Pendiri Microsoft dan filantropis Bill Gates. | X00866

Kabar Utama

Bertemu Erick, Bill Gates Ingin Investasi di Bio Farma

Bill Gates minat berinvestasi di Bio Farma dalam alih teknologi terkait pengembangan vaksin mRNA.

JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir bertemu dengan pengusaha terkenal asal Amerika Serikat (AS) Bill Gates di sela-sela KTT PBB terkait perubahan iklim atau Conference of the Parties (COP) 26 di Glasgow, Skotlandia, Senin (11/11).

Bill Gates adalah pendiri Microsoft, salah satu orang terkaya di dunia, dan kini aktif pada kegiatan filantrofi. Gates juga sangat aktif dalam aksi melawan Covid-19.

Erick mengatakan, Bill Gates memiliki ketertarikan untuk menanamkan investasi di PT Bio Farma (Persero) yang merupakan induk holding BUMN farmasi. Pertemuan tersebut dilakukan bersama Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

"Pertemuan khusus dengan Bill Gates untuk membahas minatnya berinvestasi di Bio Farma dalam alih teknologi terkait pengembangan vaksin mRNA. Bio Farma terbuka akan hal itu," ujar Erick dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (3/11).

Menurut Erick, ketertarikan Bill Gates merupakan pengakuan atas kapasitas Bio Farma. Bio Farma berperan besar dalam proses produksi dan distribusi vaksin Covid-19 sehingga program vaksinasi nasional berjalan lancar dan mendapat apresiasi dunia internasional.

Bill Gates, kata Erick, berencana menanamkan investasi di Bio Farma yang dikhususkan untuk pengembangan dan produksi vaksin mRNA. Jika rencana itu terealisasi, Erick yakin hal tersebut bakal mendorong produk bioteknologi Tanah Air semakin berkembang dan mewujudkan kemandirian kesehatan Indonesia. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Erick Thohir (@erickthohir)

"Banyak pihak, termasuk Bill Gates, mengapresiasi upaya Indonesia dalam menekan penyebaran pandemi Covid-19 dengan cepat serta meratanya program vaksinasi nasional sehingga indikator-indikator pandemi di Indonesia menurun drastis," ujar Erick. 

Hal tersebut, kata Erick, membuat banyak pihak dan negara lain terus memberikan dukungan agar Indonesia juga menjadi negara terdepan dalam pengembangan vaksin. Ini sejalan dengan upaya percepatan pengembangan vaksin yang dilakukan Indonesia.

Erick menambahkan, teknologi vaksinologi yang semakin berkembang membuka peluang terciptanya jenis vaksin baru. Vaksin mRNA akan menjadi solusi mengatasi pandemi Covid-19. Sebab, teknologi tersebut memudahkan produksi dalam jumlah besar dan berbagai kelebihan lain yang tidak dimiliki vaksin tradisional.

"Rencana Bio Farma untuk memproduksi vaksin Covid-19 mRNA pun kian mendekati kenyataan," kata Erick. 

Erick yang juga ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional sebelumnya mengatakan, peningkatan teknologi dalam pembuatan vaksin, khususnya vaksin Covid-19, sangat penting jika Indonesia ingin menjadi hub atau pusat dari produksi vaksin dunia.

Saat ini, Bio Farma sudah memiliki dan menguasai teknologi untuk produksi vaksin dengan metode inactivated virus dan teknologi protein rekombinan. Pemerintah mendukung penuh Bio Farma untuk meningkatkan teknologi, seperti metode mRNA dan viral vector.

Bio Farma menyambut positif rencana investasi Bill Gates untuk holding BUMN farmasi. Juru Bicara Bio Farma sekaligus Sekretaris Perusahaan Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan, perusahaan siap bekerja sama dengan pihak mana pun, termasuk Bill Gates. 

photo
Peneliti beraktivitas di ruang riset vaksin Merah Putih di kantor Bio Farma, Bandung, Jawa Barat, Rabu (12/8/2020). - (Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO)

Bambang mengatakan, Bio Farma sudah sering menjalin sinergi dengan negara lain dalam pengembangan vaksin. "Bio Farma adalah pemain global dan sudah biasa berkolaborasi dengan institusi luar sehingga kami menyambut baik rencana tersebut," kata Bambang saat dihubungi Republika di Jakarta, Rabu (3/11).

