Menakar nilai ekonomi haji dan umrah. | Republika/Thoudy Badai

Teraju

03 Apr 2022, 05:29 WIB

Menakar Nilai Ekonomi Haji dan Umrah

Kita berharap geliat ibadah haji dan umrah kembali pulih seiring meredanya pandemi Covid 19.

OLEH AHSIN ALIGORI, Peneliti IDEAS; ASKAR MUHAMMAD, Peneliti IDEAS; MUHAMMAD ANWAR, Peneliti IDEAS

Labbaika allahumma labbaik, Labbaika laa syariika laka labbaik, Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syariikalaka.

Menunggu selama dua tahun karena Covid-19 serasa menunggu berabad tahun lamanya. Perasaan ini muncul di hati para calon jamaah haji dan umrah karena Pemerintah Arab Saudi memberhentikan sementara penyelenggaran haji dan umrah dengan alasan pandemi.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia mendapatkan kuota jamaah haji sekitar 200 ribuan dan diprediksi akan terus meningkat. Tiba-tiba anjlok karena pandemi. Hanya penduduk Indonesia yang lama tinggal di Saudi yang bisa menunaikan haji. Begitu pun dengan umrah, selama masa pandemi terjadi penghentian pemberangkatan sementara dengan alasan yang sama. 

Bulan Dzulhijjah menawarkan dua ibadah utama kepada umat Islam. Kedua ibadah ini menjanjikan pahala dan ganjaran besar yang kelak akan menjadi bekal di akhirat. Kedua ibadah ini adalah haji dan kurban.

photo
TERHENTI HAJI DAN UMRAH DI MASA PANDEMI. Memulihkan Haji dan Umrah Indonesia Pasca Pandemi 2016-2021. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Namun, untuk memperoleh keutamaan kedua ibadah ini, tak sedikit uang yang harus dibelanjakan. Maka tak jarang jika kita sering mendengar bahwa Dzulhijjah dimaknai sebagai bulan berbelanja umat Islam. Karena besarnya dana yang harus dikeluarkan, kedua ibadah ini juga memiliki dimensi ekonomi yang sangat kuat.

Para calon jamaah haji utamanya, rela menunggu antrean keberangkatan sambil menyiapkan semua perbekalan dan biaya keberangkatan ke Tanah Suci, baik haji khusus ataupun reguler. Jika tidak mendapatkan antrean dalam jangka waktu dekat, alternatif lain adalah ibadah umrah.

Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah merupakan daerah penyumbang terbesar jamaah haji dan umrah. Hampir 70 persen kontribusi jamaah berasal dari Pulau Jawa. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingkat keagamaan dan tingkat ekonomi masyarakat Muslim.

photo
BESAR KEINGINAN KE TANAH SUCI. Kuota Haji Reguler yang Terbatas dan Umrah-Haji Khusus. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Umrah, Haji, dan Perekonomian

Secara teori ekonomi, suatu tindakan akan menghasilkan dampak ekonomi ketika tindakan itu melibatkan pengeluaran atau perbelanjaan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam ilmu ekonomi, pengeluaran seseorang adalah pendapatan orang lain.

Secara sederhana, ketika membelanjakan uang untuk membeli suatu barang, maka uang akan berpindah tangan ke penyedia barang. Uang tersebut kemudian menjadi pendapatan para penjual.

Inilah perekonomian, tindakan berbelanja satu orang akan menciptakan rantai perbelanjaan seterusnya.

photo
BESAR POTENSI WISATA HATI. Pengeluaran BPIH Umrah dan Perjalanan Rohani. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Dalam kaitan dengan ibadah umrah dan haji, calon jamaah akan mengeluarkan hartanya untuk pendaftaran haji atau umrah. Berdasarkan data Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) terlihat bahwa pengeluaran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH), umrah, dan perjalanan rohani masyarakat mencapai Rp 21,71 triliun pada 2019 dan Rp 22,16 trilun pada 2020.

Jika kita telisik alur uangnya, sebagian besar uang yang dikeluarkan oleh calon jamaah akan dialirkan ke luar negeri untuk membiayai perjalanan haji atau umrah. Memang terdapat sedikit dana yang mengalir menjadi keuntungan jasa agen pemberangkatan haji atau umrah, tetapi jumlahnya tidak signifikan.

Selain itu, sebagian besar dana dialirkan ke luar negeri, khususnya ke Arab Saudi sebagai negara penyelenggara umrah dan haji.

Jika kita berhenti hanya di sini, maka dampak ekonomi dari ibadah umrah dan haji tidaklah besar bagi Indonesia. Terlepas dari pengelolaan dana haji yang dilakukan Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) -- yang dilaporkan sebesar Rp 150,2 triliun pada 2021-- pengeluaran untuk umrah dan haji diprediksi minim manfaat untuk perekonomian Indonesia.

photo
DAMPAK EKONOMI SEJAK DI TANAH AIR. Belanja Calon Jamaah Sebelum Berangkat Haji Umrah. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Fakta di lapangan bahwa calon jamaah haji atau umrah tetap mengeluarkan biaya persiapan ketika jelang keberangkatan. Lebih dari 70 persen jamaah umrah dan haji mengaku bahwa mereka melakukan belanja pakaian sebelum berangkat haji atau umrah.

