Ilustrasi virus. | istock

Opini

13 May 2022, 03:45 WIB

Perkembangan Hepatitis Akut Berat

Apakah mungkin hepatitis akut ini menjadi pandemi? Data yang ada masih terlalu dini dan sulit ditentukan sekarang.

TJANDRA YOGA ADITAMA, Direktur Pascasarjana Universitas YARSI

Kita ketahui, kejadian hepatitis akut berat yang kini banyak dibicarakan bermula dari laporan “International Health Regulations (IHR) National Focal Point” Inggris ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 5 April 2022.

Mereka menyebutkan, ada 10 kasus hepatitis akut yang tak diketahui penyebabnya pada anak-anak umur 11 bulan sampai 5 tahun, yang tadinya sehat-sehat saja di Skotlandia, jadi bukan pada anak-anak yang ada gangguan imunologis.

Menurut aturan International Health Regulations (IHR) negara harus melaporkan ke WHO kalau ada kejadian kesehatan yang diduga berpotensi menyebar lintas negara, dan tugas melapor  ada pada “IHR focal point” negara itu, hal sama juga terjadi di negara kita.

Sesudah menerima laporan dan mengklarifikasinya, WHO menyebarkan ke seluruh “IHR focal point” negara anggota. Lalu, WHO menuliskannya di “Disease Outbreak News (DONs)” yang oleh media disebutkan WHO mengklasifikasikan penyakit ini kejadian luar biasa.  

 
Data sampai 11 Mei 2022, di dunia ada 348 kasus “probable” hepatitis yang belum diketahui penyebabnya dari 21 negara. 
 
 

Sebenarnya, ini prosedur rutin di WHO untuk menyajikan informasi ke dunia tentang kejadian kesehatan masyarakat yang penting atau yang berpotensi menjadi hal yang penting. Belum tentu, yang ada di DONs  berkembang dan menyebar luas, tetapi ini agar kita waspada.

Perkembangan

Data sampai 11 Mei 2022, di dunia ada 348 kasus “probable” hepatitis yang belum diketahui penyebabnya dari 21 negara. Sebanyak 26 anak di antaranya memerlukan transplantasi hati. WHO menetapkan tiga klasifikasi penyakit ini, ditambah satu catatan.

Pertama, kasus terkonfirmasi yang belum ada definisinya karena sampai kini dunia belum tahu pasti penyebab penyakit ini.

Kedua “probable”, yaitu pasien yang menunjukkan gejala penyakit hepatitis akut (tanpa adanya virus hepatitis A sampai E), dengan kadar serum transaminase >500 IU/L (AST atau ALT), yang berumur di bawah 16 tahun.

Ketiga, “Epi-linked” atau ada hubungan epidemiologik, yaitu seseorang yang menunjukkan gejala penyakit hepatitis akut (tanpa adanya virus hepatitis A sampai E), yang punya kontak erat/langsung dengan kasus “probable”.

WHO memberi catatan khusus, kalau pasiennya ada gejala dan keluhan sesuai hepatitis akut, tetapi belum ada hasil laboratorium serologi untuk mendeteksi virus A sampai E, disebut “pending classification”.

Sampai 11 Mei 2022, WHO menyatakan, informasi epidemiologis, klinis, dan laboratoris penyakit ini masih terbatas. Belum ada penyebab pasti walaupun pada sebagian kasus ditemukan adenovirus di darah atau plasma pasien.

 
Sampai 11 Mei 2022, WHO menyatakan, informasi epidemiologis, klinis, dan laboratoris penyakit ini masih terbatas. 
 
 

Adenovirus belum terindentifikasi jelas di jaringan hati pasien, yang antara lain berdasar pada hasil biospi sehingga adanya adenovirus di darah atau plasma, masih mungkin kejadian yang ditemukan bersama daripada sebagai penyebab penyakit.

Penelitian terus berlangsung dan WHO berharap, dalam beberapa pekan ke depan, ada bukti ilmiah lebih jelas dan lengkap.

Menurut berita di Republika.co.id pada 10 Mei 2022, Menteri kesehatan mengungkapkan, saat ini tercatat 15 kasus dugaan atau suspek hepatitis akut. Tiga kasus pertama di Indonesia dilaporkan pada 27 April. Terkait 15 kasus ini dan mungkin nanti ada tambahan kasus, ada empat masukan.

Pertama, akan baik kalau dijelaskan 15 kasus itu apakah termasuk klasifikasi WHO "probable", "epi-linked", atau "pending"? Kedua, akan baik kalau diinformasikan hasil pemeriksaan virus hepatitis A sampai E pada 15 kasus itu.

Ketiga, lebih baik lagi kalau dari 15 kasus itu disampaikan juga informasi hasil laboratorium virus lain, seperti SARS-COV-2, adenovirus, epstein barr.

Keempat, kalau sudah ada 15 kasus, tentu sudah dilakukan penyelidikan epidemiologis mendalam sehingga pola penularan dapat diidentifikasi, baik antarkasus maupun dengan lingkungan. Jumlah 15 memadai, Inggris mulai menganalisis mendalam berdasarkan 10 kasus mereka.

 
Apakah mungkin menjadi pandemi? Data yang ada masih terlalu dini dan sulit ditentukan sekarang. 
 
 

AS menelaah amat mendalam lima kasus pertama mereka di Alabama. Kita menunggu bagaimana Kementerian Kesehatan melakukan kajian ilmiah 15 kasus ini, kemudian memublikasikan hasilnya bukan hanya ke masyarakat, melainkan juga ke dunia ilmiah internasional.

Terlalu dini

Apakah mungkin menjadi pandemi? Data yang ada masih terlalu dini dan sulit ditentukan sekarang. Secara umum, kalau ada wabah  penyakit akan melalui proses ditentukan dulu sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat, yang meresahkan dunia (PHEIC) sesuai aturan IHR.

Lalu dilihat lagi perkembangannya, kalau terus meluas baru disebut pandemi.

Kalau kita lihat Covid-19, pertama kali dilaporkan WHO pada 5 Januari 2020, dinyatakan PHEIC pada 30 Januari 2020 atau sebulan sesudah dideteksi, dan saat itu sudah ada 19.961 kasus konfirmasi dan suspek, juga ditemukan bukti penularan antarmanusia.

Baru pada 11 Maret 2020, Covid-19 dinyatakan pandemi. Pola perkembangan tersebut, sejauh ini belum terjadi pada hepatitis akut berat ini dan semoga tidak terus meluas. Ini tetap diartikan kita perlu waspada. Jangan abai, tetapi jangan pula panik berlebihan.


Dua Dugaan Penyebab Hepatitis Akut Anak

Penyebab hepatitis akut diduga ada dua, yaitu lewat oral seperti saluran cerna dan droplet.

SELENGKAPNYA

15 Kasus Suspek Hepatitis Akut Teridentifikasi di Indonesia

Bayi berusia 1 bulan 29 hari meninggal yang gejalanya mirip penyakit hepatitis di Sumatra Barat.

SELENGKAPNYA

‘Hepatitis Akut Anak tak Terkait Long Covid-19’

Tiga anak yang terjangkit hepatitis akut di Indonesia negatif Covid-19.

SELENGKAPNYA
×