Foto aerial kawasan Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Rabu (28/8/2019). Sepaku dan Samboja, Kutai Kartanegara akan menjadi lokasi ibu kota negara baru Indonesia. | ANTARA FOTO

Podium

02 Dec 2021, 03:45 WIB

Menyingkap Awal Peradaban di Benuo Taka

Peradaban masyarakat di wilayah ibu kota negara sangat menjaga dan menghormati lingkungan.

OLEH STEVY MARADONA

Tebakan Harry Truman Simanjuntak (70 tahun) jarang meleset. Ia arkeolog senior. Sudah terjun ke lapangan sejak akhir 1970-an ikut penelitian Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pengalaman penelitian dan ekskavasinya (penggalian arkeologis) di dalam dan luar negeri, terutama gua prasejarah, amat kaya. Namun, melihat rimbunnya hutan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, dari peta dan foto-foto yang ia terima, naluri arkeolognya berkata ragu.

"Saya sendiri bertanya-tanya. Apakah (lokasi) ibu kota negara (IKN) punya sejarah?"

Pak Truman, begitu ia biasa dipanggil, sedang berbicara di sebuah aula kecil pada awal November kemarin. Ia berdiri sekitar dua jam membawakan presentasi yang disiarkan secara daring bertajuk Diskusi Arkeologi Kebangsaan 'Rona Awal Peradaban di Calon Ibu Kota Negara di Kalimantan' yang digelar Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Ia mengenakan batik lengan panjang, celana kelabu, dan tetap memakai masker. Suaranya khas, agak lembut untuk seseorang yang lahir di Sumatra Utara. Namun, ia amat menguasai materi presentasinya. Penjelasan dan paparan mengalir lancar dan amat kaya informasi soal ibu kota negara yang baru. Warga lokal menyebut daerah itu sebagai benuo taka atau kampung halaman kita.

Setelah pensiun dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ia kini memimpin sebuah tim besar, tim penelitian IKN, terutama yang membahas soal peradaban lokal.

photo
Mobil yang membawa Presiden Joko Widodo melewati jalan berlumpur saat meninjau lokasi rencana ibu kota baru di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (17/12/2019).- ( ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
 

"Ternyata dugaan kita semua meleset 180 derajat lewat temuan di Gua Panglima, Gunung Parung," kata Truman, menekankan. Ia mengungkapkan, timnya menemukan banyak sekali temuan peradaban kuno di sekitar lokasi IKN.

Tim peneliti IKN sudah turun ke lokasi sejak 2020. Dari Puslitarkenas, penelitian dijadwalkan berlangsung empat tahun, dengan potensi akan diperpanjang lagi. Pada tahun pertama, Truman menjelaskan, tim melakukan eksplorasi terbatas di sekitar titik IKN dan wilayah berdekatan. "Kami ingin tahu potensi wilayahnya seperti apa." 

Tahun ini, tim peneliti sudah mendapatkan bahan yang cukup untuk memulai penelitian lebih mendalam. Sudah ada ekskavasi di situs. Truman menyebutkan, ada beberapa situs yang prioritas. Situs berupa gua yang diduga hunian.

Tahun depan, tim melanjutkan dengan target yang lebih spesifik, situs situs potensial dan menambah eksplorasi ke lingkungan IKN dan Kalimantan sebagai gambaran besarnya. Pada tahun terakhir, tim akan melakukan validitas data, publikasi monografi, dan rekomendasi kebijakan secara menyeluruh.

photo
Artefak manis-manik temuan eskavasi Gua Panglima - (arkenas.kemdikbud.go.id)

Apa yang dicari oleh tim peneliti? Truman menjelaskan, paling tidak ada tiga perspektif yang harus dilihat di IKN. Pertama adalah melihat IKN dari perspektif ruang, bukan hanya wilayah IKN, melainkan juga sekitarnya, periferi, satuan geografisnya, mencermati jejaring ruang di Kalimantan, Indonesia, dan kawasan Asia Tenggara.

Kedua, tim ingin melihat IKN dalam perspektif waktu. "Jangan melihat sekarang saja, tapi masuk ke lampau wilayah itu. Kami ingin melihat nilai-nilai yang ada di situ," kata dia.

Kemudian yang terakhir adalah melihat IKN dari perspektif bentuk. Tim tidak hanya melakukan penelitian arkeologis, tetapi juga berbagai macam ilmu sosial dan eksak lainnya.

Akar peradaban

Lalu apa hasil sejauh ini? Truman menjelaskan, dua tahun terakhir tim sudah mengunjungi 165 situs, 56 lokasi tradisi, dan 57 fitur lingkungan di wilayah IKN dan sekitarnya. Ia meyakini masih banyak situs yang belum tercakup, sehingga perlu penelitian lebih luas dan mendalam lagi.

