Warga memanen sayuran kangkung di area Kelompok Berkebun (Pokbun) Flamboyan RW 14, Cisaranten Kidul, Kota Bandung, Kamis (10/12). Warga secara swadaya menanam dengan teknik urban farming berbagai jenis sayuran dan membudidayakan ikan sebagai upaya ketahan | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
16 Sep 2021, 03:45 WIB

Transformasi di Tengah Krisis

Kita perlu inovasi sosial dan teknologi yang dibangun atas dasar pengetahuan yang solid.

TAUCHID KOMARA YUDA, Dosen di Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, UGM

Perjuangan melawan pandemi Covid-19 menelan biaya tak sedikit. Resesi yang parah membuat banyak negara, baik kaya ataupun miskin, kini tertatih untuk kembali pulih.

Meski begitu, pandemi memberi waktu berpikir untuk menemukan cara "melompat" satu langkah lebih maju melampaui normativisme sebelum pandemi datang. Antara lain, berfokus pada inovasi-inovasi yang berlandaskan ilmu pengetahuan.

Mengapa ini penting? Ulrich Beck, dalam tesisnya tentang masyarakat risiko, mengingatkan kita, risiko termasuk dari alam seperti Covid-19, juga rabies, HIV, Nipah, Ebola meningkat seiring intensitas aktivitas ekonomi.

Terkait

Beberapa dekade terakhir, aktivitas ekonomi itu terlalu bergantung dan semakin tak berjarak dengan alam. Naveen Jandu (2020), mikrobiologis dari Universitas Waterloo, mengatakan industrialisasi ditengarai faktor yang 'mendekatkan' manusia dengan habitat virus.

Ini dapat dijelaskan sebab  industrialisasi membuat hutan menyempit. Sementara, aktivitas manusia terus merambah ke habitat satwa liar yang selama ini dianggap media transmisi penularan virus ke manusia.

 
Dalam mencegah dan mengurangi keterpaparan manusia pada risiko, termasuk pandemi di masa depan, negara bersama masyarakat harus mulai fokus pada pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan, sambil mengurangi ketergantungan pada alam.
 
 

Peluang penyebaran semakin tinggi seiring pertumbuhan populasi, mobilitas global dan perubahan iklim.

Dalam mencegah dan mengurangi keterpaparan manusia pada risiko, termasuk pandemi di masa depan, negara bersama masyarakat harus mulai fokus pada pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan, sambil mengurangi ketergantungan pada alam.

Solusi menjanjikan

Sosiolog Michael Focault mengatakan, knowledge is power, termasuk dalam konteks pengembangan ekonomi, di mana pengetahuan berposisi sebagai mesin produksi paling kuat. Ia menggantikan SDA sebagai kapital dalam menciptakan kekayaan tanpa banyak merusak lingkungan.

Berbagai studi (Romer 1986; Lucas 1988; Acemoglu 2008) menunjukkan, ekonomi berbasis pengetahuan mengekstraksi nilai lebih besar dari sumber daya terbatas guna menopang pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga cadangan finansial jangka panjang.

Pengembangan ekonomi baru ini perlu didukung penciptaan SDM berkualitas. Belajar dari negara tetangga, dalam mengejar peluang ekonomi pengetahuan, Malaysia  merombak dan merestrukturisasi pendidikan mereka.

Fokusnya,  kurikulum inovatif untuk membantu siswa menemukan dan mengembangkan cara berpikir analitis berorientasi penciptaan cadangan modal manusia yang terampil. Ini upaya mencapai level setara negara industri maju dalam kinerja ekonomi dan teknologi.

 
Pengembangan ekonomi baru ini perlu didukung penciptaan SDM berkualitas. Belajar dari negara tetangga, dalam mengejar peluang ekonomi pengetahuan, Malaysia  merombak dan merestrukturisasi pendidikan mereka.
 
 

Departemen Riset Ekonomi Malaysia (2020) memproyeksikan, penerapan ekonomi berbasis pengetahuan dapat menggandakan PDB sebanyak 4 kali lipat dalam 20 hingga 25 tahun. Upaya serupa dilakukan Korea Selatan (Korsel), sejak 1980-an.

Dalam kasus Korsel, pendirian dan penguatan pendidikan kejuruan masuk bagian prioritas rencana pembangunan mereka selama periode transformasi ekonomi pengetahuan. Sebagian anggaran negara juga dialokasikan ke sana.

Bagaimana dengan Indonesia? Baru-baru ini pemerintah mendorong kampus menerapkan kurikulum ‘Merdeka Belajar-Kampus Merdeka’ (MBKM). Salah satu yang ingin dicapai, mahasiswa dapat belajar selama tiga semester di luar program studi.

Ini memungkinkan mahasiswa mendapatkan manfaat pembelajaran praksis sesuai minat dan bakatnya. Meskipun begitu, belum ada orientasi pasti apakah program ini menyasar visi ekonomi pengetahuan atau tidak.

Di samping peningkatan kualitas SDM, investasi lebih banyak dalam research and development (RnD) perlu dilakukan. Sayangnya, alokasi untuk RnD kita saat ini hanya 0,2 persen dari PDB. Jauh tertinggal dari Korsel yang mencapai 4 persen PDB-nya.

Agenda prioritas

Di tengah  pandemi, prioritas ekonomi digital dapat menjadi langkah akseleratif pertama mendukung transformasi ekonomi pengetahuan sekaligus mempercepat tindakan menghadapi kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 
Di tengah  pandemi, prioritas ekonomi digital dapat menjadi langkah akseleratif pertama mendukung transformasi ekonomi pengetahuan sekaligus mempercepat tindakan menghadapi kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
 
 

Ada dua alasan terkait transformasi ekonomi berbasis pengetahuan. Pertama, intensitas masyarakat memanfaatkan ekonomi digital selama pandemi lebih tinggi. Kedua, kehadiran lebih 2.000 perusahaan teknologi dan 150 perusahaan fintech di Indonesia.

Empat di antaranya, berstatus unicorn (perusahaan rintisan senilai 1 miliar dolar AS atau lebih), memberikan fondasi solid bagi pengembangan potensi ekonomi digital lebih jauh.

Jika kita benar-benar berfokus pada sektor digital, potensi ekonomi mencapai 124 miliar dolar AS pada empat tahun mendatang.

Agenda prioritas lainnya, perencanaan pengembangan produk eco-friendly. Dalam dua dekade terakhir, komoditas ramah lingkungan diminati pasar Eropa.

Hal mengejutkan, preferensi produk ramah lingkungan kian menguat selama pandemi seiring tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat global yang mulai memahami, munculnya Covid-19 merupakan risiko laten akibat dari aktivitas ekonomi konvensional.

Namun, upaya menghasilkan itu semua, kita perlu inovasi sosial dan teknologi yang dibangun atas dasar pengetahuan yang solid. Untuk itu, ekosistem inovasi terbuka  perlu dibangun untuk mempercepat perkembangannya. 


×