Internasional
Serang Iran, AS Rugi Nyawa dan Rugi Harta
Selain tujuh tewas, delapan tentara AS kritis.
WASHINGTON – Markas besar Departemen Pertahanan AS mengatakan pada Selasa bahwa sekitar 150 anggota militer AS terluka dalam konflik dengan Iran. Sementara biaya yang dikeluarkan AS untuk menyerang Iran mencapai 5,6 miliar dolar AS dalam dua hari pertama.
Sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt membenarkan laporan dari Reuters yang mengatakan sebanyak 150 tentara terluka sejak operasi militer dimulai lebih dari seminggu yang lalu. Ia menegaskan bahwa angka ini baru perkiraan kasar.
Juru bicara Pentagon Sean Parnell mengatakan bahwa delapan tentara AS “terluka parah,” dan mencatat bahwa sebagian besar cedera ringan, dengan 108 anggota militer kembali bertugas.
Angka-angka ini adalah gambaran pertama mengenai jumlah korban luka yang lebih luas yang diderita oleh pasukan AS setelah rentetan serangan roket dan drone balasan dari Iran yang juga menewaskan tujuh tentara di Kuwait dan Arab Saudi.
PBS melaporkan, perkiraan yang dikirim Pentagon ke Kongres tampaknya tidak mencakup pengeluaran terkait perang lainnya selain amunisi. Penghitungannya lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya oleh analis luar, dan jumlah hariannya diperkirakan akan berfluktuasi. Perang saat ini sudah memasuki hari ke-11.
Pemerintahan Trump mengatakan pihaknya mungkin akan mencari dana perang tambahan dari Kongres, namun beberapa anggota parlemen bersikeras bahwa mereka akan menolak menyetujui dana tambahan untuk Pentagon.
RUU Pertahanan tahunan mengirimkan sekitar 838 miliar dolar AS ke Pentagon awal tahun ini dan Departemen Pertahanan diberikan dana tambahan sebesar 150 miliar dolar AS tahun lalu sebagai bagian dari RUU keringanan pajak besar Trump yang menjadi undang-undang.
“Saya mempunyai lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, terutama mengenai dampak perang,” Senator Richard Blumenthal, D-Conn., mengatakan kepada wartawan setelah pengarahan rahasia di hadapan Komite Angkatan Bersenjata Senat.
Potensi pengerahan pasukan darat Amerika untuk mencapai tujuan pemerintahan Trump adalah kekhawatiran terbesar Blumenthal. Dia juga khawatir tentang Rusia dan China yang membantu Iran.
“Rakyat Amerika berhak mengetahui lebih banyak dari apa yang telah diberitahukan oleh pemerintahan ini kepada mereka mengenai dampak perang, bahayanya bagi putra dan putri kita, dan potensi eskalasi lebih lanjut,” kata Blumenthal.
Biaya Perang
Amerika Serikat menghabiskan sekitar USD 5,6 miliar atau setara Rp 94 triliun hanya dalam dua hari pertama serangan militernya terhadap Iran. Dana raksasa ini memicu kembali sorotan terhadap kerugian besar AS dalam menyerang Iran.
Menurut laporan The Washington Post, perkiraan tersebut, yang dibagikan kepada anggota Kongres AS, hanya mencakup biaya amunisi yang digunakan pada tahap pembukaan operasi. Jumlah tersebut tidak termasuk biaya yang lebih besar untuk mengerahkan pasukan, pesawat terbang atau angkatan laut di wilayah tersebut.
Laporan ini telah memicu kekhawatiran baru di Washington mengenai berapa lama AS dapat mempertahankan kampanye militer yang begitu intens.
Para pejabat AS mengatakan kepada The Washington Post bahwa Pentagon menggunakan senjata canggih senilai sekitar 5,6 miliar dolar AS selama 48 jam pertama serangan tersebut. Ribuan serangan telah dilakukan di seluruh Iran sejak operasi dimulai.
Dana sebesar itu, di Tanah Air melampaui anggaran daerah Jakarta setahun yang nilainya sekitar Rp 91 triliun. Dana yang dihabiskan militer AS dalam dua hari itu juga lebih banyak dari gabungan APBD Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sekaligus.
Anggota parlemen AS sekarang khawatir bahwa laju operasi tersebut dapat dengan cepat menggerogoti persediaan senjata kelas atas Amerika. Menurut laporan tersebut, persediaan senjata AS sudah berada di bawah tekanan setelah bertahun-tahun memasok senjata ke Ukraina dan mempertahankan komitmen militer di Asia.
Untuk mendukung operasi di Asia Barat, sebagian aset militer telah dipindahkan dari kawasan lain. Bagian dari sistem pertahanan rudal THAAD dipindahkan dari Korea Selatan ke Timur Tengah. Pentagon juga menggunakan rudal pencegat Patriot untuk bertahan melawan drone dan rudal balistik Iran.
