IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika

Resonansi

25 Apr 2022, 03:45 WIB

Siapa yang Harus Menjaga Masjid al-Aqsha?

siapa sebenarnya yang harus melindungi dan menjaga Masjid al-Aqsha?

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Militer Israel terus merangsek Masjid al-Aqsha, termasuk ketika warga Palestina beribadah pada Ramadhan ini. Puncaknya pada Jumat (22/4), ketika sekitar 150 ribu warga Palestina shalat Jumat. Sejak pagi, pasukan pendudukan telah memasuki masjid.

Mereka memanjat atap bangunan dan menembakkan peluru karet ke arah jamaah. Bentrokan terjadi setelah shalat Jumat, antara jamaah dan pasukan Israel, menyebabkan puluhan orang cedera dan lainnya lari tunggang langgang.

Mengutip Aljazirah, sekitar 40 warga Palestina, termasuk tiga wartawan, luka ditembak pasukan pendudukan ketika terjadi bentrok di halaman Masjid al-Aqsha. Puluhan lain ditangkap.

Tindakan represif itu guna melindungi ekstremis Yahudi yang ingin memasuki masjid, bertepatan dengan -- apa yang mereka sebut -- Hari Raya Paskah. Pasukan Israel membatasi dan memeriksa ketat warga Palestina yang masuk Masjid al-Aqsha. Inilah yang memicu perlawanan.

 
Hingga kemarin, tindakan represif terus berlangsung. Lalu siapa sebenarnya yang harus melindungi dan menjaga Masjid al-Aqsha?
 
 

Hingga kemarin, tindakan represif terus berlangsung. Lalu siapa sebenarnya yang harus melindungi dan menjaga Masjid al-Aqsha?

Selama ini, setiap kali terjadi serangan ke Masjid al-Aqsha — baik oleh tentara Israel maupun ekstremis Yahudi — umat Islam di Yerusalem membuat gerakan penjagaan. Mereka dikenal dengan sebutan "al-Murabithun".

Mereka garis pertahanan terdepan untuk menjaga kesucian Masjid al-Aqsha dan mencegah Yahudisasi tempat suci umat Islam itu. Al-Murabithun merupakan warga Arab Yerusalem dan masyarakat yang menetap di sana sebelum Israel memproklamasikan pembentukan negara pada 1948.

Anggota al-Murabithun sering dituduh pembuat onar atau dicap teroris. Namun, upaya tentara pendudukan membungkam mereka hingga kini selalu gagal. Mereka terus jadi garda terdepan mempertahankan Masjid al-Aqsha.

Terutama, dari upaya ekstremis sayap kanan Israel untuk membagi Masjid al-Aqsa, untuk orang Yahudi dan umat Islam. Upaya ini telah lama dilakukan kelompok sayap kanan Israel, yang dipimpin Partai Likud dengan ketuanya mantan PM Israel Benjamin Netanyahu.

 
Anggota al-Murabithun sering dituduh pembuat onar atau dicap teroris. Namun, upaya tentara pendudukan membungkam mereka hingga kini selalu gagal. Mereka terus jadi garda terdepan mempertahankan Masjid al-Aqsha.
 
 

Upaya pembagian Masjid al-Aqsha yang sedang dan sudah mereka lakukan dimulai dari segi waktu. Ini langkah awal yang diikuti pembagian dari sisi lokasi dan dilanjutkan kontrol penuh.

Ketika itulah mereka mengubah identitas Masjid al-Aqsha dengan membangun apa yang disebut penjajah Israel al-Haikal al-Tsalis atau Kuil Ketiga Yahudi (Temple Mount) di tempat Qubbat as-Sakhrah (the Dome of the Rock).

Qubbat as-Sakhah atau Kubah Batu berupa bangunan kubah emas, dibangun pada masa Bani Umayyah antara 691 dan 715 Masehi. Yang menarik sekaligus istimewa, di sana terdapat batu yang diyakini pijakan Nabi Muhammad SAW dalam mi’raj.

