Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika

Refleksi

14 May 2022, 03:50 WIB

Kembali kepada Fitrah

Semoga kita berusaha bersama-sama menjaga kedua makna fitrah tersebut.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN

Salah satu ucapan yang populer di kalangan kaum Muslimin pada setiap hari raya Idul Fitri adalah: “Taqabbalallahu minna waminkum shiyamana wa shiyamakum kullu ‘aamin wa antum bi khiarin. Allahummaj’alna waiyyaakum minal ‘aidin wal faizin wal maqbulin”. 

Yang artinya: “Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah kita dan ibadah kalian. Ibadah puasa kita dan puasa kalian. Mudah-mudahan sepanjang tahun Anda semua selalu berada dalam kebaikan. Ya Allah jadikan kami semua termasuk orang-orang yang kembali (menjadi fitrah/suci), termasuk orang-orang yang mendapatkan kemenangan dan termasuk orang yang diterima seluruh ibadahnya.”

Doa tersebut mengandung beberapa hal yang sangat penting bagi kehidupan kita, antara lain, sebagai berikut.

Pertama, sikap utama yang harus dimunculkan antara sesama kaum Muslimin dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat adalah saling mendoakan dengan kebaikan, apalagi dalam suasana kebahagiaan. Bukan dengan saling memfitnah, saling menghina, saling mencurigai, saling menggunting dalam lipatan, bahkan saling menjatuhkan, dalam segala situasi dan kondisi, seperti tergambar dalam QS al-Hujurat [49] ayat 11-12.

Kedua, terdapat tiga kelompok umat di dalam Alquran yang dipuji Allah SWT (QS al-Hasyr [59] ayat 8, 9, dan 10) karena selalu saling mendoakan dan bersinergi dalam kebaikan. Mereka adalah kelompok sahabat Muhajirin yang meninggalkan Makkah menuju Madinah karena mempertahankan agama Allah (8); kelompok sahabat Anshar, yaitu sahabat nabi yang tinggal di Madinah yang memenuhi segala kebutuhan sahabat Muhajirin semata-mata karena Allah (9); dan kelompok umat yang datang sesudahnya yang selalu mendoakan orang-orang yang lebih dulu meninggal dunia dalam keadaan mukmin dan Muslim serta berusaha menghilangkan sifat dengki dan hasad pada sesama orang yang beriman (10).

 
Dari kedua makna fitrah tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa kembali kepada fitrah artinya kembali kepada tauhid dengan segala konsekuensinya.
 
 

Kalimat “Minal aidzin wal faaidzin” menekankan perlunya kita kembali kepada fitrah kalau ingin meraih kemenangan. Ada beberapa makna dari fitrah, antara lain:

a. Fitrah bermakna tauhid dengan segala implementasi dan konsekuensinya, seperti terdapat dalam firman-Nya pada QS ar-Ruum [30] ayat 30. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda yang artinya: “Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, 'Setiap anak yang lahir, dia terlahir atas fitrah, maka tergantung kedua orang tuanya yang menjadikan dia orang Yahudi, Nasrani, atau Majusi, seperti binatang ternak yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu melihat padanya telinga yang terpotong?'” (HR al-Bukhari).

Ayat dan hadis tersebut (makna fitrah) merujuk pada firman Allah QS al-Araaf [7] ayat 172 yang menjelaskan di alam ruh dulu semua manusia menyatakan percaya dan menyaksikan bahwa Allah sebagai Rabbnya. Karena itu, berdasarkan ayat dan hadis di atas, tidak ada orang yang benar-benar ateis (anti Tuhan) kecuali hanya pengakuan yang didasarkan pada kesombongan (kekuasaan, harta benda, ilmu pengetahuan, dan lain-lain).

Contoh kasus Firaun (QS an-Nazi’at [79] ayat 24) bukan saja menyatakan tidak percaya kepada Tuhannya Musa, tetapi justru dia yang menyatakan diri sebagai Tuhan.

Namun, ketika Firaun mau mati ditenggelamkan oleh Allah SWT, keluarlah fitrah Tauhidnya dengan bertobat dan menyatakan sebagai orang yang beriman, sebagaimana dikisahkan dalam QS Yunus [10] ayat 90-91.

b. Fitrah bermakna jati diri manusia sebagai makhluk sosial/makhluk ijtima’i (an-Naas) yang membutuhkan lingkungan persahabatan dan persaudaraan yang baik dan kondusif untuk kebaikan bersama. Firman-Nya dalam QS al-Hujurat [49] ayat 13.

 
Semoga kita semuanya akan berusaha secara pribadi maupun bersama-sama menjaga kedua makna fitrah tersebut.
 
 

Dari kedua makna fitrah tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa kembali kepada fitrah artinya kembali kepada tauhid dengan segala konsekuensinya dan kembali kepada jati diri manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki karakter saling membantu, saling menolong, saling memaafkan, saling menguatkan, dan saling menghargai satu dengan yang lainnya. Dan, itulah pangkal dari kemenangan dengan turunnya rahmat Allah SWT. Firman-Nya dalam QS at-Taubah [9] ayat 71.

c. Penguatan hubungan vertikal dengan Allah dan penguatan hubungan horizontal dengan sesama manusia, itulah karakter orang-orang bertakwa yang merupakan hasil pendidikan ilahiah pada bulan suci Ramadhan.

Perhatikan firman-Nya dalam QS Ali Imran [3] ayat 132-136: “Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat (132) Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (133) (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (134) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui (135)

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal (136).”

d. Pendidikan Islam seyogianya memberikan penguatan kedua makna fitrah tersebut dalam diri setiap manusia melalui pendidikan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Baqarah [2] ayat 151: “Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah (as-Sunnah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

 
Ayat tersebut menegaskan tentang amaliah tarbiyah Rasulullah SAW yang telah melahirkan generasi sahabat berakhlak mulia, cerdas, unggul, yang tujuan hidupnya berorientasi pada akhirat, tetapi menguasai kehidupan dunia.
 
 

Ayat tersebut menegaskan tentang amaliah tarbiyah Rasulullah SAW yang telah melahirkan generasi sahabat yang berakhlak mulia, cerdas, unggul, yang tujuan hidupnya berorientasi pada akhirat, tetapi menguasai kehidupan dunia. Amaliah tarbiyah tersebut adalah:

Pertama, mengajarkan ayat-ayat Allah, baik yang berupa ayat tanziliyah yang terdapat dalam Alquran maupun ayat-ayat kauniyah yang terdapat dalam diri manusia ataupun yang terdapat dalam alam semesta.

Kedua, mengajarkan tazkiyah an-Nufus (menyucikan dan membersihkan jiwa dan hati) dari berbagai penyakit hati yang berbahaya, seperti syirik, hasad, hubbuddunya, dan maksiat kepada Allah SWT serta penyakit yang merusak tatanan kehidupan manusia. 

Ketiga, mengajarkan Alquran dan hadis sebagai manhaj al-hayah (kurikulum kehidupan manusia). Keempat, melakukan kegiatan riset dan penelitian untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Semoga kita semuanya akan berusaha secara pribadi maupun bersama-sama menjaga kedua makna fitrah tersebut sehingga kita menjadi Muslim dan mukmin yang istiqamah dalam iman dan amal saleh serta bermanfaat bagi kehidupan umat manusia secara luas.

Wallahu a’lam bi ash-shawab. 


Pilpres Prancis, Islamofobia, dan Presidential Threshold

Presidential threshold dalam pemilu Prancis ringan belaka, cukup dapat dukungan tanda tangan 500 pejabat yang dipilih.

SELENGKAPNYA

Perkembangan Hepatitis Akut Berat

Apakah mungkin hepatitis akut ini menjadi pandemi? Data yang ada masih terlalu dini dan sulit ditentukan sekarang.

SELENGKAPNYA

Transformasi Digital Madrasah

Transformasi digital madrasah dengan mengintegrasikan cyber pedagogy dan cyber technology.

SELENGKAPNYA
×