Ada sebagian kecil yang melakukan perbelanjaan makanan, obat-obatan, koper atau ransel, alat komunikasi, dan lainnya.  Pola berbeda antara jamaah haji dan umrah terlihat pada pos belanja syukuran yang sudah menjadi budaya di masyarakat menjelang keberangkatan haji, lebih banyak diselenggarakan. Mereka mengeluarkan biaya cukup besar untuk keperluan tersebut.

Melalui asesmen terhadap Tabel Input-Ouput (IO) 185 sektor, ditemukan bahwa sektor perekonomian dalam negeri yang terdampak tidaklah sedikit. Ketika seorang calon jamaah umrah atau haji melakukan perbelanjaan makanan, obat-obatan, dan untuk syukuran, secara tidak langsung terdapat lebih dari 15 sektor perekonomian lain yang menerima spillover effect.

Secara total, IDEAS memperkirakan bahwa spillover effect dari kegiatan perbelanjaan calon jamaah haji dan umrah di dalam negeri akan menyebar ke 101 sektor perekonomian. Luasnya daya sebar dari perbelanjaan jamaah sebelum keberangkatan haji dan umrah menunjukkan masifnya dampak ekonomi dari haji dan umrah.

photo
PETA DAMPAK SEKTORAL EKONOMI HAJI DAN UMRAH. Dipetakan berdasarkan atas asesmen IDEAS. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Menghitung Potensi Ekonomi Haji dan Umrah

Penyusunan indeks untuk menghitung potensi ekonomi umrah dan haji sangat diperlukan dalam kajian ini. Dengan memasukkan tiga komponen, yaitu 1) Komponen kecenderungan masyarakat untuk menabung (marginal propensity to save atau MPS), yang dikonstruksi dari data Sakernas. 2) Komponen pengeluaran expenditure seperti pengeluaran untuk BPIH dan perjalanan rohani berdasarkan data Sakernas pula. 3) Komponen partisipasi masyarakat terdiri atas jumlah penduduk yang melakukan pengeluaran untuk BPIH, umrah, dam perjalanan rohani se-provinsi, jumlah jamaah haji aktual se-provinsi, dan persentase penduduk Muslim provinsi.

Berdasarkan hasil indeks potensi ekonomi haji dan umrah terdapat lima provinsi yang angkanya di atas rata-rata 0.33. Artinya, 5 daerah ini penyumbang kontribusi potensi terbesar secara ekonomi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Banten.

Pada 2019, penduduk Muslim di Pulau Jawa mengalokasikan sekitar 30 persen dan di luar Pulau Jawa hanya 19 persen untuk tabungan perjalanan haji dan atau umrah.

Pada 2019, Pulau Jawa masih menikmati dampak ekonomi umrah dan haji terbesar. Provinsi lain di luar Pulau Jawa tampak tidak begitu menikmati dampak yang begitu besar. Hanya Sulawesi Selatan yang memperoleh cukup besar manfaat ekonomi haji.

photo
FAKTOR-FAKTOR PENENTU ZIARAH SUCI. Membangun Indeks Potensi Ekonomi Haji Umrah. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Hal ini wajar sebab Pulau Jawa selama ini memang merupakan pusat perekonomian nasional. Sekitar 60 persen perekonomian nasional ditopang oleh Pulau Jawa sehingga wajar jika jumlah pengeluaran dan kemampuan menabung masyarakatnya juga besar.

Di sisi lain, mayoritas penduduk Pulau Jawa juga beragama Islam. Hal ini memperbesar partisipasi masyarakatnya pada ibadah umrah atau haji. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari ibadah haji dan umrah tidak hanya dirasakan di Arab Saudi, melainkan juga di Tanah Air. 

Tidak dapat dihindarkan juga dampak dari pendemi Covid-19 ini menurunkan potensi ekonomi haji. Pada 2020, rata-rata nilai ekonomi haji turun 42 persen.  Provinsi di luar Pulau Jawa mengalami kehilangan nilai potensi ekonomi haji lebih besar dibandingkan Pulau Jawa.

photo
MENGUKUR POTENSI EKONOMI PERJALANAN SUCI. Indeks Potensi Ekonomi Haji Umrah Provinsi 2019-2020. Diolah IDEAS - (IDEAS/Dialektika Republika)

Dua hal yang menjadi faktor penurunan nilai potensi ekonomi haji. Pertama, pada saat pandemi masih bukan prioritas masyarkat Muslim mengalokasikan pengeluarannya untuk perjalanan haji dan umrah. Hal ini berdampak bagi sektor rantai pasok haji dan umrah terjadi kelesuan.

Kedua, kebijakan Pemerintah Saudi memberhentikan sementara karena masalah pandemi.

Kita berharap ke depan geliat ibadah haji kembali pulih seperti semula seiring dengan meredanya pandemi Covid 19 dan meningkatknya kembali perekonomian khususnya Indonesia. Sehingga, semua sektor yang berhubungan dengan haji dan umrah merasakan kembali nilai ekonomi dari aktivitas ibadah ini.


Menag: Ada Pemberangkatan Haji Tahun Ini

Kepastian ini harus direspons untuk mempersiapkan diri memberangkatkan jamaah haji 2022.

SELENGKAPNYA

Puskes Haji Kirim Tim untuk Cek Alkes di Saudi

Kemenag optimistis Indonesia akan memberangkatkan jamaah untuk ibadah haji 2022.

SELENGKAPNYA

Usulan Biaya Haji Direvisi Jadi Rp 42 Juta

Kemenag optimistis Indonesia akan memberangkatkan jamaah haji 2022.

SELENGKAPNYA
×