Poster kampanye kandidat Pilpres Prancis 2022, Emmanuel Macron (kiri) dan Marine Le Pen, right, di Salies de Bearn, Prancis, SAbtu (23/4/2022). | AP Photo/Bob Edme

Kisah Mancanegara

25 Apr 2022, 03:45 WIB

Isu Hijab dalam Pemilihan Presiden Prancis  

Le Pen berjanji akan membatasi jaminan sosial hanya untuk warga Prancis asli.

OLEH LINTAR SATRIA

Prancis mulai menggelar pemungutan suara yang menentukan siapa pemimpin negara Eropa itu untuk lima tahun ke depan, Ahad (24/4). Pejawat Presiden Emmanuel Macron berhadapan dengan kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen.

Di Kota Douai yang terletak di utara Prancis, pensiunan Andrée Loeuillet (69 tahun) sudah memiliki pilihan dalam pemilihan presiden (pilpres) Prancis kali ini. Ia memilih Macron seperti pada pilpres putaran pertama 10 April lalu. Macron memenangkan putaran pertama di kota itu.

"Ia banyak cacat tapi ia juga memiliki kualitas, ia yang terbaik untuk melanjutkannya, kami hidup di masa yang sulit," katanya mengacu pada Macron.

Pegawai negeri Pascal Pauloin yang tinggal di Desa Souille dekat Le Mans mengatakan pilihan berbeda. Ia memilih kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen karena kecewa dengan Macron.

"Sejujurnya saya sangat kecewa, selama beberapa tahun Prancis kami tidak bekerja dengan baik, Macron tidak melakukan apa-apa untuk kelas menengah, dan kesenjangan dengan orang kaya semakin melebar," katanya pria 56 tahun itu.

Dalam kampanyenya, Le Pen fokus pada tingginya biaya hidup di perekonomian terbesar ketujuh di dunia. Banyak rakyat Prancis yang mengatakan biaya hidup semakin tinggi di tengah kenaikan harga energi global. Ia juga menyerang gaya kepemimpinan Macron yang menurutnya elitis.

"Pertanyaan pada pekan ini sederhana: Macron atau Prancis," kata Le Pen dalam kampanye di Kota Arras, Kamis (21/4) lalu.

Le Pen berjanji akan membatasi jaminan sosial hanya untuk warga Prancis asli, mendeportasi warga asing yang tidak bekerja dan imigran yang masuk secara ilegal. Ia berjanji akan mendahulukan warga Prancis daripada pendatang untuk lapangan kerja, jaminan sosial, kesejahteraan, dan perumahan. Kebijakan ini mungkin akan berbenturan dengan Uni Eropa.

Di antara proposalnya yang kontroversial adalah ia akan memuat aturan yang melarang hijab di seluruh tempat umum. Ia menyebut hijab sebagai "seragam Islamis" yang menyebarkan pandangan radikal keagamaan.

Macron pun pembela sekularisme yang menjadi fondasi Prancis. Namun, ia mengingatkan bahwa larangan hijab seperti itu hanya akan mengakibatkan "perang sipil". Isu hijab tampaknya akan cukup berpengaruh, mengingat Prancis adalah negara di Eropa Barat yang memiliki populasi Muslim terbanyak.

Jajak pendapat dalam beberapa hari terakhir menunjukkan keunggulan Macron. Pakar menilai walaupun Le Pen sudah memperlembut citra dan menurunkan kebijakan-kebijakan partai National Rally yang ia pimpin, tapi ia masih kesulitan meraih simpati publik.

Namun, tidak berarti Le Pen sama sekali tidak mungkin menang. Alasannya, angka pemilih mengambang demikian tinggi. Banyak rakyat Prancis yang belum memutuskan siapa yang akan mereka pilih.

Jajak pendapat menunjukkan kedua kandidat tidak dapat hanya mengandalkan pendukung setia. Hasil pemilihan tergantung siapa yang lebih banyak antara para pemilih yang takut dengan kebangkitkan sayap kanan atau pemilih yang marah dengan rekam jejak Macron selama lima tahun terakhir.

Bila Le Pen menang, maka Prancis turut mengalami gejolak politik seperti yang pernah dialami Inggris dan Amerika Serikat. Inggris ditandai dengan keluarnya mereka dari Uni Eropa dan AS dengan kebijakan era Donald Trump.

Sumber : Reuters/Associated Press


Maksimalkan Ibadah demi Lailatul Qadar

Langit disesaki malaikat yang turun ke bumi pada malam Lailatul Qadar.

SELENGKAPNYA

Berburu Kemuliaan di Sesaknya Malam

Rasulullah fokus pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk beriktikaf

SELENGKAPNYA

Mahasiswa Turun, Pemilu Jalan Lagi?

Penundaan pemilu, perpanjangan masa jabatan presiden, dan presiden tiga periode.

SELENGKAPNYA
×