Relawan Covid-19 Passer membawa bendera merah putih usai mengikuti upacara HUT Kemerdekaan ke-76 Republik Indonesia di Sungai Cikijing, Rancaekek, Kabupaten Bandung, Selasa (17/8/2021). Agustus adalah bulan pengingat memori kolektif seluruh anak bangsa da | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Opini

Agustus yang tak Biasa

Agustus adalah bulan pengingat memori kolektif seluruh anak bangsa dalam mengakhiri penjajahan.

MUKTI ALI QUSYAIRI; Ketua LBM PWNU DKI Jakarta dan Anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat

Agustus tahun 2021 membersamai tahun baru Hijriyah, Muharram, dan ‘Asyura. Pada saat yang sama, bangsa kita masih belum move on dari pandemi Covid-19. 

Agustus adalah bulan pengingat memori kolektif seluruh anak bangsa atas sebuah nasib bangsa yang berhasil mengakhiri penjajahan dan memulai hidup baru dengan merdeka.

Agustus saat ini membersamai tahun baru Hijriyah, di mana keduanya mengandung pesan yang sama, yaitu berpindah dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dari keadaan buruk ke keadaan yang baik. Dalam kesadaran kolektif anak bangsa, Agustus merupakan titik awal anak bangsa mengalami hijrah dari keadaan yang tertindas, diperbudak, dan dibelenggu oleh penjajah menuju keadaan merdeka, independen, dan tuan bagi diri sendiri. 

Dalam konteks Agustus tahun 2021 ini kesadaran kolektif anak bangsa berikhtiar terciptanya hijrah dari keadaan pandemi Covid-19 ke keadaan normal seperti sediakala. Hijrah dari krisis kesehatan ke hidup sehat, dan hijrah dari krisis ekonomi ke kejayaan ekonomi. Sehingga Indonesia menjadi negara yang maju, aman, dan berjaya.

 
Hijrah dari krisis kesehatan ke hidup sehat, dan hijrah dari krisis ekonomi ke kejayaan ekonomi
 
 

Tahun baru Islam ditetapkan berdasarkan ide brilian sahabat Umar bin al-Khatthab mengacu kepada peristiwa hijrah yang sangat penting sebagai titik awal perkembangan dan kemajuan Islam. Perubahan tahun hijriyah dengan menggunakan barometer perputaran rembulan disebut qamariyah, sedangkan tahun masehi dengan menggunakan barometer perputaran matahari disebut samsiyah.

Ketetapan hijriyah tidak mengikuti masehi ini menurut saya penting sebagai ciri kekhususan—pembeda dengan yang lain—bagi sebuah identitas komunitas yang independen dan merdeka.

Spirit Islam sejatinya adalah kemerdekaan, hurriyah. Nabi Muhammad SAW berkata, “tidak boleh memperbudak orang merdeka.”

Karena itu, Islam merupakan agama antikolonial. Sebab, penjajahan atau kolonialisme adalah wujud perbudakan terhadap orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan merdeka yang dikecam dan dilarang oleh Islam.

Selain itu, Islam sebagai agama tauhid (monoteisme) meniscayakan kesetaraan, musawa, seluruh umat manusia di hadapan Tuhan. Agama tauhid ini jelas antitesa dari kolonialisme yang memberlakukan kelas sosial yang diskriminatif secara vulgar, yaitu pihak kolonial sebagai tuan dan pihak yang dijajah sebagai budak.

 
Agama tauhid ini jelas antitesa dari kolonialisme yang memberlakukan kelas sosial yang diskriminatif secara vulgar.
 
 

Pihak kolonial sebagai yang menghisap dan pihak yang dijajah sebagai pihak yang dihisap. Pihak kolonial sebagai pihak despotis dan pihak yang dijajah sebagai pihak yang dieskploitatif dan diskriminatif.

Tahun baru Hijriyah jatuh pada bulan Muharram, sebuah bulan —dalam tradisi masyarakat Arab jauh sebelum Nabi Muhammad lahir dan diturunkan wahyu kepadanya— yang diharamkan untuk berperang dan konflik. Dengan kata lain, bulan yang dihormati oleh seluruh masyarakat Arab. Bulan yang penuh damai.

Tanggal 10 di bulan Muharram yang dikenal dengan ‘Asyura dijadikan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Hari Raya Anak Yatim. Di setiap ‘Asyura, Nabi Muhammad bersedekan dan menyantuni anak-anak yatim sambil membelai kepala-kepala anak yatim. Dan bahkan Nabi juga memanggil anak-anak yatim beserta keluarganya untuk menyantap makanan dan minuman sepuasnya.

 
Santunan kepada anak yatim dan kaum mustadzh’afin selaras dengan nilai-nilai keadilan sosial, gotong royong, dan tolong menolong.
 
 

Santunan kepada anak yatim dan kaum mustadzh’afin selaras dengan nilai-nilai keadilan sosial, gotong royong, dan tolong menolong sebagai legacy nenek moyang nusantara yang diperas dalam Pancasila. Dalam tradisi nusantara—setidaknya yang saya lihat dalam tradisi lokal Cirebon tempat lahir beta— setiap Asyura masyarakat ramai membuat bubur Suro yang berwarna merah dan putih, dan dikenal dengan bubur abang bubur putih.

Bubur itu dibagikan ke para tetangga, khususnya ke kaum mustadzh’afin dan keluarga yang terdapat anak yatimnya. Dan para dermawan membagikan uang kepada anak-anak yatim sambli membelai rambutnya. 

Konon tradisi berbagi bubur abang bubur putih sudah berlangsung sebelum Indonesia merdeka, dan bahkan sejak zaman Walisongo. Malahan sebagian lagi berpendapat bahwa berbagi bubur abang bubur putih sudah ada sebelum masuknya Islam ke nusantara. 

Bubur abang bubur putih yang pada akhirnya menjadi bagian dari kearifan lokal Muslim nusantara ini menjadi sebuah representasi ekspresi dua hal sekaligus: merah putih sebagai simbol semangat dan ketulusan yang nantinya terwujud dalam bendera merah putih dan representasi dari sikap berbagi makanan bubur dan apa saja yang bisa dibagikan kepada sesama yang membutuhkan.

 
Bubur abang bubur putih yang pada akhirnya menjadi bagian dari kearifan lokal Muslim nusantara ini menjadi sebuah representasi ekspresi dua hal sekaligus.
 
 

Barangkali saat ini berbagi bubur sudah biasa. Akan tetapi, dulu pada zaman susah, bubur merupakan barang mewah dan istimewa. Meski demikian, pesan yang terkandung di dalamnya adalah sikap saling berbagi.

Merah putih pun pernah menjadi bendera kebesaran negara Majapahit pada abad ke-13. Menurut Prof Dr Muhammad Yamin, bendera merah putih Majapaih pada abad ke-13 ditemukan dalam kalimat Piagam Gunung Butak, yang berbunyi “hana ta tunggal layu-layu katon bang lawan putih warnnanya" (adalah kelihatan bendera melambai-lambai berwarna merah putih).

Syahdan, merah putih menjadi bendera lantaran Patih Gajahmada terinspirasi dari gula kelapa. Gula jawa yang berwarna merah dan kelapa yang berwarna putih. Gula jawa yang terbuat dari kelapa pun mengandung khasiat bagi pengobatan dan imunitas tubuh.

Sebab, gula jawa mengandung banyak vitamin dan khususnya vitamin C, mineral, kalium, magnesium, kalsium, besi, tembaga, dan fosfor. Sehingga dapat membantu mengobati diabetes, memiliki banyak nutrisi, mengurangi berat badan, mengandung rendah lemak, baik untuk usus. Di dalam merah putih terdapat kesadaraan atas pentingnya kesehatan yang relevan sepanjang masa khususnya di saat sedang menghadapi pandemi Covid-19.

Selain itu, merah putih juga terinspirasi dari tulang putih dan darah merah yang inheren di dalam tubuh manusia. Merah juga bermakna semangat dan putih bermakna suci dan tulus ikhlas.

 
Merah putih juga terinspirasi dari tulang putih dan darah merah yang inheren di dalam tubuh manusia.
 
 

Bendera merah putih juga digunakan Kerajaan Kediri yang sekarang termasuk wilayah Jawa Timur dan Kerajaan Bugis Bone yang sekarang termasuk wilayah Sulawesi.

Bahkan, Prof Dr Muhammad Yamin dalam bukunya “6000 Tahun Sang Merah Putih” yang terbit pertama kali di Jenewa, 10 Januari 1951, menyatakan bahwa nusantara sudah mengenal bendera merah putih sejak zaman Aditia-Tjandera yang diperkirakan 6.000 tahun yang lalu, sebagai lambang Sang Matahari dan Dan Rembukan yang melambangkan marna merah dan putih.

Meski Yamin sedang bersepekulasi dengan tahun merah putih, kita tersadarkan bahwa bangsa dan peradaban kita adalah bangsa dan peradaban yang sudah tua, memiliki akar kesejarahan, tradisi, dan legacy yang menghunjam kuat.

Karenanya sebagai bangsa yang mampu bertahan dan survive dari berbagai gempuran dari luar, sehingga kita pun pasti bertahan dan menang dari Covid-19.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat