Petugas keamanan berjaga di area Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA), Kota Bandung, Kamis (3/6). Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan, tingkat keterisian rumah sakit di Jawa Barat mengalami peningkatan yang cuku | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
23 Jun 2021, 07:10 WIB

Fatalnya Saat Rumah Sakit Penuh

Muncul berbagai laporan warga meninggal karena tak dapat tempat di rumah sakit.

OLEH LILIS SRI HANDAYANI, M FAUZI RIDWAN

Lonjakan Covid-19 terjadi di sejumlah daerah, mengantarkan Indonesia kembali ke masa lonjakan awal 2021. Ranjang-ranjang di berbagai rumah sakit penuh terisi, kematian terus meningkat. Republika meliput situasi kebingungan dan keresahan itu di akar rumput. Berikut tulisan bagian ketiga.

Kondisi keterisian rumah sakit alias bed occupancy rate (BOR) di berbagai daerah yang mendekati batasnya bukan hanya perihal persentase. Dalam sejumlah kasus, kondisi tersebut berakibat fatal.

Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, misalnya, seorang pasien Covid-19 asal Kecamatan Lohbener meninggal dunia setelah sempat dibawa keluarganya keliling mencari rumah sakit (RS). Peristiwa itu terjadi pada Selasa (15/6) lalu. Pasien laki-laki berusia 43 tahun itu terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala berat dan mengalami sesak napas.

Terkait

Kepala Puskesmas Lohbener Uswatun Hasanah menjelaskan, kondisi pasien saat itu memang sudah sangat lemah. Saat dilakukan tes cepat antigen, hasilnya positif Covid-19. Puskesmas kemudian berusaha mencarikan RS yang kosong untuk merujuk pasien tersebut. “Tapi, kemarin itu penuh semua,” kata Uswatun, pekan lalu.

Menurut Uswatun, pihaknya sudah menyampaikan kepada keluarga pasien mengenai kondisi ruang isolasi di RS yang penuh. Pihaknya juga memberikan penanganan seadanya sambil menunggu informasi lebih lanjut mengenai ketersediaan tempat tidur bagi pasien Covid-19.

photo
Tenaga kesehatan membawa pasien positif Covid-19 untuk masuk ke ruangan rawat inap di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (20/6/2021). - (Republika/Putra M Akbar)

Namun, keluarga berinisiatif membawa pasien berkeliling mencari RS yang kosong dengan menggunakan mobil pribadi. Mobil yang mereka gunakan merupakan mobil bak terbuka. “Mungkin daripada menunggu, mereka akhirnya berusaha mencari rumah sakit sendiri,” tutur Uswatun.

Uswatun menyatakan, puskesmas sebenarnya sudah menyiapkan mobil ambulans untuk merujuk pasien ke RS. Namun, setelah berupaya mencari informasi mengenai rumah sakit yang kosong, tak ada satu pun rumah sakit rujukan yang bisa menampung pasien Covid-19 baru.

Pihak keluarga pasien kemudian membawa pasien itu ke RS Mitra Plumbon Indramayu, RS Sentra Medika, RS Bhayangkara, RSUD MIS Krangkeng, dan RSUD Indramayu. Namun, seluruh ruang isolasi di RS-RS yang mereka datangi dalam kondisi penuh. 

Pasien akhirnya meninggal dunia di jalan depan UGD RSUD Indramayu. Pihak keluarga pasien melaporkan kabar meninggalnya pasien kepada Puskesmas Lohbener. Mereka pun berinisiatif membawa pulang jenazah ke rumah.

Mendapat laporan itu, Puskesmas Lohbener segera berkoordinasi dengan tim pemulasaraan jenazah Covid-19 Kabupaten Indramayu. Namun, tim pemulasaraan jenazah Covid-19 saat itu kewalahan karena banyaknya pasien yang meninggal. “Ada tiga pasien yang meninggal, mereka kewalahan,’’ kata Uswatun.

photo
Petugas mengangkat peti jenazah pasien Covid-19 di TPU Khusus Covid-19 Rorotan, Jakarta Utara, Senin (21/6). - (Republika/Thoudy Badai)

Uswatun mengatakan, pihaknya kemudian meminta saran dari Satgas Covid-19 Kabupaten Indramayu. Satgas lantas mengarahkan agar pemulasaraan jenazah dilakukan oleh Satgas Covid-19 di tingkat desa.

Pihak puskesmas langsung memberikan edukasi mengenai cara pemulasaraan jenazah Covid-19 dan memfasilitasi alat pelindung diri (APD) lengkap. Pemulasaraan terhadap jenazah pasien akhirnya bisa terlaksana.

