Christian Snouck Hurgronje | Wikimedia Commons

Dunia Islam

Snouck Hurgronje Sebagai Hamba Kolonial

Orientalis Snouck Hurgronje amat berperan dalam taktik kolonial untuk memecah-belah umat Islam Indonesia.

Berakhir sudah misi Christiaan Snouck Hurgronje (1857-1936) di Makkah al-Mukarramah. Orientalis itu terpaksa keluar dari tanah suci umat Islam tersebut karena dirinya disangkutpautkan dengan kasus terbunuhnya Charles Huber.

Bagaimanapun, pemilik nama alias Abdul Ghaffar itu tetap menjaga komunikasi dengan kawan-kawannya yakni Muslimin Jawi (Indonesia) yang bermukim di Haramain.

Tidak lama Christiaan Snouck Hurgronje “menganggur". Sebab, pemerintah kolonial Belanda tertarik dengan kecermelangannya dalam menelaah masyarakat jajahan, utamanya yang berhaji ke Tanah Suci.

Sejak Juli 1889, orientalis tersebut diamanahi tugas baru, yakni mempelajari secara (antropologis) langsung Muslimin Nusantara.

Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi daerah pertama tempatnya bekerja. Perjalanan Snouck Hurgronje ke sana dilakukannya pada 16 Juli-19 Desember 1889. Ada banyak titik disambanginya, yakni antara lain Sukabumi, Bandung, Garut, Cirebon, Ciamis, Tegal, Pekalongan, Bumiayu, Purbalingga, dan Cianjur.

Garut menjadi lokasi yang cukup istimewa. Di sanalah, Snouck Hurgronje menuliskan laporannya untuk Batavia. Jajat Burhanudin dalam Ulama dan Kekuasaan: Pergumulan Elite Politik Muslim dalam Sejarah Indonesia (2012) mengatakan, dari Garut inilah, pengetahuan alumnus Leiden University itu terhadap Islam lokal kian terbuka.

KH Hasan Mustapa (1852-1930), yang dikenalnya sejak masih di Makkah, menjadi informan utamanya sekaligus membantunya dalam menjalankan pekerjaan.

Sejak kembali dari menuntut ilmu di Tanah Suci, Kiai Hasan menjadi alim terkemuka di Garut. Seperti termaktub dalam karyanya, Gendinga, ulama yang juga penyair ini mengatakan, Abdul Ghaffar (yang tentunya adalah Christiaan Snouck Hurgronje) telah memintanya untuk mengantarkannya.

photo
Kiai Haji Hasan Mustapa - (DOK NU)

Di tengah kesibukan sebagai ulama Sunda (kikijaianan), Kiai Hasan pun menemani orang kulit putih itu berkeliling jauh (atrok-atrokan) ke seantero Jawa.

Dari perkawanannya dengan Kiai Hasan, Snouck Hurgronje memahami bagaimana ajaran, ideologi, dan ilmu-ilmu Islam ditransmisikan dari Makkah ke Nusantara. Begitu pula, bagaimana akhirnya kaum ulama berpengaruh dalam kehidupan keberagamaan di kepulauan ini.

Atas rekomendasi Hurgronje, pemerintah kolonial lantas mengangkat Kiai Hasan Mustapa sebagai kepala penghulu di Kutaraja, Aceh, pada 1893.

Di Serambi Makkah, ulama Sunda itu menjalin hubungan dengan rakyat Aceh, termasuk Teuku Umar, seorang uleebalang yang sempat bekerja sama (baca: diam-diam bersiasat) dengan Belanda—tetapi lantas berbalik melawan rezim kolonial itu. Dua tahun kemudian, lagi-lagi atas masukan Hurgronje, pemerintah kolonial menunjuk sang kiai sebagai kepala penghulu di Bandung.

Saran Hurgronje: pecah-belah umat!

Belanda berambisi besar untuk menguasai tiap inci Nusantara. Dengan berakhirnya Perang Padri di Minangkabau pada 1838, visi kolonial itu agaknya menuju feasible di Sumatra. Namun, Aceh menjadi tantangan serius. Setidaknya sejak paruh kedua abad ke-19, Belanda terus menggempur wilayah itu.

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam Api Sejarah (2009), Perang Aceh meletus setelah adanya perjanjian hubungan diplomatik antara Kesultanan Aceh dengan konsul Amerika Serikat di Singapura.

Lantas, kesepakatan itu diikuti pula antara Aceh dan Italia. Kondisi demikian, lanjut Suryanegara, mendorong Belanda (disebutnya: Kerajaan Protestan Belanda) untuk menurunkan tiga ribu serdadunya dalam rangka menduduki Banda Aceh pada Maret-April 1973.

Serangan Belanda disambut rakyat, ulama, dan umara Aceh dengan semangat jihad fii sabilillah. Sesungguhnya, Aceh menjalin relasi yang baik dengan Kekhilafahan Turki Utsmaniyyah. Hanya saja, Turki kala itu sedang disibukkan berbagai perang di sekitar negerinya.

Praktis, Turki tak dapat lagi memberikan bantuan militernya ke Nusantara—termasuk Aceh—yang sedang dilanda imperialisme Barat. Akibatnya, Suryanegara mengatakan, Aceh harus mandiri dalam menghalau Belanda.

photo
Para jenderal Hindia Belanda dalam Perang Aceh. Orientalis Christiaan Snouck Hurgronje berperan besar dalam taktik Belanda untuk melumpuhkan Aceh. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada praktiknya, Belanda menjalankan politik pecah belah (devide et impera). Kalangan uleebalang dibuat berpihak kepada penjajah. Alhasil, militer Belanda menyatakan Perang Aceh berakhir pada 1881. Padahal, Aceh tak hanya milik bangsawan yang telah mengadakan kerja sama dengan Belanda.

Gelombang perlawanan pun terus berlanjut, terutama dengan pimpinan ulama setempat, semisal Tengkoe Tjik Di Tiro (1836-1891). Perjuangan juga digelorakan Cut Nyak Dhien (1848-1908) hingga akhirnya istri Teuku Umar itu ditangkap pasukan kolonial pada 1904.

Maka dari itu, Suryanegara meyakini, sesungguhnya Perang Aceh baru benar-benar berakhir saat menyerahnya Belanda kepada balatentara Jepang pada 8 Maret 1942. Kurun waktu antara 1881 dan 1942, dengan demikian, menjadi fase penting bagi penerapan proyek kolonial dalam melihat karakteristik Islam di Aceh. Terkait hal ini, Christiaan Snouck Hurgronje berperan besar.

Mulanya, Belanda meyakini operasi militer yang sadis dapat melumpuhkan semangat pemimpin dan rakyat Aceh. Faktanya, jauh panggang dari api. Tak kurang dari 17 ribu pasukan Belanda tewas di tangan pejuang-pejuang Aceh. Christiaan pun memberi masukan kepada JB van Heutsz, Belanda harus menggunakan bantuan kalangan uleebalang.

Proyek sang orientalis difokuskan memecah belah umat Islam di Tanah Air. Dalam pandangan Christiaan, seperti dijelaskan Burhanudin, Belanda dapat merangkul para pemuka adat di tiap daerah. Baik uleebalang (di Aceh) maupun penghulu (di Jawa) hendaknya difasilitasi dalam menikmati kehidupan di bawah pemerintahan kolonial. Harapannya, masyarakat Hindia Belanda lainnya akan ikut tunduk.

Kasus Teuku Umar menunjukkan, saran Snouck Hurgronje didengarkan penguasa. Namun, sang uleebalang toh akhirnya berbalik melawan Belanda.

Secara umum, menurut Burhanuddin, Snouck Hurgronje membangun visinya tentang Hindia Belanda sebagai “yang terbaratkan”, yang menjadi bagian dari "Belanda Raya".

Cita-cita ini mewujud dalam proyek “emansipasi” atau “asimilasi” sejak permulaan abad ke-20 M. Kalangan priyayi atau ningrat Pribumi menjadi yang paling memungkinkan didekati rezim kolonial untuk merealisasikan “pemberadaban” ini.

photo
Christiaan Snouck Hurgronje Dok Wikipedia - (DOK Wikipedia)

Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda (1986) menjabarkan bagaimana pandangan dan sikap sang doktor Leiden ini terkait Islam di Tanah Air. Dalam sebuah artikelnya di Indische Gids, Christiaan Snouck Hurgronje memperingatkan, Islam berbahaya bagi Belanda. Harapan untuk mengkristenkan seluruh Nusantara hanyalah sebatas impian. Secara jeli, sang orientalis memaparkan besarnya pengaruh kebudayaan santri. Kalangan inilah yang mesti terus dipojokkan.

Untuk menghadapi Muslimin di Nusantara, Christiaan menyarankan pemerintah kolonial agar membuat kebijakan-kebijakan yang membatasi Islam hanya menjadi kepercayaan ritual atau “agama masjid” belaka.

Ia menyarankan, kalau perlu, pendekatan militeristik yang tegas dapat diterapkan bagi siapapun pemuka agama yang menerjemahkan Islam sebagai inspirasi gerakan-gerakan politik melawan imperialisme-kolonialisme.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Kasus Kuota Haji Bergulir Liar ke PBNU

KPK memeriksa Aizzudin sebagai saksi kasus dugaan korupsi kuota haji.

SELENGKAPNYA

Pengetahuan Tradisional di Persimpangan Eksploitasi dan Pelestarian

Terjadi fenomena biopiracy yakni tindakan mengomersialisasi pengetahuan tradisional tanpa izin.

SELENGKAPNYA

Kisah Cinta Sahabat Nabi

Sang sahabat Nabi dari Persia ini mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.

SELENGKAPNYA