Kerabat dan rekan-rekan menangisi jenazah jurnalis Aljazirah Shireen Abu Akleh di Ramallah, Tepi Barat, Rabu (11/5/2022). | AP Photo/Nasser Nasser

Kabar Utama

13 May 2022, 03:55 WIB

PBB Himpun Fakta Pembunuhan Abu Akleh

Israel menarik dugaan bahwa Abu Akleh gugur akibat tembakan dari militan Palestina

JENEWA – Dunia mengecam pembunuhan terhadap jurnalis Aljazirah Shireen Abu Akleh yang sedang meliput operasi militer Israel di Kota Jenin, Tepi Barat. Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sedang memverifikasi fakta-fakta kejadian tersebut. 

Abu Akleh gugur karena tembakan di kepala. Padahal, jurnalis perempuan tersebut sudah mengenakan rompi dan helm yang menandai bahwa dia adalah seorang wartawan. 

Para jurnalis yang turut melakukan peliputan bersama Abu Akleh menyatakan, pasukan Israel memang sengaja menyerang mereka. Sedangkan, Israel membantah pasukannya bertanggung jawab atas gugurnya Abu Akleh, jurnalis yang telah bergabung dengan Aljazirah sejak 1997. Sebaliknya, Israel menuding militan Palestina yang menembak Abu Akleh. 

Komisaris Tinggi PBB untuk HAM Michelle Bachelet sangat terkejut dengan pembunuhan terhadap Abu Akleh. Dia mengatakan, kantornya sedang memverifikasi data mengenai penembakan tersebut. “Kantor kami di lapangan memverifikasi fakta-fakta,” kata Bachelet lewat akun Twitter pribadinya, Rabu (11/5), dikutip laman kantor berita Palestina, WAFA, Kamis (12/5). 

photo
Warga Palestina mengarak jenazah jurnalis Aljazirah Shireen Abu Akleh sembari memberikan hormat di Ramallah, Tepi Barat, Rabu (11/5/2022). - (AP Photo/Nasser Nasser)

Bachelet mendesak pihak berwenang melakukan penyelidikan independen dan transparan atas pembunuhan Abu Akleh. “Impunitas harus diakhiri,” ujarnya.

Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) juga telah menyerukan penyelidikan independen untuk kasus Abu Akleh. “Penting bahwa penyelidikan menyeluruh serta independen mengklarifikasi semua keadaan insiden ini sesegera mungkin, dan bahwa mereka yang bertanggung jawab dibawa ke pengadilan,” kata Layanan Tindakan Eksternal Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Uni Eropa menekankan, tindakan menargetkan jurnalis yang tengah melaksanakan tugas adalah sesuatu yang tak dapat diterima. “Wartawan yang meliput situasi konflik harus dipastikan keamanan dan perlindungannya setiap saat.” 

Duta Besar AS untuk PBB Linda Thomas-Greenfield menyampaikan, kematian Abu Akleh harus diselidiki secara transparan. Ia mendorong kedua belah pihak, yaitu Israel dan Palestina, berpartisipasi dalam penyelidikan untuk mengungkap kejadian yang sebenarnya. 

Pemerintah AS sangat mengutuk pembunuhan terhadap Abu Akleh yang juga merupakan warga negara AS. "Kami sedih mengetahui pembunuhan jurnalis Palestina-Amerika, Shireen Abu Akleh, dan cederanya produser Ali Samoudi. Kami menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga, teman-teman, dan mengutuk keras pembunuhan terhadapnya," kata Sekretaris Pers Gedung Putih Jen Psaki lewat akun Twitter resminya. 

Dia mengungkapkan, Abu Akleh adalah jurnalis kawakan dan memiliki perhatian pada isu di kawasan. Kematiannya tentu diratapi oleh semua orang yang mengenalnya.

Psaki mengatakan, pekan lalu, dunia baru saja memperingati World Press Freedom Day. Peringatan itu menandai peran signifikan jurnalis dalam arus bebas informasi, ide, opini, termasuk perbedaan pendapat sebagai hal yang esensial bagi masyarakat inklusif dan toleran. 

Psaki menekankan, AS mendorong investigasi atas kasus kematian Abu Akleh. "Kami menyerukan penyelidikan segera dan menyeluruh serta pertanggungjawaban penuh. Menyelidiki serangan terhadap media independen dan menuntut mereka yang bertanggung jawab adalah sangat penting," ucapnya. 

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett sempat mengeklaim, berdasarkan informasi yang diperolehnya, ada kemungkinan besar orang-orang Palestina bersenjata telah menembak para wartawan yang meliput di Jenin. "Mereka yang menembak dengan liar adalah orang-orang yang menyebabkan kematian jurnalis malang itu," kata Bennett.

Sejumlah pejabat Israel juga menyertakan video yang menunjukkan militan Palestina meneriakkan berhasil menewaskan tentara Israel sebagai bukti karena tak ada tentara Israel tertembak saat itu. Kendati demikian, lembaga pegiat HAM dari Israel. B'Tselem, menyelidiki lokasi video dan menyimpulkan tak mungkin tembakan dari arah itu mengenai Abu Akleh di lokasi ia gugur.

