Warga menunjukkan logo halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang tertera di mie instan impor di Jakarta, Senin (14/3/2022). | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Opini

Logo Halal Baru

Yang terpenting tetaplah sistem jaminan halalnya, bukan semata-mata logonya.

ASKAR MUHAMMAD, Peneliti Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS)

Kementerian Agama (Kemenag) baru saja mengumumkan perubahan logo halal. Logo baru ini menuai beberapa kritik karena terkesan hanya merepresentasikan budaya Jawa. Selain itu, dianggap cukup melenceng dari kebiasaan desain logo halal negara lain di dunia.

Logo halal berperan penting memberi informasi ke konsumen terkait kehalalan produk. Peletakan logo halal pada kemasan harus jelas dan mudah dikenali sebab menurut UU Nomor 8 Tahun 1999, konsumen berhak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur terkait produk yang ia beli.

Ketika konsumen hendak membeli suatu produk, ia harus berusaha memperoleh informasi yang benar tersebut dengan menelusuri kemasan produk hingga logo halal dapat ditemukan. Namun, masyarakat kita umumnya belum memiliki kesadaran yang tinggi.

 
Kenyamanan tinggal di negara mayoritas Muslim, membuat kebanyakan masyarakat abai soal perlunya mengecek logo halal pada kemasan.
 
 

Kenyamanan tinggal di negara mayoritas Muslim, membuat kebanyakan masyarakat abai soal perlunya mengecek logo halal pada kemasan. Faktor lainnya yang membuat masyarakat abai adalah variabilitas jenis produk yang dibeli.

Seseorang yang hanya membeli produk itu-itu saja, umumnya hafal spesifikasi produk yang biasa ia beli. Berapa banyak dari kita yang setiap membeli mi instan mengecek ulang keberadaan logo halal pada kemasan mi instan tersebut?

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2021 menunjukkan, sebagian besar penduduk kita jarang membeli produk berkemasan.

Secara rata-rata, hanya 9 persen dari keseluruhan pengeluaran per kapita masyarakat yang dibelanjakan untuk membeli produk berkemasan. Itu pun hanya sekitar 16 persen dari total pengeluaran untuk makanan.

Tanpa kemasan, urgensi bagaimana logo halal berbentuk cukup minim. Pada kasus restoran pun, bagaimana bentuk logo halal tampaknya tidak memiliki peranan penting sebab pengelola restoran umumnya, memajang sertifikat halal di dindingnya.

 
Pada kasus restoran pun, bagaimana bentuk logo halal tampaknya tidak memiliki peranan penting sebab pengelola restoran umumnya, memajang sertifikat halal di dindingnya.
 
 

Kita tidak pernah melihat restoran meletakkan logo halal pada, katakanlah, piring, mangkuk, ataupun gelas. Melihat kondisi ini, sebenarnya urgensi pada desain atau bentuk logo halal Indonesia lebih signifikan pada kasus perdagangan luar negeri.

Secara anekdotal, calon konsumen Muslim di luar negeri biasanya lebih waspada dalam membeli produk. Dengan pilihan relatif lebih terbatas, ia jauh lebih hati-hati dalam mengecek kemasan dan memilih produk.

Dengan demikian, bagaimana logo halal berbentuk seharusnya ditanyakan kepada calon konsumen Muslim di luar negeri. Apakah logo halal yang baru ini cukup informatif dan menyiratkan kredibilitas kehalalan?

Secara sosiologis, Zuhudi dan Dolah (2017) menemukan, fitur utama dari logo halal di berbagai belahan dunia berwarna hijau, berbentuk lingkaran, bertuliskan halal dalam huruf arab, serta memiliki atribut ‘Islami’, seperti bulan sabit, bintang, masjid, atau Ka’bah.

 
Secara anekdotal, calon konsumen Muslim di luar negeri biasanya lebih waspada dalam membeli produk.
 
 

Logo baru halal Indonesia tampak mencoba mendobrak kebiasaan ini. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi konsumen internasional untuk mengenali logo halal kita. Apakah tidak lazimnya logo baru halal Indonesia akan menurunkan kredibilitas kehalalan produk kita?

Belum diketahui pasti seberapa signifikan kemudahan sebuah logo halal dikenali akan memengaruhi kredibilitas.

Namun, studi oleh Muhamad, Leong, dan Isa (2017) serta Rios, Riquelme, dan Abdelaziz (2014) menemukan, dari negara mana sebuah produk tersebut tersertifikasi secara halal, berpengaruh besar pada kredibilitas kehalalan.

Rios, Riquelme, dan Abdelaziz (2014) menemukan, Muslim lebih percaya pada produk-produk yang disertifikasi negara Muslim. Kuwait negara paling dipercaya. Brasil, meskipun bukan negara mayoritas Muslim, juga cukup menerima kepercayaan tinggi.

 
Kualitas sistem jaminan halal yang akan meningkatkan kredibilitas kehalalan Indonesia, bukan semata-mata logonya.
 
 

Arah ke depan

Yang jelas, bagaimana desain logo halal tidak terlalu mengambil peran besar. Tingkat kredibilitas ini lebih banyak dipengaruhi seberapa serius pemerintah serta produsen di sebuah negara menerapkan sistem jaminan halal, yang bersih dan profesional.

Kualitas sistem jaminan halal yang akan meningkatkan kredibilitas kehalalan Indonesia, bukan semata-mata logonya. Pemerintah, dalam hal ini Kemenag, tampaknya mencoba tren baru dengan menonjolkan identitas bangsa pada logo halalnya.

Untuk kasus Indonesia, hal ini cukup sulit mengingat kebinekaan yang kita punya, tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Mungkin, perlu dipikirkan desain yang bisa mengakomodasi kebinekaan kita dan kebiasaan logo halal negara lainnya.

Ke depannya, jika logo baru ini bisa meningkatkan kredibilitas kehalalan Indonesia, bukan tidak mungkin eksperimen ini juga dilakukan negara lain. Namun, yang terpenting tetaplah sistem jaminan halalnya. Ini yang secara substantif lebih urgen. 

Usulan Biaya Haji Direvisi Jadi Rp 42 Juta

Kemenag optimistis Indonesia akan memberangkatkan jamaah haji 2022.

SELENGKAPNYA

Perang Rusia-Ukraina: Sisi Muslim (2)

Agama tidak menjadi faktor dalam perang Rusia menghancurkan Ukraina.

SELENGKAPNYA

PB IDI: Status Endemi Tunggu WHO

Indonesia belum mengumumkan status endemi karena indikator yang belum memenuhi.

SELENGKAPNYA