Halaman muka Islam Digest membahas sejarah dan kiprah Persis. | Republika/Islam Digest
19 Sep 2021, 08:39 WIB

Sejarah dan Kiprah Persis

Organisasi Persis mulai mengemuka dengan datangnya Ustaz A Hassan.

OLEH MUHYIDDIN

Sembilan puluh delaan tahun lalu, Persatuan Islam (Persis) lahir di Bandung, Jawa Barat. Berdiri dengan spirit tajdid, organisasi ini turut berperan dalam dakwah dan pendidikan umat hingga kini.

Persatuan Islam, Periode Awal

Hari ini, Persatuan Islam (Persis) genap berusia 98 tahun. Salah satu organisasi masyarakat (ormas) Islam terbesar di Tanah Air itu didirikan pada 12 September 1923 silam. Dari Bandung, Jawa Barat, ia terus tumbuh dan berkembang. Hingga kini, kiprahnya terus mewarnai syiar dakwah dan pendidikan di tengah umat.

Terkait

Peribahasa mengatakan, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah pertama. Menurut catatan sejarah, Persis pada mulanya hadir sebagai sebuah gerakan intelektual Muslim. Para aktivisnya dikenal sebagai kalangan terpelajar yang gemar berdialektika, lisan maupun tulisan. Perannya dalam bidang pemikiran keagamaan sangat menonjol kala itu.

Karena lahir di Kota Kembang, wajarlah kiranya bila Persis memiliki basis terbesar di Jawa Barat. Pembentukan organisasi ini bermula diskusi-diskusi rutin yang diikuti sejumlah ulama setempat lintas generasi. Di antara tokoh-tokoh yang paling sering mengutarakan gagasannya waktu itu adalah Haji Zamzam dan Haji Muhammad Yunus. Keduanya kerap menjadi pembicara utama lantaran kapasitas dan wawasan pengetahuan yang dimiliki.

Perbincangan yang ada biasanya membahas perkembangan gerakan-gerakan pembaruan (tajdid) keagamaan. Sebagai contoh, bagaimana geliat aktivisme Islam di Padang. Para terpelajar Minang saat itu telah mampu menerbitkan majalah sendiri, semisal Al-Munir. Ini terinspirasi dari majalah Al-Manar, terbitan Mesir.

Lambat laun, diskusi yang digiatkan para tokoh Muslim Bandung itu kian intensif. Pembahasannya tidak terbatas pada persoalan keislaman, tetapi juga masalah-masalah lainnya yang berkaitan dengan kondisi umat Islam.

Sejak itu, kecambah gagasan mulai muncul di tengah mereka. Terucap niat untuk mendirikan sebuah organisasi yang bisa mendorong terwujudnya masyarakat Muslim yang ideal. Semangatnya adalah mengembalikan umat kepada ajaran Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Haji Zamzam dan Haji M Yunus kemudian mendirikan Persatuan Islam. Dengan hadirnya organisasi ini, mereka berharap dapat turut mencerahkan masyarakat Muslim. Persis juga dimaksudkan sebagai sebuah gerakan pembaruan yang hendak menghindarkan umat dari berbagai penyimpangan, semisal kurafat, bidah, dan takhayul.

Dalam tulisannya yang berjudul “Persatuan Islam (Persis) pada Masa Kontemporer 1945-2015,” Prof Dudung Abdurahman mengatakan, Persis menjadikan tajdid sebagai visi utama. Hal itu lalu dikembangkan menjadi perjuangan yang menuju dua arah sekaligus. Pertama, internal umat Islam, khususnya kalangan Persis sendiri.

Mereka terus berupaya membimbing kaum Muslimin agar menjauhi paham dan praktik ritual yang tidak berdasarkan pada Alquran dan hadis. Kedua, eksternal umat, terutama pihak-pihak yang kerap “menyerang” Islam.

Dudung meneruskan, para pendiri Persis sangat dipengaruhi pemikiran sejumlah pembaru Islam. Di antaranya ialah Ibnu Taimiyah, Ibnu Qayyim, Muhammad Abduh, Muhammad Abdul Wahhab, asy-Syahibi, as-Syauqani, dan Muhammad Rasyid Ridha. Mereka menghendaki cara berpikir dan laku hidup yang baru sehingga umat Islam bisa maju. Hal itu dilakukan dengan kembali kepada ajaran Alquran dan Sunnah Rasul SAW.

Begitu terbentuk, Persis menjadi tempat berkumpulnya sejumlah kaum muda dan tua Muslimin. Mereka menaruh perhatian yang besar pada dinamika dakwah dan pendidikan Islam. Agenda utama organisasi tersebut pada masa-masa awal ialah diskusi. Tiap anggota dapat mengajukan masalah keagamaan yang menurutnya sedang dihadapi umat dalam realitas sehari-hari.

Hassan datang

Kira-kira satu setengah tahun sesudah berdirinya Persis, Kota Bandung kedatangan seorang tokoh dari Temasek (Singapura). Namanya, Ahmad Hassan. Kepiawaiannya berdagang. Namun, ia menaruh perhatian sangat besar pada dunia dakwah dan pendidikan. Kedalaman ilmu-ilmu agamanya pun diakui luas. Di kota berhawa yang sejuk ini, masyarakat pun memandangnya sebagai seorang ustaz.

Reputasinya kemudian didengar pihak Persis. Para pendiri organisasi ini akhirnya bersahabat baik dengan Ustaz A Hassan. Sosok yang lancar berbahasa Melayu, Arab, Inggris, dan Tamil itu juga sering bergabung dalam kegiatan diskusi-diskusi yang digelar Persis.

Pada 1924, bergabunglah ia dengan pergerakan ini. Sejak saat itu, namanya menjadi lekat dengan Persis. Bahkan, sering kali disebut bahwa A Hassan dan Persis bagaikan dwitunggal. Satu sama lain identik dan tak terpisahkan. Sebagai aktivis, dirinya memusatkan perhatian pada pengembangan pemikiran Islam.

Prof Dudung mengatakan, pengembangan pemikiran keislaman yang ditunjukkan Persis kala itu cenderung tertumpu pada kiprah A Hassan. Menurut akademisi ini, sang ustaz dari Temasek itu adalah guru utama organisasi. Di bawah asuhannya pula, banyak kader muda yang dihasilkan.

A Hassan dikenal sebagai ulama yang jago berdebat. Kebiasaan berdebat yang dilakukannya bahkan menjadi ciri utama Persis kala itu. Selain menjadi sarana dakwah, perdebatan juga digunakan sang ustaz untuk menarik perhatian kaum terpelajar.

Saat berdebat, Hassan tampak sangat garang. Julukannya, singa podium. Namun, apa-apa di arena debat tak pernah dibawa-bawa ke luar. Baginya, perbedaan pendapat adalah hal biasa. Maka, tak perlu ada caci maki, apalagi sampai menggerakkan massa untuk mengintimidasi.

 
Saat berdebat, Hassan tampak sangat garang. Julukannya, singa podium. Namun, apa-apa di arena debat tak pernah dibawa-bawa ke luar. Baginya, perbedaan pendapat adalah hal biasa.
 
 

Sejak datangnya Ustaz A Hassan, kaderisasi Persis mulai menampakkan dinamika yang signifikan. Muncullah banyak tokoh lainnya, seperti Mohammad Natsir, Mohammad Isa Anshary, E Abdurrahman, dan Abdul Latief Muchtar. Kontribusi dan peran mereka membuat organisasi tersebut kian berkembang luas.

Peneliti Howard M Federspiel dalam disertasi berjudul “Persatuan Islam: Islamic Reform in Twentieth Century Indonesia (1970)” memaparkan, Persis mengalami masa gemilang pada periode tahun 1920-an, 1930-an, dan 1950-an. Coraknya saat itu sangat ideologis dan kontroversial. Karena itu, posisinya penting dalam dialektika pemikiran Islam di Tanah Air.

Yang menjadi karakteristik khas Persis, lanjutnya, ialah kiprahnya dalam gerak wacana pemikiran keagamaan. Banyak tokoh yang pertama-tama menjadikan organisasi itu sebagai “kawah candradimuka.” Di dalamnya, mereka mematangkan cara berpikir dan menguasai pemikiran-pemikiran keislaman dan kebangsaan. Selanjutnya, ada di antaranya yang lantas bergabung dengan ormas-ormas Islam lain, semisal Muhammadiyah, Sarekat Islam, Dewan Da’wah, dan sebagainya.

photo
Para tokoh Persatuan Islam (Persis) pada masa-masa awal. Sosok yang duduk kedua dari kiri ialah Ustaz A Hassan. - (DOK WIKIPEDIA)

Banyak berkarya

Wakil Ketua Umum Persis Ustaz Jeje Zainuddin mengatakan, para pendiri awal Persis memang tidak bermimpi untuk menjadikan organisasi ini, umpamanya, bermassa besar. Menurutnya, the founding fathers ormas itu cenderung berfokus pada diseminasi pemikiran dan gagasan-gagasan pembaruan Islam.