Analis pertahanan Mark Cancian memperingatkan bahwa tindakan seperti itu mengandung risiko. “Semakin banyak THAAD dan Patriot yang ditembakkan, semakin besar risiko yang Anda tanggung di Indo-Pasifik dan Ukraina,” katanya, menurut The Washington Post.
Menanggapi pertanyaan The Washington Post mengenai status persediaan nasional, juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell, mengatakan bahwa departemen tersebut memiliki “semua yang diperlukan untuk melaksanakan misi apapun pada waktu dan tempat yang dipilih Presiden dan pada jangka waktu apa pun.”
Angka biaya perang yang dilaporkan Pentagon itu lebih mahal dari perkiraan selama ini. Akhir pekan lalu, dua sumber di Kongres mengatakan kepada lembaga penyiar Amerika Serikat MS NOW bahwa perang tersebut diperkirakan menelan biaya sekitar 1 miliar dolar AS (Rp 16,8 triliun) per hari.
Sehari kemudian, Politico melaporkan bahwa sejumlah anggota Partai Republik di Capitol Hill secara pribadi khawatir Pentagon menghabiskan hampir 2 miliar dolar AS (Rp 33,7 triliun) per hari untuk perang tersebut.
Sedangkan laporan lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyebut Amerika Serikat telah menghabiskan sekitar 3,7 miliar dolar AS dalam 100 jam pertama perang, atau hampir 900 juta dolar AS per hari. Sebagian besar biaya tersebut berasal dari penggunaan amunisi dalam jumlah besar.
Analisis CSIS menunjukkan Amerika Serikat telah menggunakan lebih dari 2.000 amunisi berbagai jenis dalam 100 jam pertama perang.
Biaya untuk mengganti persediaan amunisi tersebut diperkirakan mencapai 3,1 miliar dolar AS, dengan tambahan biaya sekitar 758 juta dolar AS per hari.
Menurut para peneliti CSIS, sebagian besar biaya tersebut belum dianggarkan sebelumnya sehingga Pentagon kemungkinan harus meminta tambahan dana kepada Kongres.
Berapa total biaya perang?
Jika konflik berlanjut, total biaya perang kemungkinan akan meningkat tajam. Kent Smetters, direktur Penn Wharton Budget Model (PWBM), memperkirakan kepada majalah Fortune bahwa biaya keseluruhan perang bisa mencapai sekitar 65 miliar dolar AS, termasuk operasi militer serta penggantian peralatan dan amunisi.
Smetters juga mengatakan kepada Aljazirah bahwa biaya perang pada tahap awal bisa mencapai 2 miliar dolar AS per hari, tetapi kemungkinan tidak akan bertahan lama pada tingkat tersebut.
“Setelah beberapa hari pertama, kami memperkirakan biaya lebih mendekati 800 juta dolar AS (Rp 13,5 triliun) per hari,” katanya.
Analis keamanan John Phillips juga memperkirakan biaya perang sekitar 1 miliar dolar AS per hari, meski pada waktu tertentu dapat melonjak lebih tinggi.
Jika perang berlangsung lebih dari dua bulan, jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat. Analis menilai pemerintahan Trump kemungkinan harus meminta tambahan anggaran kepada Kongres untuk menutupi biaya perang yang belum dianggarkan.
Pentagon dilaporkan telah menyiapkan permintaan anggaran tambahan sekitar 50 miliar dolar AS untuk mengganti rudal Tomahawk, Patriot, dan THAAD yang digunakan pada minggu pertama perang.
Namun, permintaan anggaran tersebut berpotensi memicu perdebatan politik, terutama karena meningkatnya kekhawatiran mengenai defisit anggaran Amerika Serikat.
Berapa biaya perang per hari?
Menurut laporan The New York Times, pejabat Pentagon memberi tahu Kongres bahwa pekan pertama perang menghabiskan sekitar 6 miliar dolar AS (Rp 101,6 triliun).
Sebagian peralatan militer yang digunakan Amerika Serikat memiliki biaya sangat tinggi. Misalnya, rudal pencegat yang digunakan untuk menembak jatuh rudal Iran dapat menelan biaya jutaan dolar untuk setiap peluncuran.
Seorang mantan pejabat militer Inggris yang enggan disebutkan namanya mengatakan kepada Aljazirah bahwa biaya meningkat karena Amerika Serikat harus mengerahkan banyak aset militer tambahan di Timur Tengah di luar pangkalan permanennya.
Sejak awal Februari, Amerika Serikat dilaporkan mengerahkan lebih dari 120 pesawat militer ke kawasan tersebut, yang menjadi peningkatan kekuatan udara terbesar sejak perang Irak 2003.
Pengerahan tersebut mencakup pesawat peringatan dini E-3 Sentry AWACS, jet tempur siluman F-35, jet superioritas udara F-22, serta F-15 dan F-16. Data pelacakan penerbangan menunjukkan banyak pesawat berangkat dari pangkalan di Amerika Serikat dan Eropa, didukung pesawat kargo serta pesawat pengisian bahan bakar di udara.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
