mudik kembali.

Jangan cengeng. Kau patut bersyukur ayahmu masih sehat di kampung sana, meskipun tak bisa kau jelang ketika Lebaran datang. Tahun lalu ketika korona pertama kali menyerang, banyak orang yang tidak bisa kembali pulang, meskipun orang tuanya dalam keadaan kritis hingga meninggal dan dikubur tanpa iringan pelayat. Ayah pasti mengerti. Lepas Lebaran dan larangan mudik dicabut, kau bisa pulang meskipun tidak dalam kondisi lebaran. Pikirmu menghibur diri.

Pagi itu, ketika takbir dikumandangkan di corong-corong toa masjid, ayah kembali menangis di pinggir ranjang tuanya. Ada semacam keengganannya menyeret kaki tuanya ke masjid. Ia merasa seperti dihukum oleh Tuhan dengan cara menahan rindu dan kesepian karena kesendirian.

 
Ada semacam keengganannya menyeret kaki tuanya ke masjid. Ia merasa seperti dihukum oleh Tuhan dengan cara menahan rindu dan kesepian karena kesendirian.
 
 

“Ah, andai saja istriku masih hidup, tentu aku tidak kesepian seperti ini. Dulu ketika anak bungsu kami menikah, doaku hanyalah agar bisa mati berdua dengan istriku. Apa daya ternyata Tuhan berkehendak lain,” keluhnya pilu.

***

Seperti biasa, rutinitasmu selama tiga tahun belakangan ini adalah waswas menjelang musim puasa tiba. Antara berharap dan tidak, kau mengikuti akun media sosial dari instansi pemerintah dan mulai berhenti mengikuti akun sampah semisal gosip. Tujuanmu hanya satu, yakni berharap berita baik, selain THR yang cair, tentu berita yang paling ditunggu adalah tidak adanya pelarangan mudik seperti dua tahun yang sudah-sudah.

Kau berteriak gembira ketika doa yang kau dengungkan selepas shalat didengar dan dikabulkan. Kau tentu rindu masa-masa ketika menghabiskan masa kecil di kampung, jauh hari sebelum tanah rantau mengebat langkahmu hingga larat.

Ingatan ketika kau merengek dan merajuk meminta pistol-pistolan dan aneka mercon kepada ayah, hingga baju baru dan sepeda yang barang tentu dikabulkan mereka meski tak tahu asal duit entah dari mana. Air matamu menggenang di pelupuk mata mengingat bagaimana dulu perlakuan manja mendiang ibu, dan suara ayah yang tegas menggelegar, meskipun ia yang pertama kali gemetar ketika sang anak gusar.

Tak sabar hendak pulang, kau sampai belanja aneka baju dan kue raya, serta merencanakan kepulangan bersama dengan adik-adikmu. Tak sabar rasanya kau hendak bersimpuh-sembah membasuh kaki renta ayah dan mencium punggung tangannya. Tangan yang selalu kuat menopang beban itu kini tinggal tulang. Serta memeluk tubuh yang dahulu tinggi menjulang, sekarang bungkuk dan ringkih.

Kau sadar betul bahwa kau makin tua, sedang ayahmu makin renta. Entah siapa yang duluan mati, yang jelas, ikatan janji nyawa dan badan tidaklah sesetia itu. Pasti akan ada masa nyawa meninggalkan badan serupa telur meninggalkan cangkang.

 
Kau sadar betul bahwa kau makin tua, sedang ayahmu makin renta. Entah siapa yang duluan mati, yang jelas, ikatan janji nyawa dan badan tidaklah sesetia itu. 
 
 

Baru saja kau hendak mengabarkan ayah mengenai rencana pasti kepulangan, teleponmu berdering terlebih dahulu. Pas sekali ayah menelepon, pikirmu girang.

Suara di seberang, jelas bukan suara ayah, meskipun kau kenal suara itu. Suara di seberang melanjutkan kalimat dengan ragu. “Ayahmu tak sadarkan diri. Tadi jatuh di kamar mandi. Sudah etek bawa ke rumah sakit, hingga sekarang masih belum sadar.”

Kau terduduk lemas. Tampak terhenyak mendengar kabar yang membuat perasaan tak enak.

“Kalau bisa, Andi pulanglah lekas,” sambungnya lagi.

Kau berterima kasih dan meminta agar wanita yang kau panggil etek itu menjaga dan mengabarkan perkembangan kondisi ayah. Selepas menutup panggilan, kau lekas menghubungi adik-adikmu yang juga sudah mendapat kabar serupa. Kau beserta anak dan istri sepakat untuk berangkat sehabis berbuka, sedang adik-adikmu menyusul kemudian.

Sepanjang perjalanan, matamu terlihat mendung, meski istrimu sudah berusaha meyakinkan bahwa ayah akan baik-baik saja. Kau paham bahwa ucapan itu hanya ucapan basa-basi semata. Bagaimana ia —yang bahkan bukan seorang pakar kesehatan— berani berucap demikian? Memangnya ia Tuhan yang dengan kun, maka fayakun?

Untung saja jalan cukup lengang, meski hujan sepanjang jalan. Yang ada di pikiranmu hanya bagaimana lekas tiba.

***

Hari raya yang dinanti pun tiba. Istri, anak, dan adik-adikmu sekarang tengah duduk bersimpuh melingkar mengelilingimu. Air mukanya tak terkata, apalagi istrimu, terlihat kusut dan semrawut. Tak lama kemudian, mereka beranjak pergi, sesekali menoleh ke belakang melihat kau yang terbaring di samping makam ayah dan ibu.

Malam ketika kau tengah menyetir dalam perjalanan pulang, etek kembali menelepon membawa kabar duka. Ayah telah tiada. Kau kalut. Tanpa sengaja kau menabrak tiang cukup kencang hingga tak terselamatkan, sedang istri dan anakmu hanya menderita luka ringan. Tapi bagimu, kerinduan bertemu ayah dan ibu terbayar sudah. 

Pekanbaru, 25 April 2021

(Didedikasikan untuk para pejuang dan korban Covid-19. Sehat selalu dan panjang umur kemanusiaan). WS Djambak saat ini bermastautin di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; puisi, cerpen, esai, dan novel. Beberapa cerpennya sudah terbit di media lokal dan nasional.


Suami Menggauli Istri yang Istihadhah, Bolehkah?

Para ulama terbagi dalam tiga kelompok tentang hukum menggauli perempuan yang istihadhah.

SELENGKAPNYA

Bolehkah Shalat Gaib yang Lokasi Jenazahnya Dekat?

Di antara syarat menshalati jenazah secara hadir adalah adalah harus berada di dalam satu tempat.

SELENGKAPNYA

Biografi Ibnu Hajar al-Asqalani

Ibnu Hajar dipandang luas sebagai syekh-nya para ulama hadis dan fikih.

SELENGKAPNYA
×