Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

14 May 2022, 03:30 WIB

Menyikapi Kehidupan Dunia

Berkaitan dengan persinggahan di dunia, manusia berbeda pandangan dalam menyikapi kehidupan dunia.

OLEH IMAM NUR SUHARNO

Saat ini kita berada di tempat persinggahan di dunia dan akan melanjutkan perjalanan menuju ke tempat persinggahan terakhir, yaitu di akhirat, sebelumnya singgah di alam barzakh.

Di akhirat, sebagian manusia singgah langsung di neraka selamanya, singgah dahulu di neraka kemudian singgah di surga selamanya, dan singgah langsung di surga selamanya.

Berkaitan dengan persinggahan di dunia, manusia berbeda pandangan dalam menyikapi kehidupan dunia. Dengan mengetahui tipologi manusia dalam menyikapi kehidupan dunia, seseorang akan berusaha untuk menjadi manusia yang bisa langsung singgah di surga atau jika harus singgah dahulu di neraka pun tidak terlalu lama.

Pertama, manusia yang mengabdikan hidupnya hanya untuk kehidupan dunia. Yaitu, orang-orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhirnya. Baginya dunia adalah segalanya karena memang ia tidak meyakini adanya kehidupan akhirat.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman, “Dan tentu mereka akan mengatakan, ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.” (QS al-An'am [6]: 29).

Kedua, manusia yang tidak jelas arah hidupnya. Yaitu, orang-orang yang sibuk dengan urusan kesenangan duniawi dan lalai mempersiapkan kehidupan untuk akhiratnya. Kelompok ini akan menghabiskan waktunya untuk urusan yang diinginkan, seperti urusan wanita, urusan anak, urusan harta, kuda pilihan, termasuk kendaraan, urusan ternak, dan urusan sawah ladang, termasuk kebun hingga kapling tanah  

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran [3]: 14).

Ketiga, manusia yang menjadikan dunia sebagai ladang bagi kehidupan akhirat. Yaitu, orang-orang yang memanfaatkan kehidupan dunia sebagai ladang untuk beramal dan tempat untuk menanam tanaman kebaikan sehingga ia kelak merasakan buah manisnya di akhirat.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS al-An'am [6]: 32).

Agar seseorang dapat menjadikan dunia sebagai ladang amal dan menanam kebaikan, harus mengetahui tujuan hidup, mengetahui nilai dunia jika dibandingkan dengan nilai akhirat, mengetahui bahwa kematian adalah sebuah kepastian, mengetahui hakikat Islam, dan mengetahui hakikat jahiliyah.

Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar dapat menjadikan persinggahan dunia sebagai ladang amal dan menanam kebaikan sehingga layak mendapatkan surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Aamiiin.


Perkembangan Hepatitis Akut Berat

Apakah mungkin hepatitis akut ini menjadi pandemi? Data yang ada masih terlalu dini dan sulit ditentukan sekarang.

SELENGKAPNYA

Israel Bangun Jalan Khusus Pemukim Yahudi di Bethlehem

Israel menyetujui pembongkaran rumah warga Palestina di 12 desa di Masafer Yatta.

SELENGKAPNYA

Setelah Kembali Fitri

Tetap menjadi orang baik walau Ramadhan berlalu. Sebab, itulah tanda orang-orang yang kembali fitri.

SELENGKAPNYA
×