Kapsul Molnupiravir yang disebut ampuh mengobati pasien Covid-19. | AP Photo

Nasional

IDI: Tunggu Uji Klinik Molnupiravir

Australia mulai mematok pembelian dosis Molnupiravir.

JAKARTA -- Ketua Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof Dr dr Zubairi Djoerban mengimbau semua pihak bersabar sebelum mendatangkan obat Covid-19 bermerek Molnupiravir ke Tanah Air. IDI menegaskan, Molnupiravir masih perlu menuntaskan uji klinis tahap tiganya.

"Tunggu uji klinis tiganya," kata Zubairi yang dikutip lewat akun Twitter-nya, kemarin. Perusahaan farmasi Amerika Serikat, Merck, mengembangkan obat Covid-19, Molnupiravir, yang diklaim dapat menurunkan risiko keparahan Covid-19. Jika mendapat persetujuan penggunaan, Molnupiravir menjadi obat oral antivirus pertama untuk Covid-19.

Menurut para ahli, Molnupiravir dapat mengurangi risiko gejala barat dan kematian pada pasien Covid-19. Merck, pekan lalu, sedang mengupayakan persetujuan penggunaan darurat di Amerika Serikat untuk pil antivirus buatannya. Merck juga membuat pengajuan izin penggunaan pil itu di seluruh dunia.

Zubairi mengatakan, Molnupiravir ialah obat oral atau obat yang bisa diminum. Fungsinya menghambat replikasi RNA virus korona di fase awal. Kemampuan Molnupiravir mencegah virus memperbanyak diri membuat obat tersebut sangat efektif mencegah perburukan Covid-19.

"Profil Molnupiravir si tukang tipu ialah calon obat oral pertama pasien Covid-19. Dirancang menipu virus agar tak bereplika," kata Zubairi.

Zubairi sependapat dengan klaim bahwa Molnupiravir dapat menurunkan risiko kematian penderita Covid-19. Ia menganggap kemunculan Molnupiravir ialah kabar positif dalam perang melawan Covid-19. "(Molnupiravir) kurangi risiko rawat inap dan kematian 50 persen untuk pasien gejala ringan-sedang," ujar Zubairi.

Bahkan Zubairi menyebut Molnupiravir mampu meredam penyakit lain. Sebab, riset awal Molnupiravir ditujukan untuk melawan Influenza dan Ebola. "Berguna lawan Ebola, Chikungunya, Influenza," sebut Zubairi.

Sependapat, pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani, mengaku senang munculnya obat tersebut. Namun ia meminta semua pihak menunggu uji klinis Molnupiravir selesai hingga hasilnya keluar.

"Kita tunggu saja dulu hasil tahapan uji klinis. Karena kita kan sudah belajar dari yang kemarin-kemarin, intinya kita perlu pembuktian uji klinis," ujarnya saat dihubungi Republika, Selasa (5/10).

Dia berharap uji klinisnya berhasil. Obat itu akan mampu memerangi Covid bersamaan dengan vaksin. Sementara vaksin mencegah Covid, Molnupiravir akan mengobati jika tertular. Ia meminta pemerintah bisa menginformasikan hal yang benar terkait obat ini.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada Senin (4/10) mengatakan, pihaknya bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta sejumlah rumah sakit vertikal tengah melakukan kajian dan uji klinis terhadap obat-obatan baru untuk terapi pasien Covid-19, termasuk Molnupiravir.

"Obat-obatan tersebut sudah kami approach pabrikannya dan kami sudah merencanakan untuk beberapa sudah mulai uji klinis," kata Budi.

Ia berharap, akhir tahun ini obat-obatan baru tersebut sudah bisa digunakan terhadap pasien Covid-19. "Mudah-mudahan akhir tahun ini kami sudah mengetahui obat-obatan mana yang cocok untuk kondisi masyarakat kita."

Mulai diincar

Sementara pemerintah Indonesia masih mengkasi, Australia sudah mematok pembelian dosis Molnupiravir. Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan, pihaknya akan membeli 300 ribu dosis pil eksperimental tersebut.

"Pengobatan ini menunjukkan bahwa kita akan dapat hidup berdampingan dengan virus," kata Morrison dilansir Reuters, Selasa (5/10).

Pemerintah Australia telah menutup Sydney, Melbourne, dan Canberra selama beberapa pekan untuk memerangi penularan varian Delta. Tingkat vaksinasi dosis pertama di Australia mencapai 80 persen pada Selasa. Sydney siap keluar dari lockdown pada 11 Oktober. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat