Direktur Operasional Republika Arys Hilman Nugraha (kanan) bersama Wakil Pemimpin Redaksi Republika Nur Hasan Murtiaji (kiri) dan Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren Kecamatan Sajira KH Utang Mukhtar (tengah) berbincang sebelum memberikan bantuan di | Republika/Putra M. Akbar

Bodetabek

13 May 2022, 04:44 WIB

Harapan Korban Longsor Sukajaya Miliki Hunian Tetap

Korban longsor Sukajaya Bogor berharap menjalani kehidupan yang layak.

OLEH SHABRINA ZAKARIA

Di dalam rumah berdinding glass reinforced concret (GRC) Mumun tengah merapikan tempat tidurnya yang lapuk. Kasur kapuk berwarna merah pudar itu hanya beralas karpet tipis di atas tanah.

Tidak ada kamar. Di depan tempat tidur Mumun terdapat rak baju dan rak piring yang berdiri bersebelahan. Baskom-baskom, ember, mangkok, bakul, dan wajan bertumpuk tidak karuan di dekat tempat tidurnya.

Di dekat pintu masuk, sebuah kompor diletakkan di atas meja kayu yang telah berlumut. Alasnya ada serbet kotor dan peralatan masak ala kadarnya.

Wanita berusia 60 tahun ini telah dua tahun lebih menempati hunian sementara (huntara), sejak tanah longsor meluluhlantakkan rumahnya di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, pada 1 Januari 2020.

Huntara tempat Mumun tinggal hanya berjarak sekitar 20 meter dari Kantor Desa Pasir Madang yang berdiri gagah. Setiap rumah berukuran sekitar 4 x 6 meter dengan dinding GRC dan atap asbes.

Dinding GRC di bagian luar rumah pun tampak sudah kotor karena dijadikan ‘alas gambar’ oleh anak-anak sekitar. Belum lagi, ketika hujan turun, dinding menjadi lembap dan dingin.

Duduk di sebuah bangku kecil depan rumahnya, nenek dengan dua cucu ini bercerita kepada Republika tentang kehidupannya selama dua tahun belakangan. Putrinya meninggal dunia saat bencana longsor menimpa Sukajaya dua tahun lalu, menyisakan cucunya bernama Asyifa yang kini tinggal bersamanya.

“Sudah dua tahun saya tinggal di sini, sama cucu. Ibunya ini, anak ketiga saya, meninggal waktu kejadian. Diangkat sama ABRI waktu itu,” ujar Mumun dengan mata berkaca-kaca.

Keinginan Mumun tak banyak. Ia hanya ingin tinggal di tempat yang layak atau hunian tetap (huntap) yang tak kunjung didapatnya. Sehari-hari Mumun hanya bisa menunggu bantuan makanan datang kepadanya serta memanfaatkan air gratis yang diberikan dari pesantren sekitar.

Pinginnya cepat dibikinin (huntap) saja. Di sini mah kalau hujan angin besar suka bocor,” ujarnya.

Keluarga Mumun merupakan salah satu dari 2.952 kepala keluarga (KK) yang menjadi korban bencana alam tanah longsor awal 2020 silam. Di tengah gemuruhnya sorak-sorai pada malam tahun baru, 10 desa di Kecamatan Sukajaya porak-poranda dilanda tanah longsor.

photo
Warga melihat kondisi jembatan perbatasan Kecamatan Sukajaya dan Kecamatan Nanggung yang terputus di Desa Urug, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (7/9/2021). Ambruknya jembatan yang disebabkan banjir bandang aliran Sungai Cidurian itu mengakibatkan akses jalan warga antar Kecamatan terputus. - (ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/rwa.)

Sekretaris Camat Sukajaya Tirta Juwarta menyebutkan, dari 2.952 KK yang terdampak longsor, baru 358 di antaranya memiliki hunian tetap.

“Sisanya 2.000 KK lebih menunggu adanya hunian tetap,” ujar Tirta ketika ditemui di kantor Kecamatan Sukajaya, tak jauh dari huntara Desa Pasir Madang.

Tirta menyebutkan, sembilan kepala desa sudah mengusulkan secara parsial terkait titik lokasi pembangunan hunian tetap. Semua ajuan tersebut sudah ditindaklanjuti oleh Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor unyuk diuji kelayakan dan kemanan lokasi tersebut.

Dari sekian titik yang diajukan, tahun ini ada sembilan titik dari tiga desa yang sudah dilakukan uji kelayakan. Yakni tiga titik di Desa Pasir Madang, satu titik di Desa Cisarua, dan lima titik di Desa Cileuksa. Di mana Desa Cileuksa merupakan desa yang mengalami kerusakan paling parah.

“Jadi, tahun ini ada tiga desa sudah diuji kelayakannya. Desa Cisarua, Pasir Madang, dan Cileuksa yang sudah ditetapkan, dipersiapkan, dan dilakukan land clearing,” kata Tirta.

Kepala Desa Kiara Pandak Tedy Sofyan sudah mengajukan pembangunan 258 hunian tetap ke Pemkab Bogor. “Mereka memanfaatkan toilet dari relawan. Dapat air bersih dan aliran listrik. Saat ini statusnya masih gratis, nggak tahu ke depannya bagaimana,” ujarnya.

Sementara, Kades Sukajaya Mamat mengungkapkan, sebagian warganya justru telah angkat kaki. Dari 108 KK yang terdampak, hanya 32 KK di antaranya yang menempati huntara. Sedangkan, sisanya lebih memilih untuk menumpang di rumah saudaranya.

“Dapat air bersih susah. Kadang warga harus bolak-balik ambil pakai jeriken. Sekarang sudah pada ‘minggat’ gara-gara air itu,” ujarnya.


PBB Himpun Fakta Pembunuhan Abu Akleh

Israel menarik dugaan bahwa Abu Akleh gugur akibat tembakan dari militan Palestina

SELENGKAPNYA

Kematian Diduga Hepatitis Akut Bertambah

Kemenkes masih melakukan investigasi terkait penyebab penyakit hepatitis akut misterius.

SELENGKAPNYA

Kemenag Lobi Saudi Perluas Fast Track

Kemenag telah mengirimkan surat balasan dari Kerajaan Saudi untuk pengecekan persiapan haji.

SELENGKAPNYA
×