ILUSTRASI Imam Abu Hanifah merupakan satu-satunya imam empat mazhab aswaja yang tidak berasal dari Arab. | DOK REP DAAN YAHYA
05 Sep 2021, 09:53 WIB

Imam Hanafi Jawab Tantangan Khawarij

Dalam melakukan dakwah, Imam Hanafi itu selalu menggunakan cara-cara yang moderat.

OLEH HASANUL RIZQA

Beberapa golongan ekstrem pernah bermunculan di dalam tubuh umat Islam. Sifat mereka cenderung bertolak belakang dengan karakteristik ajaran agama ini, yaitu menyebarkan rahmat dan maslahat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin). Bahkan, ada pula di antaranya yang terang-terangan melancarkan kebencian terhadap sesama Mukmin.

Salah satu kelompok ekstremis yang tercatat sejarah ialah Khawarij. Kemunculannya dilatari situasi keterbelahan politik Muslimin pasca-wafatnya Khalifah Utsman bin Affan. Pada 657 M, terjadilah Perang Siffin yang memperhadapkan antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Pertempuran itu berujung pada arbitrase (tahkim). Dalam perundingan tersebut, Ali mengutus Abu Musa al-Asyari, sedangkan Muawiyah diwakili Amr bin Ash. Kemampuan siasat Amr ternyata lebih jitu. Kubu Ali pun terpojok. Seolah-olah, Abu Musa kemudian menyetujui kepemimpinan gubernur Syam itu.

Terkait

Mengetahui kegagalan di tahkim, sekelompok orang dari para pengikut khalifah keempat berkeras. Bahkan, Ali ditudingnya sebagai biang kesalahan, padahal mereka sendiri pada mulanya mendukung tahkim. Kaum itu lalu berlepas diri serta mengangkat Abdullah bin Wahab ar-Rasibi sebagai pemimpin baru.

Golongan yang keluar itu (bahasa Arab: kharaja) pada akhirnya disebut sebagai Khawarij. Sesudah pindah ke Harura—daerah dekat Kufah, Irak—kaum ekstremis ini terus menyebarkan propaganda jahat. Semisal, Muawiyah adalah kafir karena telah menentang kepemimpinan yang sah. Bahkan, Ali juga dicapnya kafir karena mau menerima hasil tahkim.

Dalam pandangannya, semua kelompok adalah kafir kecuali diri mereka sendiri. Imbasnya, banyak Muslimin, baik warga “biasa” maupun tokoh-tokoh besar, dibunuhnya. Ali pun menjadi korban pembunuhan yang dilakukan seorang Khawarij.

 
Dalam pandangan kaum Khawarij, semua kelompok adalah kafir kecuali diri mereka sendiri.
 
 

Hingga awal abad kedua Hijriyah, pengaruh kelompok ekstrem itu masih terasa di Irak, termasuk Kufah. Kota tersebut merupakan tempat Imam Abu Hanifah tinggal dan mengajar. Sebagai seorang ulama ahlus sunnah waljamaah (aswaja), sang imam berupaya membimbing umat agar tidak terjerumus pada kesesatan.

Dalam melakukan dakwah, tokoh yang juga disebut Imam Hanafi itu selalu menggunakan cara-cara yang moderat. Tidak pernah dia menyalahkan pihak-pihak yang berseberangan pandangan. Kalaupun mengoreksi, sikap santun tetap ditunjukkannya kepada kaum ekstremis.

Sebagai contoh, pada suatu hari Imam Hanafi diajak berdebat oleh seorang pengikut Khawarij, Dhahhak bin Qais. Mulanya, pendiri Mazhab Hanafi itu baru saja selesai mengajar di halaqah. Sesudah shalat, ulama aswaja ini duduk-duduk sebentar di dalam masjid.

Tiba-tiba, Dhahhak datang mendekatinya. Gerak-gerik tokoh Khawarij ini sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat. Bagaimanapun, Imam Hanafi tetap bersikap biasa.

“Hai Abu Hanifah, engkau wajib bertobat kepada Allah!” kata Dhahhak dengan sengaja mengeraskan suaranya agar menarik perhatian jamaah.

“Mengapa engkau sebut saya wajib bertobat?” tanya Imam Hanafi, tenang.

“Ya karena Anda membenarkan kedua belah pihak yang ber-tahkim!” jawab pentolan Khawarij cabang Kufah itu dengan wajah yang tampak garang.

Imam Hanafi lalu mempersilakannya untuk duduk. Lalu, ia berkata, “Kalau begitu, apakah sekarang engkau datang untuk membunuhku? Ataukah engkau datang hanya untuk berdebat?”

“Berdebat!”

“Baiklah, tetapi siapa yang akan menengahi kita berdua?” tanya sang ulama. Sementara itu, orang-orang mulai datang mengerumuni mereka.

“Silakan engkau tunjuk siapa pun orang yang kamu suka di masjid ini,” ujar Dhahhak sambil tersenyum sinis.

Maka Imam Hanafi menoleh ke kanan dan kiri. Dijumpainya seorang jamaah yang terkenal sebagai pendukung Khawarij. Tentunya, Dhahhak pun mengetahui siapa lelaki yang ditunjuk sang alim.

“Silakan duduk di antara kami berdua,” kata Imam Hanafi kepada pria tersebut, "Engkau akan menjadi moderator debat antara diriku dan dia.”

“Baiklah,” timpal si jamaah.

“Wahai Dhahhak, setujukah engkau bila dia menjadi hakim di perdebatan kita?” tanya Imam Hanafi lagi.

“Ya, setuju saja,” ucap Dhahhak.

“Kalau begitu, bukankah engkau sekarang menyetujui metode tahkim?”

Meskipun disampaikan dengan ekspresi dan intonasi suara yang biasa, pertanyaan Imam Hanafi itu bagaikan petir di siang bolong bagi Dhahhak.

Ia yang awalnya galak kini terdiam, seakan tak berdaya di hadapan alim aswaja tersebut. Merasa malu, Dhahhak pun pergi meninggalkan masjid tanpa berkata-kata lagi.


×