Secara geologis, IKN berada di sebuah cekungan tua. Secara geografis, berada di ketinggian 350 meter di atas permukaan laut (mdpl) dengan bentang alam dipenuhi sungai, embung, hutan bakau, hutan, teluk, delta, perkebunan, aktivitas tambang, dan sejumlah lokasi hunian. Masuk di situ kawasan konservasi, kawasan hutan lindung, kawasan hutan adat, penangkaran orang utan, hutan anggrek, dan konservasi mangrove.

IKN berhadapan dengan Teluk Balikpapan, sebuah lokasi yang strategis sebagai alternatif jalur transportasi. Lingkungan sekitarnya kaya sumber daya air laut dan sungai. "Ini amat mendukung untuk sebuah pembangunan kota tepi air atau waterfront city," kata dia.

photo
Perahu nelayan melintas di Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (23/10/2019). Teluk Balikpapan menjadi pintu masuk ibu kota negara Penajam Paser Utara melalui jalur laut, lebar mulut teluk mencapai 5-7 kilometer, panjang kurang lebih 80 kilometer dengan kondisi perairan yang tenang. - (Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO)

Menengok ke lampau, Truman melanjutkan penjelasan temuan timnya, ternyata di wilayah IKN ditemukan banyak gua yang diduga gua hunian. Dari kacamata arkeologi, situs gua hunian amat ‘seksi’, karena menyimpan banyak informasi kehidupan masa lalu.

Paling tidak ada empat gua yang sudah didata, dan satu gua yang sudah diteliti cukup mendalam, yakni Gua Panglima, Gua Sangbulan, Gua Batu Kaji, dan Gua Tembelos. 

Gua Panglima merupakan situs yang sudah digali dan menghasilkan temuan menarik. "Hasilnya sangat kaya," kata Truman. Tim menggali sampai kedalaman cukup tua (secara geologis), 110 cm-150 cm.

Pengalaman penggalian yang lalu memperlihatkan kedalaman ini cakupan umurnya dari kala holosen. Holosen adalah sebuah periode dalam ilmu geologi yang menunjukkan waktu sekitar 11 ribu tahun yang lalu. Di dalam masa itu, berkembang berbagai macam periode kebudayaan lokal.

Tim arkeolog yang menggali menemukan 12 ribu artefak yang mencakup tembukar, alat tulang, alat batu, cangkang, batu pipisan, sisa hewannya saja bisa mencapai 38 jenis, serta temuan arang hematit dan lainnya.

Meski baru penelitian awal, Truman sudah berani menarik kesimpulan. "Perkiraan kita (Gua Panglima) sudah dihuni manusia sejak awal holosen, kalau melihat karakter budayanya (dari temuan yang didapat) pre-neolitik, ada pecahan tembikar," kata dia.

Bagaimana hubungannya dengan situs gua lainnya? "Kita belum tahu keterkaitannya dengan kelompok hunian yang lain," kata Truman melanjutkan.

Dari beberapa situs gua hunian yang diteliti di kawasan Kalimantan, seperti Kompleks Gua Mangkaliat dan Gua Meratus, manusia diduga sudah hidup di situ sejak 40 ribu tahun yang lalu. Ini tidak jauh dari penanggalan di salah satu situs gua tertua di Kalimantan, Gua Niah, yang berada di Serawak, Malaysia. Manusia dari Gua Niah tercatat sudah hidup sekitar 44 ribu tahun yang lalu.

Truman membuka kemungkinan, bukan tidak mungkin hunian di wilayah IKN lebih tua dari Gua Niah. Tapi ini tentu harus dibuktikan dengan penelitian lanjutan yang lebih banyak lagi.

Namun, ia menggarisbawahi, "Wilayah IKN itu ternyata punya sejarah yang panjang. Awalnya, kita berpikiran wilayah IKN ini tanpa sejarah. Karena dengan lihat peta sebagian besar diliputi hutan dengan kampung yang sangat jarang."

Truman kecele. Temuan terakhir dari wilayah IKN justru menunjukkan situs di kawasan itu sangat sangat menjanjikan informasi peradabannya. "Ini penting sekali bagi IKN, yang memperlihatkan sebuah awal sejarah kehidupan di situ," kata dia.

Selain situs gua hunian, di sekitar IKN ditemukan juga situs peleburan logam di Maridan, di tepi sungai. Lokasinya 13 km dari IKN. Ini menarik karena memperlihatkan ada keberlanjutan budaya dari budaya batu ke budaya logam di IKN. Truman menyebutnya sebagai pencapaian dan loncatan teknologi yang penting di lokasi IKN.

Menjaga lingkungan

Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, I Made Geria, yang berbicara di acara yang sama, mengatakan, amat penting memahami temuan-temuan dari lokasi IKN. "Kalimantan bukan tanah kosong! Ada sebelumnya aktivitas masyarakat yang mewariskan alam pikirannya," kata dia.

photo
Temuan eskavasi di Gunung Panglima - (arkenas.kemdikbud.go.id)

Baik Truman maupun Made Geria sepakat, akan terjadi perubahan besar-besaran di lokasi IKN ke depannya. Perubahan dari sisi tata ruang, demografi, dan sosial budaya.

Karena itu, keduanya berharap, pembangunan IKN nantinya harus tetap berlandaskan, terutama pada konservasi alam dan konservasi budaya.

Dari hasil temuan sosial tim peneliti terbukti, peradaban lokal di sekitar IKN sangat bernuansa lingkungan. Penduduk setempat sangat kuat memperlihatkan karakter kehidupannya dengan lingkungan. Misalnya: Selalu melihat bahwa asal usul leluhur mereka itu dari bukit atau sungai, bahkan nama-nama desa menggunakan nama-nama tanaman, menggunakan hewan tertentu sebagai logo. 

"Ini simbol penting. Semua punya arti yang dalam. Mereka tidak terlepas dari lingkungan di mana mereka hidup," kata Truman.

Salah satu contoh kearifan lokal lingkungan bisa ditemui di Desa Mentawir, sebuah perkampungan di hutan bakau. Di sini penduduknya sangat majemuk dari Dayak, Bugis, Jawa, Banjar. Mereka bersama-sama melestarikan hutan bakau di sekitar desa. Pelestarian mencakup dari hulu sampai hilir.

Dari sejak aturan pengelolaan hutan adat, menanam kembali mangrove yang mati, pembibitan, penanaman, pemangkasan, sampai pada ritual tahunan, dan pemanfaatan hasil sumber daya, seperti madu, biji bakau, dan wisata mangrove.

 
Kalimantan bukan tanah kosong. Ada sebelumnya aktivitas masyarakat yang mewariskan alam pikirannya.
Kepala Puslitarkenas I Made Geria
 

Made Geria berharap, hasil riset riset sebelum proyek IKN mulai berjalan, bisa menjadi sebuah rekomendasi pembangunan yang berkelanjutan dan memaksimalkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Truman menekankan, yang harus menjadi perhatian nanti di IKN adalah mempertahankan keseimbangan ekosistem, mempertahankan nilai-nilai lokal, dan digalikembangkan untuk mewarnai kehidupan selanjutnya. "Pasti banyak pembangunan saran dan prasarana, tapi harus tetap jaga keseimbangan ekosistem," kata Truman.

Apalagi, ia temukan saat ini sudah muncul pertambangan batu gamping untuk pembuatan jalan. Ini menggerus sumber daya lingkungan. Pesan Truman ini menjadi penting karena persoalan lingkungan di Kalimantan seakan tidak ada habisnya. Bencana lingkungan seperti banjir besar akibat kerusakan lingkungan sudah dua kali melanda pada 2021.

"Jangan sampai membangun IKN justru menghilangkan bagian dari peradaban Indonesia di situ, nilai-nilai lokal itu, justru kesempatan ini harus digali lagi dan dikembangkan," kata dia melanjutkan.

Memetakan Masalah Sosial

Selain persoalan lingkungan dan menjaga kebudayaan lokal, Bappenas mulai menyoroti soal potensi munculnya permasalahan sosial, nantinya di wilayah IKN. Ini wajar sebab pemerintah tidak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga memasukkan lebih banyak lagi orang-orang ke IKN.

Rencana pemerintah memang memboyong seluruh kementerian dan lembaga ke tengah hutan itu. Akan ada mobilitas pendatang yang luar biasa. Benturan dengan warga lokal amat mungkin terjadi. Untuk menghindari potensi rusuh warga lokal pendatang, yang lazim di Kalimantan, maka harus diantisipasi.

photo
Temuan eskavasi Maridan - (arkenas.kemdikbud.go.id)

Penduduk asli di kawasan IKN adalah rumpun Dayak dari Paser, Benuaq, Bahau, Kutai, Paser Balik, dan Tunjung. Mereka berbaur dengan pendatang dari suku Banjar, Bugis, Jawa, Melayu, dan lain sebagainya.

Amich Alhumami, direktur Perguruan Tinggi, Iptek, dan Kebudayaan Bappenas menyebutnya sebagai kemungkinan munculnya segregasi sosial budaya. Dengan segala kemewahan akan ada di kompleks IKN, sementara di lingkungan di luar IKN kondisinya akan sangat berbeda. Kesenjangan ekonomi antara IKN dan wilayah sekitarnya juga menjadi sorotan. Kesenjangan ekonomi antara pendatang dan warga lokal pun harus diantisipasi.

"Kalau ini berakumulasi dan menciptakan efek yang tidak bagus bagi IKN, pemerataan, mengatasi kesenjangan dan menepis ketimpangan, ini jadi perhatian untuk memitigasi sejak awal," kata dia, saat berbicara sebagai penanggap hasil penelitian tim IKN di acara yang sama.

Karena itu, lanjut Amich, pemerintah menyiapkan sarana prasarana sosial, membangun sekolah, perguruan tinggi, pusat riset, yang harus mempertimbangkan bukan saja akan diakses oleh pendatang dari kelompok kelas menengah atas, melainkan juga warga lokal.


×