Bio Farma, Bambang menambahkan, mendukung penuh upaya Menteri BUMN Erick Thohir yang mencarikan mitra strategis bagi perusahaan untuk pengembangan vaksin mRNA. "Kami masih menunggu arahan Pak Menteri," ujar Bambang.

Terkait rencana Indonesia menjadi hub vaksin Covid-19, Direktur Sosial Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kementerian Luar Negeri Penny D Herasati pada pertengahan Oktober lalu pernah menyampaikan, Indonesia bersaing dengan India dan Korea Selatan untuk menjadi hub pelatihan dan transfer pengetahuan vaksin Covid-19 di wilayah Asia Pasifik. 

Dia menjelaskan, rencana pusat vaksin tersebut diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk sejumlah kawasan guna menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity) dunia.

Negara yang pertama kali menjadi pusat vaksin, yakni Afrika Selatan untuk kawasan Afrika, mengingat minimnya produksi vaksin di sana. Untuk di kawasan Asia Pasifik, yang akan dijadikan hub adalah untuk pelatihan para ahli dan transfer pengetahuan teknologi vaksin mRNA. 

“Mengapa vaksin mRNA karena teknologinya paling cepat dan semua negara sedang kejar dengan platform ini. Produksi vaksin itu langkah selanjutnya, kita belum ke situ dan yang direncanakan WHO adalah pusat pelatihan dan transfer knowledge,” ujarnya.

Penny menuturkan, Indonesia memiliki industri farmasi yang kompeten dengan hadirnya Bio Farma yang akan menjadi center of excellence. “Jadi, nanti ilmuwan dari negara-negara Asia akan datang dan mentransfer teknologi mRNA dan seterusnya dan mereka akan pulang ke negara masing-masing,” katanya.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir beberapa waktu lalu mengatakan, Bio Farma menargetkan penguasaan dua platform teknologi baru produksi vaksin Covid-19, yakni mRNA dan viral vector sebagai strategi jangka panjang. Bio Farma harus mampu menguasai seluruh platform teknologi di dunia bioteknologi tersebut agar Indonesia benar-benar lebih siap jika seandainya terjadi lagi pandemi. 

"Pengalaman kita selama pandemi Covid-19 membuat kita berpikir Indonesia, terutama Bio Farma dan semua anak perusahaannya harus mampu menguasai teknologi baru untuk menjamin resiliensi dari kesehatan Indonesia," kata Honesti.

Bio Farma, ungkap Honesti, sebagai induk holding BUMN farmasi sejak awal pandemi Covid-19 sudah memikirkan cara untuk mengamankan pasokan vaksin. Apalagi, semua negara berebut untuk bisa mendapatkan suplai guna menjamin program vaksinasi di negara masing-masing agar bisa diamankan. 

Atas alasan itu, kata dia, Bio Farma harus memikirkan strategi yang bisa menjangkau kebutuhan jangka pendek, tapi juga kebutuhan untuk ke depannya. Kemandirian dalam industri vaksinasi diharapkan tidak bergantung lagi pada produk-produk impor.

"Strategi jangka pendek itu bagaimana kita bisa mendapatkan suplai vaksin dengan cepat. Inilah yang kita lakukan dengan Sinovac di mana tahap awal kita impor vaksin jadi, kemudian dikembangkan bagaimana kita bisa memproduksi sendiri. Ini yang kita lakukan dalam jangka pendek," katanya.

Untuk strategi jangka menengah, Bio Farma harus bersinergi dengan beberapa kementerian dan lembaga riset di Indonesia untuk bisa mengembangkan vaksin produksi Indonesia. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat