ILUSTRASI Ali bin Abi Thalib merupakan seorang sahabat Nabi SAW yang tak hanya berilmu, tetapi juga berbudi pekerti luhur. | DOK REP Putra M Akbar
12 Sep 2021, 05:26 WIB

Ali dan Lamanya Rukuk Nabi

Dalam pandangan Rasulullah SAW, Ali telah berlaku benar karena menghormati orang yang lebih tua.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Dalam Islam, orang-orang yang berilmu menempati kedudukan yang mulia. Bagaimanapun, agama ini juga mengajarkan,ilmu haruslah disertai dengan akhlak yang luhur. Tanpa keduanya seiring sejalan, kemuliaan seseorang justru bisa membawa petaka, baik kepada dirinya sendiri maupun masyarakat.

Dalam sejarah, seorang teladan dalam hal kedalaman ilmu dan keluhuran budi pekerti ialah Ali bin Abi Thalib. Tokoh ini sering disebut sebagai “gerbang” dari “kota ilmu”—Rasulullah SAW. Sepupu Nabi Muhammad SAW tersebut memeluk Islam sejak masih anak-anak.

Terkait

Kisah berikut ini disarikan dari Usfuriyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakar. Ia menuturkan, pada suatu hari sesudah azan subuh berkumandang Ali bin Abi Thalib bergegas ke masjid. Seperti kaum Muslimin umumnya, ia hendak menghadiri shalat subuh yang diimami Rasulullah SAW.

Maka berangkatlah ia menuju masjid. Di tengah perjalanan, tiba-tiba Ali melihat seorang kakek berjalan dengan sangat pelan. Maklum, tubuh rentang orang tua itu tidak memungkinkannya untuk lekas melangkah.

Ali tentunya mengetahui, bersegera ke masjid untuk mengikuti shalat berjamaah adalah keutamaan. Namun, ia tidak mau mendahului kakek di hadapannya. Hal itu dilakukannya dengan pertimbangan menjaga sopan santun terhadap orang tua.

Maka berjalanlah Ali di belakang kakek tersebut. Sedemikian rupa sehingga lansia itu tidak merasa bahwa dirinya sedang “menghalangi” jalan sang karamallahu wajhah ke masjid. Karena begitu pelannya langkah kaki sang kakek, waktu yang diperlukan Ali untuk tiba ke masjid menjadi lebih lama dari biasanya.

 
Ali tidak mau mendahului kakek di hadapannya. Hal itu dilakukannya dengan pertimbangan menjaga sopan santun terhadap orang tua.
 
 

Yang cukup membuat Ali terkejut, ternyata kakek itu berbelok dari arah masjid. Di persimpangan jalan, orang tua itu memilih ke kanan. Saat menyadari ada orang di belakangnya, kakek tersebut mengenali wajah Ali. Kepadanya, ia menyampaikan bahwa dirinya adalah seorang Nasrani sehingga tidak ada urusannya dengan masjid pada subuh itu.

Setelah berpisah dengan orang tua itu, Ali mempercepat langkahnya menuju masjid. Beruntung, suami Fathimah az-Zahra itu mendapati Rasulullah SAW masih dalam keadaan rukuk. Ia pun segera ikut dalam jamaah untuk memperoleh rakaat pertama subuh.

Sesudah shalat, para sahabat bertanya kepada Nabi SAW, mengapa beliau melakukan rukuk lebih lama daripada biasanya. Kira-kira, durasi rukuknya setara dua kali rukuk.

“Wahai Rasulullah, engkau menambah durasi rukuk. Mengapa demikian, sementara hal itu belum pernah engkau lakukan sebelumnya?” tanya seorang jamaah.

“Saat rukuk tadi,” jawab Nabi SAW, “aku melakukannya dengan biasa, termasuk membaca wirid subhana rabbiyal ‘azhim. Tiba-tiba, saat aku hendak bangun, Malaikat Jibril datang dan meletakkan sayapnya di atas punggungku. Barulah sesudah sayapnya diangkat, aku bisa bangun dan meneruskan gerakan shalat.”

“Mengapa demikian, wahai Rasulullah?” tanya sahabat.

“Aku pun tidak bertanya kepada Jibril,” kata Nabi SAW.

Sejurus kemudian, beliau menerima perkataan dari Jibril. Kepada beliau, sang malaikat memberi tahu bahwa rukuknya pada subuh tadi ditahan atas perintah Allah SWT.

“Allah mengutusku untuk menahan rukukmu tadi sehingga Ali dapat mengikuti shalat subuh,” ujar Jibril.

Pemimpin para malaikat itu juga menyampaikan, Mikail ternyata juga diperintahkan-Nya, yakni untuk menahan matahari sejenak. Hal itu supaya Ali tidak ketinggalan shalat subuh berjamaah bersama Rasulullah SAW lantaran memperlambat langkah kakinya ke masjid.

Mendengar itu, Ali membenarkan keadaan dirinya itu. Ia juga mengatakan, kakek yang sempat dijumpainya di jalan adalah seorang non-Muslim.

“Ali telah menghormati seorang tua walaupun lansia itu beragama Nasrani,” ujar Nabi SAW kepada para sahabat.

Dalam pandangan Rasulullah SAW, Ali telah berlaku benar karena menghormati orang yang lebih tua. Sepupunya itu tidak mau mendahului sang lansia sehingga tidak menyakiti hatinya, yang mungkin merasa jalannya telah menghambat orang muda. Sikap Ali itu dibalas Allah Ta’ala, yang mengutus para malaikat agar memperlama shalat Nabi SAW.


×