Khubaib bin Adi | arabiccalligraphygenerator

Sirah

24 Apr 2022, 11:45 WIB

Khubaib bin Adi, Menahan Siksa Demi Agama Allah

Setiap hari, Khubaib bin Adi harus menerima siksaan.

Pada tahun ke-3 Hijriyah, beberapa utusan dari kabilah Udal dan Qarah mendatangi Rasulullah SAW. Mereka telah mendengar tentang Islam.

Untuk itu, mereka meminta Nabi Muhammad mengirim utusan agar dapat mengajarkan Islam kepada mereka. Maka, Rasulullah pun mengutus 10 sahabat untuk memenuhi permintaan tersebut. Rasulullah menunjuk Ashim bin Tsabit sebagai amir (pemimpin) mereka.

Namun, di suatu tempat, di antara Usfan dan Makkah, kelompok kecil ini diintai oleh sekitar 100 pemanah dari bani Lihyan. Mengetahui hal tersebut, Ashim segera memerintahkan teman-temannya agar segera berlindung ke sebuah bukit kecil.

Sebenarnya, Ashim dan kawan-kawan berhasil mengelabui pasukan pemanah musyrik tersebut. Namun, Allah SWT berkehendak lain. Biji-biji kurma yang mereka bawa sebagai bekal dari Madinah tercecer sepanjang jalan, memberi petunjuk keberadaan rombongan Ashim. Akhirnya, kesepuluh sahabat itu pun terkejar.

"Kami berjanji tidak akan membunuh seorang pun di antara kalian jika kalian menyerah," teriak salah seorang musyrik yang mengepung mereka. "Kami tidak akan menerima perlindungan orang kafir. Ya Allah, sampaikan berita kami kepada Nabi-Mu," jawab Ashim tegar.

 
Khubaib menjadi bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan, dan taat beribadah ini harus menerima siksaan.
 
 

Maka, rombongan musyrik itu pun menyerang dan berhasil membunuh Ashim serta enam sahabat lain hingga tinggallah Khubaib bin Adi, Zaid bin Datsinah, dan seorang sahabat. Orang-orang musyrik itu kemudian menangkap dan mengikat ketiganya.

Namun, sahabat yang tidak diketahui namanya itu kemudian memberontak sambil berteriak, "Ini adalah pengkhianatan pertama!" serunya sambil berusaha melawan. Ia pun syahid. Selanjutnya, Khubaib dan Zaid dibawa ke Makkah dan dijual sebagai budak.

Sementara itu, bani Harits yang selama ini menyimpan dendam kesumat terhadap Khubaib mendengar berita tertangkapnya Khubaib. Rupanya nama Khubaib telah mereka hapal luar kepala karena dialah yang membunuh Harits bin Amir, seorang pemuka Makkah, pada Perang Badar. Maka dengan penuh antusias Khubaib pun mereka beli.

Khubaib menjadi bulan-bulanan seluruh anggota al-Harits. Setiap hari sahabat Anshar yang dikenal bersifat bersih, pemaaf, teguh keimanan, dan taat beribadah ini harus menerima siksaan.

Hingga suatu hari salah seorang putri keluarga tersebut berteriak terkejut, memberitakan bahwa budak sekaligus tawanan mereka sedang santai dan tenang-tenang memakan buah anggur.

Padahal, buah tersebut sedang tidak musim di Makkah dan Khubaib pun diikat tangannya dengan rantai besi. Keluarga al-Harits menakut-nakuti Khubaib bahwa saudara sekaligus sahabatnya, Zaid, yang juga dibeli keluarga Makkah lainnya, telah dieksekusi.

Namun, berita kejam nan sadis ini ternyata tidak berhasil membuat hati Khubaib ketakutan apalagi berpaling dari keimanannya.

 
Inilah shalat sunah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian. 
 
 

Sebaliknya, hal ini justru membuat dirinya lebih pasrah terhadap ketentuan-Nya. Akhirnya, keluarga al-Harits pun putus asa. Mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi tawanan yang tegar itu.

Namun, sebelum eksekusi dijalankan, Khubaib memohon agar diperbolehkan melakukan shalat terlebih dahulu. Maka, Khubaib mendirikan shalat dua rakaat.

Inilah shalat sunah pertama yang dilakukan seorang Muslim ketika akan menghadapi kematian. Kemudian, Khubaib melantunkan sebait syair:

Mati bagiku tak menjadi masalah

Asalkan dalam ridha dan rahmat Allah

Dengan jalan apa pun kematian itu terjadi

Asalkan kerinduan kepada-Nya terpenuhi

Kuberserah kepada-Nya

Sesuai dengan takdir dan kehendak-Nya

Sementara itu, Rasulullah yang ketika itu berada di Madinah secara mendadak mengutus Miqdad bin Amar dan Zubair bin Awwam untuk segera menyusul ke tempat Khubaib wafat.

Padahal, ketika itu tak ada satu pun orang Madinah yang mengetahui peristiwa nahas tersebut. Setiba mereka di tempat yang dimaksud, Khubaib telah tiada. Senyum kedamaian tergurat di wajahnya. Dengan menahan kedukaan yang mendalam, kedua utusan tadi kemudian mengubur jenazah sahabat itu sewajarnya. 

Disadur dari Harian Republika edisi 18 Agustus 2019 


Jualan, Tapi Nggak Ada Modal

Bisnis tanpa modal atau jualan tanpa modal itu dibolehkan dengan memenuhi ketentuan tertentu.

SELENGKAPNYA

Rebutlah Keberkahan Ramadhan

Banyak isyarat dalam Alquran agar kita bersegera dalam melakukan kebaikan.

SELENGKAPNYA

Hudzaifah, Pemegang Rahasia Rasulullah

Hudzaifah banyak meriwayatkan hadis karena kedekatan secara personal dan spiritual dengan Rasulullah SAW.

SELENGKAPNYA
×