Siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar saat uji coba pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di Taman Kanak-Kanak (TK) Assalaam, Jalan Sasak Gantung, Kota Bandung, Senin (14/6/2021). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
25 Jun 2021, 03:55 WIB

Lindungi Anak-Anak dari Penularan Covid-19

Maraknya kasus Covid-19 usia anak sekolah dinilai akibat perlindungan yang lemah.

JAKARTA -- Anak-anak harus mendapatkan perlindungan ekstra di tengah mengganasnya penyebaran Covid-19. Selain memastikan diterapkannya protokol kesehatan (prokes), para orang tua diminta membatasi mobilitas anak demi meminimalkan risiko tertular Covid-19.

Berdasarkan data Satuan Tugas Penanganan Covid-19, total jumlah kasus Covid-19 pada anak usia sekolah mencapai 235.527 kasus per 17 Juni 2021. Jumlah itu setara 12,51 persen dari total kasus Covid-19.

"Artinya, dari delapan pasien tertular Covid-19, satu di antaranya adalah anak-anak usia sekolah yang berumur sampai 18 tahun," kata Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Hery Trianto saat dihubungi Republika, Kamis (24/6).

Dari total 235.527 kasus, sebanyak 30.442 kasus Covid-19 terjadi pada anak usia dini (PAUD) 0-2 tahun. Adapun penularan tertinggi terjadi pada anak usia 7-12 tahun atau jenjang sekolah dasar (SD) sebanyak 65.634 kasus. Posisi kedua ditempati anak sekolah menengah atas 16-18 tahun dengan jumlah 59.602 kasus. Adapun penularan Covid-19 pada anak non-usia sekolah sebanyak 87,49 persen (1.647.684 kasus).

Terkait

photo
Anak-anak mengikuti pengambilan sampel tes Covid-19 dengan swab antigen massal di Turi, Sleman, Yogyakarta, Senin (14/6/2021). Sebanyak 160-an warga dites Covid-19 massal dengan swab antigen menyusul adanya 5 KK yang positif terpapar Covid-19. Usai tes Covid-19 warga melakukan isolasi mandiri menunggu hasil tes swab antigen. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Satgas mencatat, penambahan kasus Covid-19 pada anak berada pada puncaknya pada Januari 2021 untuk seluruh kelompok umur. Jumlah kasus aktif kemudian mengalami penurunan hingga April dan kembali mengalami kenaikan pada Mei.

"Kemudian kematian tertinggi terjadi pada usia 0 hingga 2 tahun yaitu 0,82 persen, diikuti kelompok usia 16-18 tahun sebanyak 0,23 persen, dan umur 3-6 tahun 0,23 persen," katanya.

Hery mengatakan, ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan banyak anak usia sekolah di Indonesia terpapar Covid-19. Kemungkinan pertama, kata dia, karena tertular dari anggota keluarga yang mobilitasnya tinggi. Selain itu, diperkirakan karena tingginya mobilitas anak remaja usia SMA yang enggan berdiam diri di rumah.

Meski kemungkinan tersebut masih harus diteliti, Heri mengatakan Satgas mengaku mengkhawatirkan masalah ini. Oleh karena itu, Satgas Covid-19 sedang menyusun kampanye agar anak-anak remaja peduli untuk menjaga protokol kesehatan. Sebab, jika mereka tertular Covid-19 dan tak memiliki gejala, akan membahayakan anggota keluarga yang memiliki penyakit penyerta. "Oleh karena itu, mata rantai penularannya harus diputus," katanya.

Menurut epidemiolog, kasus Covid-19 pada anak usia sekolah di Indonesia terbilang tinggi. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menilai, masalah ini terjadi karena perlindungan pada anak yang lemah.

Dicky mencatat, persentase penularan Covid-19 pada anak secara global berada di kisaran 1-3  persen. Sementara penularan Covid-19 pada anak di Tanah Air masih di atas 10 persen.

"Kalau anak di Indonesia terinfeksi virus ini, bukan berarti varian ini lebih menyerang anak, melainkan proteksi kita pada anak yang lemah," katanya kepada Republika, kemarin.

Proteksi yang lemah itu, antara lain, perilaku orang dewasa di sekitar anak yang mengabaikan prokes. Selain itu, membawa anak pergi ke tempat ramai, sehingga tingkat interaksi tinggi yang menyebabkan anak berisiko tertular virus. Persoalan ditambah dengan penularan penyakit tidak menular (PTM) pada anak yang serius, seperti diabetes. Kemudian, obesitas, kurang gizi, dan status imunisasi anak juga memengaruhi kondisi ini.

Mengenai kasus kematian pada anak akibat Covid-19, ia menilai hal ini karena deteksi pada anak yang rendah dan terlambat dalam penanganan.  "Karena terlambat ditemukan ya terlambat dirujuk. Ini yang harus diperbaiki pemerintah," ujarnya. Oleh karena itu, Dicky meminta program pemerintah saat ini harus cepat dievaluasi dan diarahkan pada perlindungan anak.  

Epidemiolog dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Windhu Purnomo menilai, tingginya penularan Covid-19 pada anak karena orang tua dan pemerintah sama-sama tidak melindungi anak. "Orang tua membawa anak keluar rumah, diajak jalan-jalan ke mal, tempat piknik, tempat wisata, kemudian pergi bersilaturahim ke orang lain. Akibatnya, anak bisa tertular virus," kata Windhu.

Ia juga menilai pemerintah tidak maksimal dalam melindungi anak. Seharusnya, Satgas Covid-19 daerah melarang anak-anak dan orang tua masuk ke mal hingga pasar. Intinya, kata dia anak-anak harus dilindungi secara maksimal.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban mengatakan, tingginya kasus Covid-19 pada anak sama dengan yang terjadi di India ketika terjadi lonjakan penularan. Ia mengatakan, gelombang kedua yang melanda India turut menginfeksi usia muda.

 "(Kasus Covid-19 di India) pada usia kurang dari 19 tahun juga naik. Apa yang terjadi di Indonesia (peningkatan kasus Covid-19 pada anak) juga terjadi di India," ujarnya.

Menurut dia, varian baru Covid-19 dari India, yaitu Delta, menyebabkan kenaikan infeksi pada usia yang lebih muda di Tanah Air. Ia berharap pencegahan dan penanganan kasus Covid-19 pada usia anak bisa ditingkatkan.

Anak di DKI Tertular Covid-19

Kasus harian Covid-19 di DKI Jakarta kembali memecahkan rekor dengan 7.505 kasus baru pada Kamis (24/6). Sekitar 15 persen di antaranya merupakan anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, mengatakan, tren kasus positif aktif pada anak di bawah usia 18 tahun masih terus meningkat. Dari 7.505 kasus baru pada Kamis, sebanyak 830 kasus berasal dari anak usia 6-18 tahun. Sedangkan sisanya, sebanyak 282 kasus adalah anak usia 0-5 tahun.

Dwi menimbau para orang tua agar menjaga anak-anaknya lebih ketat dan menghindari keluar rumah membawa anak.  "Sebisa mungkin lakukan aktivitas di rumah saja bersama anak, karena kasus positif pada anak saat ini masih tinggi,” kata Dwi, Kamis (24/6).

Mengutip data dari laman corona.jakarta.go.id per 24 Juni, akumulasi kasus anak sudah mencapai 60.850 kasus. Di Kota Depok, Jawa Barat, sudah ada 10.636 anak usia sekolah yang terpapar Covid-19. Jumlah itu mencapai 19,23 persen dari total kasus per 20 Juni.  

photo
Guru memeriksa suhu tubuh siswa saat uji coba pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di Taman Kanak-Kanak (TK) Assalaam, Jalan Sasak Gantung, Kota Bandung, Senin (14/6). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Juru Bicara Tim Satgas Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana, mengatakan, para anak-anak dan remaja kebanyakan tertular Covid-19 dari orang tua yang bekerja kantoran. "Dengan demikian, anak dan remaja di Depok itu tertular dari klaster perkantoran hingga klaster keluarga. Selain juga, penularan Covid-19 anak dan remaja terjadi karena mereka abai protokol kesehatan (prokes), sering berkumpul tanpa masker," katanya.

Dadang mengingatkan agar para orang tua saat pulang kerjatidak bersentuhan langsung dengan anak sebelum membersihkan diri, mandi, dan sebagainya. "Setelah memastikan diri telah bersih, orang tua dapat berinteraksi dengan anak sehingga anak dapat terhindar dari penularan Covid-19," tuturnya.

Alih fungsi 

Kasus Covid-19 dalam beberapa hari terakhir terus mengalami peningkatan. Pemerintah pun terus berupaya menambah fasilitas untuk merawat pasien Covid-19. Langkah taktis salah satunya dilakukan Kementerian Agama bersama Kementerian BUMN dengan mengalihfungsikan Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

photo
Petugas keamanan berada di halaman Asrama Haji Bekasi, Jawa Barat, Rabu (23/6/2021). Kementerian Agama (Kemenag) memberikan izin kepada sedikitnya 27 dari 31 Asrama Haji di seluruh Indonesia untuk digunakan sebagai ruang isolasi pasien COVID-19 seiring dengan melonjaknya kasus Covid-19 di sejumlah daerah beberapa waktu terakhir ini. - (ANTARA FOTO/Suwandy)

Sinergi Kementerian Agama dan BUMN digagas oleh kedua menteri Yaqut Cholil Qoumas dan Erick Thohir. Asrama haji yang berada di bawah Kementerian Agama telah siap segala fasilitas untuk merawat dan isolasi pasien. Di sisi lain, Kementerian BUMN menyiapkan fasilitas dan tenaga kesehatan.

Langkah taktis ini menjadi salah satu antisipasi cepat guna menjamin ketersediaan ruang perawatan  "Alhamdulillah, kami bersama dengan Kementerian Agama dipimpin langsung Gus Yaqut, telah siap untuk menyediakan fasilitas perawatan baru di Asrama Haji. Ini menjadi wujud semangat bersama keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan," ujar Erick dalam keterangan persnya, Kamis (24/6).

Berkaca pada keberhasilan menyiapkan fasilitas Wisma Atlet, dia pun optimistis bahwa Asrama Haji akan menjadi solusi yang menjamin ketersediaan lokasi perawatan dan isolasi bagi masyarakat. "Tentu ini semua adalah antisipasi. Harapan bersama kami juga jajaran Kementerian Agama bersama pak Menteri Agama, tentu agar keterisian kamar isolasi dan perawatan bisa terus berkurang dengan harapan kita semua bisa melalui pandemi ini," kata Erick.


×