Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

13 May 2022, 03:30 WIB

Setelah Kembali Fitri

Tetap menjadi orang baik walau Ramadhan berlalu. Sebab, itulah tanda orang-orang yang kembali fitri.

 

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Setulus hati dan selapang dada, rasa syukur dipanjatkan ke hadirat Ilahi atas karunia yang tak terkira, yakni sempat menikmati hidangan spiritual Ramadhan 1443 H. Tentulah, terselip kekurangan yang tak mampu dihindarkan, terutama kualitas keikhlasan dan kesungguhan dalam menggali pesan. Kiranya Allah SWT sudi menyempurnakan.

Sebulan lamanya kita ikuti pendidikan dan latihan pengendalian diri dengan amal kebaikan dan menjauhi keburukan. Pada siang hari shiyam (puasa) dan malam hari qiyam (mendirikan shalat, zikir, dan tadarus Alquran). Kemudian, menunaikan zakat fitrah dan sedekah kepada fakir miskin agar mereka turut gembira pada Hari Kemenangan.

Ketika mentari pagi terbit di ufuk timur keesokan hari, kita menunaikan shalat Idul Fitri. Kalimat takbir, tahmid, dan tahlil pun bersahutan untuk membesarkan, memuji, dan mengesakan Allah SWT.

Lalu, melepas rindu dan merajut silaturahim kepada orang tua, kaum kerabat, tetangga, dan handai taulan dengan minta maaf atas segala kesalahan. Kegembiraan dirasakan orang beriman yang meraih ketakwaan (QS al-Baqarah [2]:183).

Hubungan kepada Allah SWT (hablumminallah) dan sesama (hamblumminannaas) sudah dibersihkan sehingga patutlah merayakan Idul Fitri. Prof Quraish Shihab dalam buku Membumikan Alquran menjelaskan, Idul Fitri memiliki tiga arti: agama yang benar, asal kejadian, dan kesucian. Kesucian adalah gabungan dari tiga unsur, yakni benar, baik, dan indah.

Mencintai kebenaran melahirkan ilmu. Mencintai kebaikan melahirkan etika. Mencintai keindahan melahirkan estetika. Artinya, orang yang kembali fitri akan selalu mencintai kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Bukan sebaliknya, merasa paling benar, paling baik, dan paling indah keberagamaannya. 

Lalu, setelah kembali fitri, apa yang harus dilakukan? Setidaknya ada tiga kesadaran yang mesti dirawat dengan baik.

Pertama, keberhasilan suatu pendidikan bukan saat pelaksanaan, melainkan setelah selesai dilakukan. Setidaknya, pasca-Ramadhan masih ada satu atau dua amal kebajikan yang melekat dalam diri kita. Misalnya, bangun pada penghujung malam (Tahajud), puasa sunah, sedekah, atau tilawah Alquran.

Kedua, menahan lapar dan dahaga itu sungguh berat. Akan tetapi, jauh lebih berat mengendalikan nafsu syahwat, amarah, dan kerakusan. Jika tergelincir dalam dosa, segeralah mohon ampunan dan menutupinya dengan kebaikan.

Ketiga, kebenaran dan kebaikan harus dibiasakan agar menjadi kebiasaan (karakter). Akhlak manusia fitri selalu mohon ampun kepada Allah SWT, sabar, dan tidak mudah putus asa, jujur dan amanah, patuh dan disiplin pada aturan, dan suka berinfak dalam setiap keadaan (QS Ali Imran [3]: 133-135). Demikian disampaikan Prof KH Didin Hafidhuddin dalam buku Membangun Kemandirian Umat.

Akhirnya, ungkapan orang bijak “Kun rabbaniyyan wa laa takun ramadhaniyyan” (Jadilah hamba Allah dan jangan menjadi hamba Ramadhan) patut direnungkan.

Tetap menjadi orang baik walau Ramadhan berlalu. Sebab, itulah tanda orang-orang yang kembali fitri.

Allahu a’lam bishawab.


Di Ambang 'Paceklik' Global

Hampir 200 juta orang menghadapi kerawanan pangan akut pada 2021, hampir dua kali lipat angka tahun 2016.

SELENGKAPNYA

Bagaimana Adab dalam Hubungan LDR Pasangan Suami-Istri?

Terdapat adab dan penyikapan dalam hubungan LDR pasangan yang berkeluarga.

SELENGKAPNYA

Taqabbalallahu Minna Waminkum

Ungkapan taqabbalallahu minna wa minkum dianjurkan disampaikan ke sesama Muslim usai Ramadhan.

SELENGKAPNYA
×