Palestina juga telah menyangkal klaim Israel tersebut. Menurut Palestina, tak ada kelompok militan di antara warga mereka, terlebih memiliki senjata berat. Hal itu mengingat ketatnya pengawasan Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Anggota Kongres AS, Rashida Tlaib, mendesak Pemerintah AS untuk menyelidiki pembunuhan Abu Akleh. Namun, ia menekankan, Israel sebagai pelaku kejahatan perang tidak boleh melakukan penyelidikan.

Sementara itu, militer Israel mengeklaim, penyelidikan awal menunjukkan Abu Akleh berada 150 meter dari tentara Israel. Pada Kamis (12/5), surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan penyelidikan awal yang dilakukan tentara Israel yang menunjukkan bahwa Abu Akleh berada sekitar 150 meter dari tentara Israel ketika ia ditembak di kepala hingga tewas.

Haaretz melaporkan, peluru yang digunakan berdiameter 5,56 milimeter dan berasal dari senapan laras panjang M16. Surat kabar itu menambahkan, laporan tersebut masih belum bisa menjelaskan Akleh dibunuh oleh tembakan Israel atau Palestina.

Pemerintah Palestina dan jaringan media Aljazirah yakin Abu Akleh ditembak tentara Israel. Jurnalis lain yang berada di lokasi kejadian juga mengatakan, wartawan 51 tahun itu tewas ditembak pasukan Israel.

Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Aviv Kohavi, kemudian menarik pernyataan terkait dugaan keterlibatan militan Palestina pada Kamis (12/5). Dia mengatakan, tidak jelas siapa yang menembakkan peluru mematikan itu. Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz berjanji akan melakukan penyelidikan komprehensif.

“Saat ini kami tidak tahu apa penyebab langsung kematian Shireen. Kami sangat tegas untuk melakukan penyelidikan skala penuh atas proses ini dan kami berharap mendapatkan kerja sama Palestina dalam masalah ini. Tanpa laporan temuan patologis serra temuan forensik, akan sangat sulit bagi kami untuk mengetahui apa yang terjadi di lapangan,” ucapnya.

Indonesia mengecam 

Pemerintah Indonesia turut mengecam pembunuhan terhadap Abu Akleh. Kementerian Luar Negeri mendesak penyelidikan atas pembunuhan Akleh yang tengah meliput itu.

photo
Warga Palestina mengarak jenazah jurnalis Aljazirah Shireen Abu Akleh sembari memberikan hormat di Ramallah, Tepi Barat, Rabu (11/5/2022). - (AP Photo/Nasser Nasser)

"Indonesia mengecam sangat keras pembunuhan oleh Israel terhadap koresponden Aljazirah, Shireen Abu Akleh, di Tepi Barat yang diduduki," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah, Kamis (12/5).

Faizasyah mengatakan, Indonesia mendesak untuk dilakukan penyelidikan dan investigasi transparan mengenai pembunuhan itu. "Indonesia menegaskan pentingnya solusi untuk kegiatan Israel di Tepi Barat. Sebab, kami yakin aktivitas jurnalis sudah resmi diatur di Tepi Barat," ujar Faizasyah.

Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Golkar, Meutya Hafid, mengutuk keras penembakan Abu Akleh oleh pasukan Israel. Jurnalis atau wartawan yang berada di situasi konflik bersenjata, ungkap dia, harus mendapatkan perlindungan dari kedua belah pihak yang bertikai sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum humaniter internasional.

Hal tersebut dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 4 ayat A sub 4 Konvensi IV Jenewa 1949 dan Pasal 79 Protokol Tambahan I 1977. Dalam beleid itu dinyatakan, wartawan merupakan salah satu pihak yang harus dilindungi dalam sengketa bersenjata dan selayaknya diperlakukan sebagai warga sipil.

"Saya berpendapat bahwa penembakan terhadap wartawan Shireen Abu Akleh oleh pasukan Israel termasuk dalam pelanggaran berat menurut Konvensi Jenewa 1949. Konvensi Jenewa tentang hukum humaniter internasional mengatur tentang perlindungan terhadap wartawan, baik sebagai warga sipil maupun sebagai wartawan," ujar Meutya lewat keterangan tertulisnya, Kamis (12/5).

Dengan aturan itu, ia berpandangan, penembakan brutal terhadap Abu Akleh merupakan pelanggaran berat yang masuk kategori kejahatan perang karena telah melanggar Konvensi Jenewa 1949. "Sebagai mitra Komisi I DPR, saya meminta Kementerian Luar Negeri menggalang kerja sama internasional untuk penyelidikan segera dan menyeluruh dan bagi mereka yang bertanggung jawab untuk dimintai pertanggungjawaban," ujar Meutya yang juga merupakan mantan wartawan.


‘Israel Bunuh Jurnalis untuk Bungkam Kebenaran’

Tidak ada konfrontasi antara pejuang Palestina dan tentara Israel sebagaimana yang diklaim pihak Israel.

SELENGKAPNYA

UE: Israel Wajib Lindungi Warga Palestina

AS mengecam rencana Israel membangun 4 ribu unit permukiman baru di Tepi Barat.

SELENGKAPNYA

Israel Siapkan Mikromanajemen Warga Palestina

Aturan itu menyebutkan, warga asing yang hendak menikah atau bertunangan dengan warga Palestina harus melapor ke militer Israel 30 hari sebelum acara dilakukan.

SELENGKAPNYA
×