Adiwarman Karim | Daan Yahya | Republika
14 Jun 2021, 03:57 WIB

Ekonomi Kejernihan Hati

Ada tiga hal yang mendasari perlunya ekonomi kejernihan hati.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Ada dua cara dalam menggerakkan ekonomi. Pertama, dengan menciptakan berbagai kegaduhan sehingga adrenalin masyarakat tinggi dengan aksi-reaksi yang terus berputar menggerakkan roda perekonomian. Kedua, dengan menciptakan kebersamaan keharmonisan sehingga adrenalin masyarakat tinggi untuk mencapai tujuan bersama.

Christopher Coyne dan Thomas Duncan, para profesor George Mason University, dalam riset mereka “The Origins of the Permanent War Economy” menjelaskan bagaimana kolaborasi ciamik antara dogma pertentangan kelas Marxist dan dogma kekuatan kapital Keynes menggerakkan perekonomian. Inilah racikan jitu yang menguntungkan tiga kekuatan yang biasanya bertentangan, yaitu buruh, pemilik industri, dan penguasa.

Namun Coyne dan Duncan juga mengingatkan bahwa kolaborasi yang menyenangkan tiga kekuatan utama ekonomi ini akan menimbulkan efek negatif yang sangat signifikan bagi kelompok masyarakat luas selain tiga serangkai itu.

Terkait

Robert Higgs, profesor emeritus, dalam bukunya Delusions of Power: New Explorations of the State, War, and Economy menjelaskan dalam setiap keadaan krisis selalu ada kelompok kepentingan yang paling siap mengambil kesempatan dalam kesempitan, menggunakan keadaan sulit itu untuk memperluas kekuasaan kelompok kepetingannya.

 
Dalam setiap keadaan krisis selalu ada kelompok kepentingan yang paling siap mengambil kesempatan dalam kesempitan.
 
 

Seymour Melman, profesor Columbia University, dalam bukunya The Permanent War Economy: American Capitalism in Decline menjelaskan kegaduhan dan konflik menimbulkan banyak bisnis, peluang ekonomi, hidup yang lebih baik dan simpanan di bank yang lebih banyak bagi mereka yang terlibat, serta penyerapan tenaga kerja.

Mereka yang tertinggal adalah pekerja mandiri yang tidak tergabung dalam organisasi buruh, seperti petani, nelayan, pekerja informal. Mereka adalah pengusaha yang tidak memiliki industri besar, seperti pengusaha mikro kecil menengah, pengusaha informal, kelas menengah. Mereka adalah rakyat yang tidak memiliki akses pada kekuasaan, seperti rakyat kebanyakan, anak-anak, wanita, usia lanjut, orang-orang yang terpinggirkan.

Rafael Di Tella dan Julio Rotemberg, profesor Harvard University, dalam artikelnya "Populism and the Return of the 'Paranoid Style': Some Evidence and a Simple Model of Demand for Incompetence as Insurance against Elite Betrayal” menjelaskan rasa ketakutan yang tidak berdasar yang ditanamkan kepada masyarakat terhadap suatu hal, mempersepsikannya sebagai ancaman nyata, akan mendorong rakyat memilih pemimpin yang tidak kompeten.

 
Rasa ketakutan yang tidak berdasar yang ditanamkan kepada masyarakat, akan mendorong rakyat memilih pemimpin yang tidak kompeten.
 
 

Dengan cara mempersepsikan bahaya imigran Asia dan Hispanik, mereka menemukan naiknya dukungan terhadap Donald Trump di dua segmen besar, yaitu wilayah perdesaan dan berpendidikan rendah, serta komunitas kulit putih di perkotaan dan pinggiran kota.

Raghuram Rajan, profesor Chicago University yang juga mantan gubernur bank sentral India, dalam artikelnya “The Paranoid Style in Economics” menjelaskan bagaimana perbedaan pandangan ekonomi antara para ekonom senior Paul Krugman di satu sisi dan Carmen Reinhart serta Kenneth Rogoff di sisi lain, secara cepat berubah menjadi konflik pribadi saling mencari-cari kesalahan kecil karena perbedaan orientasi keberpihakannya.

Cara kedua menggerakkan ekonomi adalah dengan kejernihan hati. Ramzi Suleim, profesor Al Quds University, dalam risetnya “Economic Harmony: An Epistemic Theory of Economic Interactions” dengan menggunakan game theory menjelaskan saling percaya dalam kebersamaan akan membangun kekuatan ekonomi yang besar atas dasar perhitungan yang rasional dan jujur, bukan atas dasar kepedulian sosial yang semu.

Kearifan lokal, seperti arisan, gotong royong bergantian membangun rumah merupakan contoh aksi ekonomi rasional dan jujur yang timbul dari rasa saling percaya. Sebaliknya, bila dalam masyarakat diciptakan kondisi sekat-sekat informasi akan mudah ditanamkan rasa ketakutan yang berlebihan terhadap komunitas tertentu dengan mekanisme informasi tersentral.

 
Bila dalam masyarakat diciptakan kondisi sekat-sekat informasi akan mudah ditanamkan rasa ketakutan yang berlebihan.
 
 

Xavier Calsamiglia dan Alan Kirman, dalam artikel mereka “A Unique Informationally Efficient and Decentralized Mechanism with Fair Outcomes” menjelaskan informasi yang efisien dan mekanisme desentralisasi akan menciptakan hasil yang berkeadilan. Ini dapat menjelaskan mengapa info di medsos yang tidak tersentral dipercaya masyarakat sebagai pembanding media formal dan medsos buzzer yang tersentralisasi.

Tiga hal yang mendasari perlunya ekonomi kejernihan hati. Pertama, khawatir dikucilkan dalam pergaulan masyarakat yang mendorong untuk bersikap lebih protektif dan kurang tertarik menjadi kaya sendiri. 

Kedua, semua lebih menyukai fairness dan enggan kemewahan yang dapat memicu kemarahan sosial atau disebut sikap inequity aversion. Ketiga, semua orang menyukai altruistic cooperative game selama yang lain juga bersikap altruistik. Sikap altruistik adalah sikap empati, kebalikan sikap egois.

Ernst Fehr dan Simon Gächter, masing-masing profesor University of Zürich dan profesor University of Nottingham dalam riset mereka “Fairness and retaliation: The economics of reciprocity” menjelaskan orang atau sekelompok orang cenderung membalas kebaikan dengan kebaikan dan kerja sama yang lebih baik. Sebaliknya, bila dijahati akan membalas dengan lebih kasar dan brutal.

Ernst Fehr dan Klaus Schmidt profesor University of Munich dalam artikel mereka “A Theory of Fairness, Competition, and Cooperation” menjelaskan rasa keadilan diperlukan dalam melakukan kerja sama dan dalam persaingan.

 
Rasa keadilan diperlukan dalam melakukan kerja sama dan dalam persaingan.
 
 

Berbagai isu ekonomi yang mengemuka belakangan ini, tax amnesty jilid 2, skema pajak baru yang melukai rasa keadilan, batalnya haji dengan dana hajinya, telah berkembang menjadi diskursus liar yang jauh lebih banyak gaduhnya daripada diskusi bermakna. Bahkan, meminjam istilah Raghuram Rajan, diskusi antar ekonom senior telah bergeser menjadi konflik pribadi yang mencari-cari kesalahan.

Ini saatnya kita mengambil kebenaran dari siapa pun. Ali bin Abi Thalib RA mengingatkan, “Unzhur maa qiila wa la tandzur man qaala" (Lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan). Ibn Mas’ūd RA menambahkan, “Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci.”

Jalaludin Rumi menasihati kita, “Hentikanlah berkata-kata. Bukalah jendela hatimu dan rasakan ruh berterbangan melalui jendela itu. Hatimu tahu persis tentang kebenaran. Berlarilah ke arah itu.”


×