Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada warga di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu (9/3/2022). | Republika/Putra M Akbar

Nasional

18 Mar 2022, 03:45 WIB

Menkes: Penyakit dan Virus Tetap Ada Kala Endemi

Seluruh fase pandemi pada akhirnya selalu menjadi endemi hanya saja membutuhkan persiapan.

YOGYAKARTA – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut pandemi Covid-19 dan endemi hanya berbeda nama karena penyakit dan virusnya tetap ada. Karena itu, penularan Covid-19 juga diperkirakan akan tetap terjadi selama fase endemi meski derajat keparahannya lebih rendah dibandingkan saat pandemi.

"Kalau buat saya pribadi ya sebagai orang yang di kesehatannya baru. Endemi sama pandemi hanya beda nama. Tapi penyakitnya tetap ada, virusnya tetap ada," kata Budi Gunadi seusai seminar "Recover Together, Recover Stronger: G20 dan Agenda Strategis Indonesia" di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Kamis (17/3).

Ia mengatakan, seluruh fase pandemi di dunia pada akhirnya selalu menjadi endemi hanya saja membutuhkan persiapan. Menurut dia, fase endemi akan tercapai jika masyarakat sudah memahami mengenai risiko penyakitnya serta sudah melakukan protokol kesehatan secara sadar tanpa dipaksa pemerintah. 

Selain itu, ia mengatakan, merujuk sejarah pandemi di dunia, elalu membutuhkan banyak faktor pertimbangan untuk mengubah menjadi endemi. Saat ini, ia menambahkan, Presiden Joko Widodo telah meminta mempersiapkan skenario untuk mengubah pandemi Covid-19 menjadi endemi. 

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Zubairi Djoerban menegaskan, bila nanti status endemi Covid-19 ditetapkan, penularan masih akan tetap terjadi. Bahkan kematian karena Covid-19 pun masih akan mungkin terjadi.

"Apakah kalau sudah endemi maka selesai? mohon diingat Ada kemungkinan selesai, Ada kemungkinan tidak," katanya di Jakarta, Kamis (17/3).

Zubairi pun memberikan contoh penyakit menular TBC dan HIV yang sudah ditetapkan menjadi endemi. Menurut Zubairi masih ada jutaan orang meninggal akibat dua penyakit tersebut, sampai saat ini pun program untuk mengatasi kedua penyakit tersebut terus dilakukan.

"Jadi kalaupun nanti dijadikan endemi tetap program harus sangat ketat. Jadi kita saling mengingatkan agar tidak begitu endemi jadi selesai Covid-19 ini," pesannya.

Namun, ia tetap optimistis jika tren penurunan kasus terus berlangsung stabil, maka status endemi bisa dicapai Indonesia. "Waktu itu kita yakin pasti sudah endemi. Namun tiba-tiba muncul mutasi baru omikron. Jadi kita tidak menduga. Kita tidak berharap ada virus lagi yang lebih kejam dari omikron. Sehingga tahun ini terakhir untuk menjadi endemi dan tidak muncul lagi varian lain yang lebih menyebar. Tapi tolong diingat meski endemi bukan berarti tidak ada penularan lagi," tutur Zubairi.

photo
Tenaga kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 kepada warga di kawasan Tebet, Jakarta, Rabu (9/3/2022). WHO menargetkan Indonesia untuk mencapai angka vaksinasi sebesar 70 persen di seluruh provinsi pada akhir bulan Mei sebagai langkah persiapan transisi dari pandemi menuju endemi. - (Republika/Putra M. Akbar)

Ia memaparkan, syarat pertama agar Indonesia segera memasuki endemi adalah kasus turun drastis dan stabil. Tak hanya itu, cakupan vaksinasi Covid-19 juga harus dipercepat hingga 70 persen dari total populasi termasuk lansia.

Ia pun menegaskan saat ini Indonesia belum selesai dari pandemi, hanya baru akan transisi menuju endemi. "Apakah Indonesia sudah masuk endemi?, Belum. Kita dalam perjalanan ke sana karena syaratnya, pertama harus turun drastis. Kita baru turun sedikit. Jadi hampir drastis. Lalu vaksinasi juga diperluas, termasuk lansia," ujar Zubairi.

Ketua Pokja Pengurus Pusat Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Erlina Burhan menilai saat ini Indonesia belum bisa mengubah status pandemi Covid-19 menjadi endemi. Sebab, kasus harian Covid-19 masih di atas 10 ribu hingga per Kamis (17/3).

"Kalau melihat jumlah kasus harian, kita (Indonesia) belum dekat-dekat amat ke endemi. Kasus baru harian Covid-19 Indonesia selama Oktober 2021 hingga November 2021 di bawah 2.000-an dan sekarang masih di atas 10 ribuan," katanya.

Ia mengakui Covid-19 varian omikron lebih ringan dibandingkan delta. Namun kalau melihat jumlah kasus Covid-19, Erlina menilai Indonesia belum mendekati pergantian status ke endemi.

Erlina menjelaskan, kalau kasus Covid-19 bisa diturunkan dan tidak ada dampak untuk kesehatan maka bisa dianggap endemi. Kemudian, pelonggaran protokol kesehatan bisa dilakukan lebih luas lagi. 

"Tetapi untuk saat ini saya merasa belum sampai fase endemi. Bisa saja menuju ke sana asalkan pemerintah dan masyarakat sama-sama berkolaborasi untuk perbaikan upaya untuk pencegahan kenaikan kasus dan penularan kasus Covid-19," ujarnya.

Kalau upaya ini bisa dilakukan, dia melanjutkan, kasus Covid-19 bisa semakin melandai. Kemudian, suatu hari Covid-19 akan menjadi sakit biasa seperti flu atau penyakit lain, ini yang disebut dengan endemi. Akhirnya masyarakat terbiasa dengan kondisi ini dan tidak lagi bermasalah.

Warga juga terbiasa untuk mengantisipasi kalau terjadi penularan virus ini. "Mudah-mudahan Covid-19 mengajarkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)," ujarnya.

Berdasarkan data Satgas Covid-19, kasus konfirmasi harian tercatat bertambah 11.532 kasus kemarin. Selain itu, tercatat 237 orang meninggal. Sementara, jumlah kasus aktif sebanyak 262.477 atau turun 17.492 kasus dibandingkan hari sebelumnya. 

Sumber : antara


Pemerintah Kaji Aturan Mudik Lebaran 

Pemerintah sedang mengkaji aturan mudik selama Idul Fitri 2022 di masa adaptasi Covid-19.

SELENGKAPNYA

Wapres: Terima Kasih Dokter

Sebanyak 751 dokter meninggal selama pandemi Covid-19.

SELENGKAPNYA
×