Layar pergerakan saham di Jakarta, Kamis (24/2/2022). IHSG ditutup anjlok 102,24 poin atau 1,48 persen ke posisi 6.817,82 mengikuti anjloknya bursa saham regional dan global akibat konflik antara Rusia dan Ukraina. | ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.

Opini

05 Mar 2022, 03:45 WIB

Diversifikasi Perdagangan

Peristiwa terkini menunjukkan tak bijaksana jika tidak mendiversifikasi sumber energi dan pemasok.  

ASWIN RIVAI, Dosen Ekonomi Moneter UPN Veteran Jakarta

Di dunia yang bergejolak saat ini, keamanan ekonomi ditentukan kemampuan negara untuk bergantung pada mitra dagangnya. Ini menimbulkan tantangan jangka pendek serius, terutama bagi Uni Eropa (UE) yang sangat bergantung impor energi Rusia.

Membangun ketahanan menjadi semacam mantra beberapa tahun terakhir ini, terutama selama pandemi Covid-19. Namun, upaya meningkatkan keamanan ekonomi dan diversifikasi lanjutan berjalan lambat. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, mungkin akan berubah.

Dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, pelaku ekonomi di seluruh dunia menaruh kepercayaan cukup besar dan terus berkembang pada komitmen internasional yang luas terhadap ekonomi global yang relatif terbuka.

Tak seperti masa lalu ketika negara-negara secara teratur berperang mengamankan kepentingan ekonomi, pembuat kebijakan tak terlalu khawatir soal penolakan akses sewenang-wenang atau bermotif politik terhadap sumber daya atau pasar penting.

 
Membangun ketahanan menjadi semacam mantra beberapa tahun terakhir ini, terutama selama pandemi Covid-19. 
 
 

Mereka bisa membatasi kekhawatiran pada isu seperti eksposur ekonomi terhadap perubahan penawaran dan permintaan, serta pergerakan harga yang kejam. Namun penyumbatan dalam rantai pasokan global selama pandemi mulai mengikis keyakinan ini.

Harga dan pasar bukan penentu utama distribusi vaksin, misalnya. Selain itu, Cina, AS, dan lainnya membangun hambatan tinggi terhadap akses pasar perusahaan teknologi asing (terutama pesaing mereka), dengan alasan masalah keamanan nasional.

Lebih luas, sanksi ekonomi dan keuangan menjadi senjata kebijakan luar negeri, terutama di AS. Maka, tak heran sanksi membentuk sebagian besar tanggapan Barat terhadap krisis Ukraina.

AS dan UE memotong bank besar Rusia dari transaksi internasional dengan mengecualikan mereka dari sistem pesan keuangan SWIFT dan sekarang membekukan aset bank sentral Rusia.

 
Lebih luas, sanksi ekonomi dan keuangan menjadi senjata kebijakan luar negeri, terutama di AS. Maka, tak heran sanksi membentuk sebagian besar tanggapan Barat terhadap krisis Ukraina.
 
 

Dengan ekonomi Rusia yang terhuyung-huyung, jelas keamanan ekonomi suatu negara bergantung hubungan lebih luas dengan mitra dagangnya, yang harus cukup andal dan dapat diprediksi.

Ini tantangan jangka pendek serius, terutama bagi UE karena sangat bergantung impor energi dari Rusia. Saat ini, Rusia memasok hampir 40 persen gas alam Eropa. Ketakutan kehilangan pasokan itu  membatasi respons ekonomi Barat terhadap invasi ke Ukraina.

Misalnya, ada penolakan awal oleh negara besar UE mengeluarkan Rusia dari SWIFT dan saat keputusan dibuat, hanya bank ‘’terpilih’’ yang terpengaruh. Pada saat yang sama, Rusia bergantung pada UE untuk terus membeli gasnya.

Seperti diakui PM Italia Mario Draghi, peristiwa terkini menunjukkan tak bijaksana jika tidak mendiversifikasi sumber energi dan pemasok.  

Bagaimanapun, biaya sanksi  termasuk isolasi Rusia dari pasar global dan hilangnya akses ke produk dan teknologi tergantung sejauh mana Cina memutuskan mendukung Rusia. Untuk saat ini, para pemimpin Eropa hanya harus menghadapi apa yang akan terjadi.

 
Bagaimanapun, biaya sanksi  termasuk isolasi Rusia dari pasar global dan hilangnya akses ke produk dan teknologi tergantung sejauh mana Cina memutuskan mendukung Rusia. 
 
 

Namun, untuk memperkuat keamanan jangka panjang, mereka juga harus membangun ketahanan ekonomi yang dicapai melalui diversifikasi. Soal energi, Eropa bisa meniru Jepang, yang juga sepenuhnya bergantung bahan bakar fosil impor.

Jepang memperoleh minyak dari beberapa negara di Timur Tengah dan LNG dari Australia, Malaysia, Qatar, Rusia, AS, dan lainnya.

Jika sumber energi Eropa lebih mirip Jepang, struktur imbalan dari permainan Rusia-Barat akan terlihat berbeda. Eropa memiliki kekuatan mengenakan biaya asimetris pada Rusia melalui penalti terkait energi.

Adanya risiko signifikan yang sebagian tidak berkorelasi, diversifikasi adalah strategi terbaik. Tak berlaku hanya untuk impor, mengingat akses pasar dapat terputus. Cina mempelajari ini selama pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

 
Jika terjadi krisis, tak mungkin muncul sebagai hasil pasar murni karena manfaat ekonomi dan strategis belum sepenuhnya ditangkap pelaku pasar.
 
 

Yakni, negara-negara juga mesti mendiversifikasi pasar ekspor. Keharusan paling mendesak, melakukan diversifikasi dari mitra dagang yang tak dapat diprediksi. Diversifikasi yang diperlukan yaitu yang mampu meningkatkan keamanan ekonomi dan posisi tawar.

Jika terjadi krisis, tak mungkin muncul sebagai hasil pasar murni karena manfaat ekonomi dan strategis belum sepenuhnya ditangkap pelaku pasar.

Meski pelaku pasar menyadari risikonya dan tak menolak mendiversifikasi pasar dan sumber pasokan, mereka mungkin tak akan melangkah cukup jauh. Maka, kebijakan publik dan koordinasi internasional harus berperan penting memajukan proses ini.

Untungnya, saat ini pembuat kebijakan memiliki insentif kuat untuk mengambil langkah yang diperlukan. Namun, apakah rasa urgensi mereka bertahan atau memudar saat tingkat ancaman yang dirasakan menurun, masih harus dilihat. 


×