Pembagian Masjid al-Aqsa dari sisi waktu, dengan mengalokasikan waktu tertentu bagi umat Islam untuk memasuki Masjid al-Aqsha dan lainnya bagi orang Yahudi.

Antara lain, umat Islam harus meninggalkan Masjid al-Aqsha dari pukul 7.30 hingga 11.00, siang hari antara pukul 13.30 sampai 14.30, dan setelah Ashar semua waktu untuk orang Yahudi dengan dalih tidak ada shalat bagi umat Islam selama waktu tersebut.

Masjid al-Aqsha juga dikhususkan untuk orang Yahudi pada hari raya mereka yang berjumlah 100 hari dalam setahun. Ini di luar hari raya Sabat sekitar 50 hari. Jadi, totalnya 150 hari per tahun. Umat Islam juga dilarang mengumandangkan azan selama hari-hari raya Yahudi.

Adapun yang dimaksudkan pembagian Masjid al-Aqsha dari segi tempat atau lokasi, masih versi Yahudi, seluruh luas masjid yang sekira 144 ribu meter persegi, pada waktu-waktu tertentu, bagian masjid diubah menjadi tempat peribadatan bagi umat Yahudi.

 
Sejak beberapa tahun lalu, Israel — ketika Netanyahu masih PM —menentukan jalan atau jalur khusus untuk orang Yahudi, sebagai persiapan membagi lokasi Masjid al-Aqsha.
 
 

Sejak beberapa tahun lalu, Israel — ketika Netanyahu masih PM —menentukan jalan atau jalur khusus untuk orang Yahudi, sebagai persiapan membagi lokasi Masjid al-Aqsha. Termasuk tempat yang direncanakan dibangun sinagog dan kuil Yahudi dalam Masjid al-Aqsa.

Pembagian Masjid-al Aqsha, mengutip Aljazirah, terungkap melalui dokumen yang ditemukan Yayasan al-Aqsha untuk Wakaf dan Warisan Budaya pada 2013.

Dokumen itu disusun aktivis Partai Likud yang menamakan diri ‘Manhigut Yehudit’, pimpinan Moshe Feiglin, wakil ketua Knesset (parlemen) waktu itu. Dokumen itu sebagai RUU dan peraturan untuk melestarikan tempat suci Yahudi di kompleks Masjd al-Aqsha.

Di sana dijelaskan dengan perinci tempat-tempat di Masjid al-Aqsha yang dikhususkan bagi umat Islam untuk shalat. Juga lokasi yang bagi umat Yahudi untuk beribadah, baik secara individulal maupun kolektif. Juga penambahan waktu dan lokasi bagi orang Yahudi beribadah di al-Aqsha.

Dokumen itu memuat pula sejumlah peraturan, termasuk renovasi dan perbaikan masjid harus dengan izin Pemerintah Israel. Dokumen itulah yang tampaknya kini dijalankan Israel.

Sejauh ini, menurut sejumlah media Arab, al-Murabithun berhasil menggagalkan upaya Yahudisasi Masjid al-Aqsha. Namun, sampai kapan? Sebagaimana biasanya, sikap pemimpin Arab dan Islam berbeda-beda menghadapi kebiadaban tentara (pemerintah) Israel.

Ada yang keras, lunak, bahkan bingung bersikap bagaimana. Yang keras pun sebatas kata-kata tanpa tindakan. Lalu, sekali lagi, siapa yang harus menjaga kiblat pertama dan tempat suci umat Islam itu? n ';

Maksimalkan Ibadah demi Lailatul Qadar

Langit disesaki malaikat yang turun ke bumi pada malam Lailatul Qadar.

SELENGKAPNYA

Berburu Kemuliaan di Sesaknya Malam

Rasulullah fokus pada sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk beriktikaf

SELENGKAPNYA

Khubaib bin Adi, Menahan Siksa Demi Agama Allah

Setiap hari, Khubaib bin Adi harus menerima siksaan.

SELENGKAPNYA
×