Sejumlah mahasiswa dari berbagai universitas berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Kamis (28/10/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

09 Nov 2021, 03:45 WIB

Kepahlawanan Kaum Muda

Gerakan kaum muda yang nirkepentingan politik jadi kekuatan moral sekaligus kontrol terhadap kelompok elite.

BIYANTO, Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Semua elemen bangsa penting menyadari betapa besar peran kaum muda dalam sejarah perjalanan negeri tercinta. Jika membaca sejarah pergerakan bangsa, kita akan menemukan fakta, kepahlawanan kaum muda sungguh luar biasa.

Kisah kepahlawanan kaum muda dimulai dari pendirian Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Seorang pemuda yang juga dokter dari kalangan aristokrat bernama Wahidin Sudirohusodo menjadi tokoh sentral pendirian Budi Utomo.

Pendirian Budi Utomo secara umum diakui sebagai tonggak gerakan kebangkitan nasional. Sejarah pendirian Budi Utomo telah membuka kesadaran betapa kaum muda memiliki peran membanggakan dalam perjalanan bangsa.

Melalui teori siklus 20 tahunan, sebagaimana dikemukakan Dawam Rahardjo dalam ‘’Intelektual Inteligensia dan Perilaku Politik Bangsa’’ (1996), kita menyaksikan kiprah kaum muda dalam sejarah pembangunan bangsa.

 
Era reformasi memang baru menunjukkan hasil pada 1998. Tetapi harus diakui, kiprah kaum muda sebagai faktor utama keberhasilan menumbangkan rezim Orde Baru telah dimulai pada pertengahan 1980-an.
 
 

Hal itu dapat diamati melalui sejumlah peristiwa besar yang menunjukkan peran kaum muda sebagai pendorong perubahan.

Setelah fase kebangkitan nasional (1908), siklus 20 tahunan berlanjut hingga masa sumpah pemuda (1928), proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (1945), gerakan mahasiswa yang melahirkan orde baru (1966), dan munculnya era reformasi (1998).

Era reformasi memang baru menunjukkan hasil pada 1998. Tetapi harus diakui, kiprah kaum muda sebagai faktor utama keberhasilan menumbangkan rezim Orde Baru telah dimulai pada pertengahan 1980-an.

Pertanyaannya, setelah 20 tahun era reformasi, apakah kaum muda akan kembali melahirkan gerakan kepahlawanan yang menentukan sejarah perjalanan bangsa? Ini penting dijawab pelajar dan mahasiswa yang senantiasa tampil menjadi pelopor gerakan moral.

Dalam perjalanan sejarah siklus 20 tahunan itu, tampak sekali perjuangan kaum muda bukan saja bermodal semangat, melainkan juga memiliki kultur keilmuan yang berakar kuat. Mereka juga memiliki keterampilan berorganisasi dan membangun jaringan

Namun, sangat disayangkan, kultur tersebut nyaris tenggelam dalam hiruk pikuk politik sepanjang era reformasi.

 
Di antara indikator peningkatan syahwat politik di kalangan kaum muda adalah bergabungnya sebagian intelektual muda di sejumlah partai politik.
 
 

Sepanjang era reformasi ini, kaum muda lebih menunjukkan minat berpolitik dengan menjadi aktivis partai, anggota legislatif, tim pemenangan calon presiden, dan tim sukses calon kepala daerah atau anggota legislatif.

Rasanya tidak berlebihan jika dikatakan sejak era reformasi hingga kini telah terjadi peningkatan “syahwat politik” di kalangan kaum muda. Peningkatan syahwat politik tidak hanya terjadi di daerah, melainkan juga dalam skala nasional.

Di antara indikator peningkatan syahwat politik di kalangan kaum muda adalah bergabungnya sebagian intelektual muda di sejumlah partai politik.

Padahal mereka sebelumnya merupakan intelektual independen yang bebas dan tanpa beban tatkala menyuarakan kritik konstruktif pada pemerintah, partai, dan kelompok elite. Elite partai juga berlomba mengajak kaum muda masuk dunia politik.

Targetnya, kaum muda diharapkan menjadi sumber energi sekaligus magnet untuk menarik pemilih pemula. Seiring peningkatan syahwat politik di kalangan kaum muda, maka kultur keilmuan dan daya kritis yang semestinya menjadi ruh perjuangan mereka semakin tergerus.

Yang terjadi kemudian, budaya loyal pada penguasa dan elite partai politik. Peningkatan syahwat politik kaum muda juga memunculkan kultur mudah berpecah akibat perbedaan pilihan politik.

Perjuangan kaum muda tidak lagi didasarkan pada kepentingan jangka panjang, melainkan tujuan pragmatis-jangka pendek. Pilihan sebagian kaum muda berkiprah melalui jalur politik mengakibatkan capaian perjuangan di ranah kultural tidak menonjol.

Padahal kalau dipikirkan, wilayah perjuangan di bidang politik sangat terbatas dengan peminat yang banyak. Dampaknya, tidak semua orang memperoleh posisi politik dan pembagian kue kekuasaan.

 
Rasanya, gerakan aksi mahasiswa dan pelajar yang sayup-sayup terdengar sepanjang era pandemi merupakan ikhtiar untuk mengembalikan spirit perjuangan kaum muda.
 
 

Dalam kondisi seperti ini, perjalanan kaum muda akan selalu diwarnai intrik dan tarik-menarik kepentingan politik.

Sebagian kaum muda berpikiran, perjuangan melalui jalur politik memberikan harapan instan untuk meraih kekuasaan, kemapanan, status sosial, popularitas, dan materi.

Sementara perjuangan melalui jalur kultural, dianggap investasi jangka panjang yang melelahkan dan berpeluh keringat.  Akibatnya, perjuangan melalui jalur kultural mengalami sepi peminat. Padahal bidang garap perjuangan kultural sangat luas.

Kaum muda bisa menjadi akademisi, peneliti, enterpreneur, pekerja sosial, juru dakwah, penulis, pekerja seni, pegiat budaya, dan atletik.

Rasanya, gerakan aksi mahasiswa dan pelajar yang sayup-sayup terdengar sepanjang era pandemi merupakan ikhtiar untuk mengembalikan spirit perjuangan kaum muda.

Gerakan kaum muda yang nirkepentingan politik sangat penting sebagai kekuatan moral sekaligus kontrol terhadap pemerintah dan kelompok elite. Semoga perayaan Hari Pahlawan (10 November 2021) menjadi momentum penguatan spirit kepahlawanan kaum muda dalam membangun bangsa. 


×