“Persis itu mula didirikannya fokus pada penyebaran konsep pemikiran, modernisasi, dan pembaruan Islam. Konsep awalnya itu memang di //nashrul fikrah//, jadi penyebaran gagasan,” ujarnya kepada Republika, baru-baru ini.

Ustaz Jeje meneruskan, ada beragam cara dilakukan para aktivis Persis generasi awal untuk menyebarluaskan cita-cita dan ide tajdid. Misalnya, menggelar pertemuan umum, tabligh, khutbah, atau membentuk kelompok-kelompok studi Islam. Mereka juga mendirikan sekolah dan menerbitkan majalah atau pamflet. Selain itu, penerbitan kitab-kitab keislaman juga dilakukan.

“Khazanah Persis di generasi awal itu adalah prestasi di bidang karya-karya tulis,” ucapnya.

 
Persis kemudian dideklarasikan kembali dengan gerakan baru. Maka, mulailah terlibat dengan konfrontasi secara langsung dengan komunis.
 
 

Menurut Ustaz Jeje, pada masa itu para ulama Persis belum menargetkan pembukaan cabang-cabang organisasi. Begitu pula dengan perekrutan anggota seluas-luasnya. Barulah pada 1948, seorang tokoh Persis, Kiai Isa Anshary, berupaya menggalang kekuatan masyarakat. Tujuan utamanya untuk kepentingan politik umat pada masa itu.

“Persis kemudian dideklarasikan kembali dengan gerakan baru. Maka, mulailah terlibat dengan konfrontasi secara langsung dengan komunis,” ujar Ustaz Jeje.

Pada 4 Maret 1957, Isa Anshary menandatangi Manifesto Politik Persis. Isinya antara lain menolak Konsepsi Soekarno yang menyertakan kaum komunis ke dalam pemerintahan.

Ustaz Jeje menuturkan, Persis dipimpin Isa Anshary antara tahun 1948 dan 1961. Dalam periode itu, ormas tersebut termasuk kelompok-kelompok yang sangat menentang paham komunis. Para aktivisnya memang, bahkan sebelum terjun ke dunia politik, sudah menjadi lawan debat yang tangguh. Sikap anti-komunis sudah lama ditunjukkan.

Selama kepemimpinan Isa Anshary, Persis berkali-kali mengeluarkan manifesto. Semuanya ditujukan untuk menentang komunisme. Pada 1953-1958, ormas ini menerbitkan majalah anti-marxisme. Turut membentuk pula Front Anti-Komunis.

Pada masa itu, Presiden Sukarno mencetuskan Nasakom—gabungan Nasionalis, Agama, Komunis. Banyak tokoh Persis yang tergabung dalam kalangan penentangnya. Tidak sedikit di antaranya yang ditangkap penguasa sebagai tahanan politik Orde Lama.

“Dari kejadian itu, maka kepemimpinan Persis dari tahun 1962 sampai 1983 akhirnya mulai menahan diri dari gerakan massa. Balik lagi kepada penguatan pemikiran,” jelas Ustaz Jeje.

Pada masa transisi, dari Orde Lama ke Orde Baru, situasi politik umat kian kondusif. Persis kembali bergeliat. KH E Abdurrahman naik menjadi pemimpin ormas tersebut. Ia pun banyak melakukan penguatan internal organisasi.

“Di bawah kepemimpinan Kiai Abdurrahman, Persis itu penguatan ke dalam. Peneguhan khittah fikrah Persis di bidang hukum Islam. Makanya di periode itu, kami dikesankan sebagai fikih-oriented,” katanya.

Pada tahun 1984, Persis kemudian dipimpin oleh KH Abdul Latief Muchtar. Pada saat itu, kiprah ormas-ormas Islam diharapkan semakin besar untuk berkontribusi terhadap pembangunan umat dan bangsa.

Kiai Abdul Latief menginisiasi berdirinya kembali cabang-cabang Persis. Sejak 1990, muktamar Persis digelar secara periodik, lima tahun sekali. Ormas ini juga mulai mengembangkan pesantren dan lembaga pendidikan lainnya.

 


×