Aksi Kepala Desa Sekarwangi, Dulloh, yang mengantarkan seorang pasien berkeliling mencari IGD rumah sakit di Kota Bandung juga sempat viral di media sosial, pekan lalu. Dalam rekaman yang diunggah dan mendapatkan respons warganet, kepala desa beberapa kali mendatangi sejumlah rumah sakit, tetapi ruangan penuh. Akhirnya pasien dapat dirawat di RS Al Islam, Baleendah, Kabupaten Bandung.

Kepada Republika, Dulloh menjelaskan cerita di balik video yang viral tersebut. Ia mengeklaim telah mendapatkan informasi bahwa salah seorang warganya sedang sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit.

Ia mengatakan, cerita tersebut berawal saat ia tengah mengantarkan istrinya yang sakit ke dokter. "Ada yang bel ke saya (warga sakit). Saya arahkan pakai ambulans, cuma enggak ada sopirnya. Sopirnya kuli di luar kota. ‘Cari sopirnya aja, Pak. Iya, saya usahakan, Pak'," ujarnya menjelaskan percakapan dengan keluarga warga yang sakit.

photo
Tenaga kesehatan usai mengecek kondisi pasien positif Covid-19 di RSUD Kota Bogor, Jawa Barat, Ahad (20/6/2021). Tercatat sekitar 90 persen tingkat keterisian tempat tidur di RSUD Kota Bogor telah terisi oleh pasien positif Covid-19 dengan total pasien 115 orang. - (Republika/Putra M. Akbar)

"Saya ke rumah mau nutup pintu, ada warga bilang enggak ada sopir sampai saya bawa sendiri," katanya melanjutkan. Ia kemudian membawa warga yang bersangkutan bersama petugas puskesos ke sejumlah rumah sakit di Kota Bandung.

"Sama puskesos dibawa ke Rumah Sakit Soreang, penuh. Lalu, dibawa ke RS Santosa. Begitu ditungguin, saya tanya (petugas), banyak pasien. Ini ada nunggu sejam-dua jam. Antre," katanya.

Karena penuh, ia pun sempat membawa warga yang sakit ke Rumah Sakit Immanuel dan Rumah Sakit Hasan Sadikin. Namun, rumah sakit tersebut pun penuh. Akhirnya pasien ia bawa ke RS Al Islam. "Singkat kata, saya spontan saya ngasih tahu harus lebih hati-hati," katanya.

Ia pun baru bisa pulang ke rumah sekitar pukul 02.30 WIB.

Dulloh mengatakan, warga yang sakit tersebut berdasarkan informasi yang diterima sedang melakukan isolasi mandiri. Namun, kondisinya semakin memburuk sehingga harus dibawa ke rumah sakit. 

Endang, seorang warga RW 01, Desa Jelegong, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, juga meregang nyawa setelah sebelumnya mengalami muntah darah dan sakit maag akut yang dideritanya. Ia sempat dilarikan ke beberapa RS, tetapi RS tidak bisa menerimanya.

photo
Keluarga melihat prosesi pemakaman jenazah pasien Covid-19 di TPU Khusus Covid-19 Rorotan, Jakarta Utara, Senin (21/6/2021). - (Republika/Thoudy Badai)

Sekretaris Desa Jelegong Dian Farid mengatakan, mereka mendatangi sejumlah rumah sakit pada Sabtu (19/6) sejak pukul 20.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB. Mulanya ke RS Avisena yang mengarahkan ke RS Cibabat. RS Cibabat menolak karena hanya menerima pasien terkonfirmasi Covid-19 berdasarkan hasil uji usap yang sudah ada sebelumnya.

Kemudian, Rumah Sakit Dustira yang kemudian disambangi juga sudah penuh. “Security yang langsung berhadapan dengan kami diakhiri dengan ungkapan ruang perawatan pun penuh. Itu rata-rata menyampaikan demikian," ujar Dian Farid kepada Republika, Ahad (20/6).

Endang akhirnya bisa ditangani di Rumah Sakit Unggul Karsa Medika di Taman Kopo Indah, Kabupaten Bandung, sekitar pukul 23.30 WIB. "Dinyatakan meninggal dunia di halaman UGD Rumah Sakit UKM TKI, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung. Lalu, dibawa dengan pemeriksaan lebih ke dalam IGD, ada atensi khusus dinyatakan 10 menit kemudian sesuai analisis dan diagnosis dokter dinyatakan meninggal dunia," kata Dian Farid.

Karena kejadian tersebut, ia pun berharap layanan kesehatan untuk masyarakat yang sakit bukan karena Covid-19 tidak luput dari perhatian. Menurut dia, di wilayah Desa Jelegong, dalam tiga pekan terakhir terdapat 25 orang yang meninggal dunia yang banyak di antaranya bukan karena terpapar Covid-19.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Polda Metro Jaya (poldametrojaya)


×