Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani memeriksa pasukan sebelum shalat Idul Fitri beberapa waktu lalu. | EPA/HEDAYATULLAH AMID
27 Jul 2021, 03:45 WIB

Afghanistan Kembali Buka Sekolah dan Universitas

Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya di Afghanistan mulai dibuka, setelah tutup karena pandemi Covid-19.

KABUL -- Sekolah dan lembaga pendidikan lainnya di Afghanistan mulai dibuka, setelah tutup selama beberapa bulan karena pandemi virus Covid-19.

Pejabat Kementerian Pendidikan, Hamid Obaidi, mengatakan, pusat-pusat akademik akan dibuka kembali di sejumlah provinsi yang memiliki rasio kasus positif di bawah 35 persen. “Semua mahasiswa, guru, dan staf akan divaksinasi untuk ini,” kata Obaidi, dilansir Anadolu Agency, Senin (26/7).

Pada Mei, Afghanistan menutup semua universitas, sekolah, dan lembaga akademik lainnya karena peningkatan jumlah kasus Covid-19 tertinggi. Penutupan institusi pendidikan tersebut menyebabkan ujian masuk universitas tahunan di ibu kota Kabul juga ditangguhkan.

Pada Februari, Afghanistan memulai peluncuran vaksin Covid-19. Mereka menggunakan vaksin yang diproduksi di India setelah mendapatkan persetujuan penggunaan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Terkait

Pemerintah Afghanistan telah berulang kali menyerukan lebih banyak dukungan internasional untuk memvaksinasi setidaknya 20 persen dari perkiraan 38 juta penduduk tahun ini. Afghanistan juga menargetkan pada akhir 2022, sebanyak 60 persen dari total penduduknya telah menerima vaksinasi.

photo
Lansia di Afghanistan mengenakan masker untuk mencegah penularan Covid-19 di Kabul, Sabtu (5/6/2021). - (AP/Rahmat Gul)

Pemerintah Afghanistan berencana untuk memperoleh 12 juta dosis vaksin Covid-19 pada awal 2022. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, tingkat vaksinasi di Afghanistan cukup rendah. Sejauh ini kurang dari empat persen populasi telah divaksinasi.

Virus Covid-19 sangat mempengaruhi kehidupan anak-anak dan keluarga yang paling rentan di seluruh Afghanistan. Mereka menghadapi dampak gabungan dari pandemi, konflik, dan kekeringan.

Misi Bantuan PBB untuk Afghanistan (UNAMA) melaporkan, hampir 2.400 warga sipil Afghanistan tewas atau terluka pada Mei dan Juni saat pertempuran antara Taliban dan pasukan keamanan Afghanistan meningkat. Ini merupakam jumlah tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2009.

UNAMA mengatakan, mereka telah mendokumentasikan 5.183 korban sipil antara Januari dan Juni, di mana 1.659 di antaranya adalah kematian. Jumlah tersebut naik 47 persen dari periode yang sama tahun lalu.

“Saya memohon kepada para pemimpin Taliban dan Afghanistan untuk memperhatikan lintasan konflik yang suram dan mengerikan serta dampaknya yang menghancurkan terhadap warga sipil,” kata perwakilan khusus Sekjen PBB untuk Afghanistan, Deborah Lyons, dilansir Aljazirah, Senin (26/7). 

Sumber : Reuters


×