Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

10 Apr 2022, 04:26 WIB

Awal Mula Muslim Indonesia Menunaikan Shalat di Tanah Lapang

Comite Lebaran berhasil mendapat izin mengadakan shalat di Tanah Lapang Singa.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

Meski shalat Tarawih itu diadakan di Times Square, New York, ternyata ada juga orang Indonesia yang menghujatnya, seperti halnya jika kejadian itu ada di Indonesia. Baru-baru ini juga, banyak orang menghujat aksi membaca Quran di kawasan Malioboro, Yogyakarta.

Sebelum-sebelumnya, hujatan muncul ketika ada shalat berjamaah di kawasan Monas dan sebagainya. Hujatannya sama, sudah disediakan masjid kok beribadah di jalanan. Tapi, tak ada hujatan ketika ada yang menari Jawa di kawasan Malioboro, Yogyakarta, dan Bundaran HI, Jakarta. Yang ada justru pujian, meski mereka tidak menari di gedung pertunjukan.

Yang satu tuntunan, dianggap tidak boleh diperlihatkan di depan publik. Sementara, yang satu tontonan, dianggap bagus jika diperlihatkan di depan publik. Terlepas dari pro-kontra mengenai hal ini, hujatan terhadap Islam memiliki sejarah yang panjang di Indonesia.

 
Yang satu tuntunan, dianggap tidak boleh diperlihatkan di depan publik. Sementara, yang satu tontonan, dianggap bagus jika diperlihatkan di depan publik.
 
 

Pemandangan edisi 11 November 1939 --sehari sebelum Lebaran-- menyinggung hujatan yang terus mengalir. “Kalau kita dikatakan kafir atau agama kita ditjela atau dihinakan, dikatakan agama jang kolot, maka mendidihlah darah kita,” tulis sebuah artikel menyambut Lebaran di Pemandangan itu.

Koran itu memuat foto Comite Lebaran yang mengajak “Sembahjang Hari Raja di Tanah Lapang Singa (Waterlooplein)”. Setelah kemerdekaan, Tanah Lapang Singa diganti dengan nama Lapangan Banteng.

Singa adalah binatang yang dijadikan logo Kerajaan Belanda dan banteng adalah binatang yang dijadikan simbol perlawanan terhadap singa oleh bangsa Indonesia.

Comite Lebaran yang dibentuk pada 7-8 November 1939 itu telah berhasil mendapat izin mengadakan shalat di Tanah Lapang Singa. Pemandangan juga memuat pengumuman:

Bersama2 ketanah lapang Singa

Oentoek sembahjang hari raja.

Dari pengoeroes Pertemoean Moeslimin Def. lijn v/d Bosch 161, dikabarkan pada kita bahwa Pengoeroes terseboet akan berangkat bersama2 ketanah lapang Singa oentoek bersembahjang Hari Raja dengan mengadjak segala ledennja dan orang2 jang berdekatan dengan tempat tsb, dengan melaloei Def v.d. Bosch dan memoetar kekiri pada Laan Cornelius dan teroes meloeroes ketengah2 tanah lapang Singa tempat sembahjang, seraja bertakbir bersama sama.

Alangkah baiknja oepatjara jang begitoe ditiroe poela oleh oemat Islam jang datang dari lain tempat seperti jang diperboeat oleh P.M. terseboet? Tjobalah adjak kawan-kawan bersama-sama!

Shalat di tanah lapang pada 1939 itu merupakan kali ke-12 di Batavia sejak 1934. Pada 19 Januari 1934, Pemandangan memuat foto shalat Id di Kramat dengan penjelasan:

Pada hari Rebo jbl., jaitoe hari lebaran, oentoek pertama kali beriboe orang kaoem Moeslimin dikota Djakarta ini mengadakan sembahjang Aidilfitri ditanah lapang K.B.I. di Struiswijkstraat (Gang Tengah).

Disini nampak orang sedang membatja choetbah jang sebagian besar dibahasa Melajoekan, dengan diperkoeat poela soeara oleh perkakas “luidspreker”. (KBI adalah Kepandoean Bangsa Indonesia).

 
Dicatat oleh dr GF Pijper bahwa shalat Id di tanah lapang setidaknya sudah diadakan pada 1927 dan diikuti oleh 10 ribu jamaah.
 
 

Di Yogyakarta, seperti ditulis De Locomotief edisi 5 Januari 1935, dicatat oleh dr GF Pijper bahwa shalat Id di tanah lapang setidaknya sudah diadakan pada 1927 dan diikuti oleh 10 ribu jamaah. Saat itu, jamaah perempuan yang telah memiliki masjid perempuan belum ikut shalat di tanah lapang. Sebelumnya, perempuan mendapat tempat sempit di masjid, dibatasi dengan kain tinggi.

Pada Lebaran 1939, Pemred Pemandangan M Tabrani mengirimkan edisi Lebaran korannya ke De Indische Courant yang disikapi dengan nyinyir oleh redaksi De Indische Courant. Yang dinyinyiri adalah kegiatan shalat di tanah lapang itu.

De Indische Courant edisi 21 November 1939 menyebut shalat di tanah lapang sebagai demonstrasi “dalam diam” sekaligus ekspresi ibadah keagamaan yang didasari oleh sikap nasionalistik --jika tak boleh disebut sikap politik.

Mengumpulkan orang-orang --laki dan perempuan— di tanah lapang untuk melakukan shalat Id menjadi aksi melepaskan kelas sosial dan sikap hormat feodal yang selama ini selalu ditemukan dalam pertemuan-pertemuan dengan penguasa. Tak ada batas kelas sosial dan sikap hormat feodal dalam pelaksanaan shalat di tanah lapang.

“Dunia Islam membuka matanya dan dengan sungguh-sungguh menyadari bahwa tidak cukup hanya duduk di bawah tempurung kelapa,” tulis koran itu.

 
Untuk pertama kali di Batavia, shalat Id di tanah lapang diadakan di daerah Kramat pada 17 Januari 1934.
 
 

Untuk pertama kali di Batavia, shalat Id di tanah lapang diadakan di daerah Kramat pada 17 Januari 1934. Pengumuman yang dimuat di Pemandangan edisi 16 Januari 1934 berbunyi sebagai berikut:

Sembahjang ‘Aidilfitri ditanah lapang

Belakang Halte S.S.

Kramat Gang Tengah

Pengoeroes Moehammadijah tjabang Djakarta minta kita moeatkan seroean kepada sekalian kaoem Moeslimin penduduk Djakarta, soepaja membesarkan sji’ar Islam dengan mengoendjoengi sembahjang ‘Aidilfitri ditanah lapang terseboet.

Diperingatkan poela, karena Comite tidak menjediakan tikar, maka diharap orang-orang akan membawa alas (tikar) sembahjang sendiri2.

Comite telah menjediakan pesawat “luid spreker” setjoekoepnja, soepaja choetbah dihari itoe dapat didengar dengan terang oleh segenap jg. hadir.

Djam 6 pagi dan djam 8 sewaktoe hendak sembahjang, akan diberi tanda dengan letoesan bom.

Moedah-moedahan sekalian oemmat Moeslimin di ini kota soedi memperhatikan kiranja. (SS adalah Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik negara).

Pada 1950, setelah ibu kota pindah dari Yogyakarta ke Jakarta, untuk pertama kali Presiden Sukarno ikut melaksanakan shalat Id di tanah lapang. Shalat diadakan di Lapangan Banteng, seperti dilaporkan Indische Courant voor Nederland edisi 22 Juli 1950, diikuti sekitar 20 ribu jamaah.

 
Pada 1950, setelah ibu kota pindah dari Yogyakarta ke Jakarta, untuk pertama kali Presiden Sukarno ikut melaksanakan shalat Id di tanah lapang.
 
 


Memuliakan Tetangga

Allah SWT menyuruh kita berbuat baik kepada tetangga yang jauh maupun dekat.

SELENGKAPNYA

Anak Memberikan Nafkah untuk Orang Tua, Wajibkah?

Bagaimana hukumnya jika anak memberikan nafkah kepada orang tua, apakah wajib?

SELENGKAPNYA

Awal Mula Muslim Indonesia Menunaikan Shalat di Tanah Lapang

Comite Lebaran berhasil mendapat izin mengadakan shalat di Tanah Lapang Singa.

SELENGKAPNYA
×