Petugas merapikan kasur yang disiapkan untuk tempat karantina pendatang tanpa surat izin keluar masuk (SIKM) di Solo Technopark, Solo, Jawa Tengah, Selasa (18/5/2021). Meski larangan mudik telah berakhir, Pemerintah Kota Solo masih memberlakukan SIKM bagi | ANTARA FOTO/Maulana Surya

Kabar Utama

21 May 2021, 04:58 WIB

BOR di Sejumlah Provinsi Meningkat

Pemakaian tempat tidur atau BOR di rumah sakit sejumlah provinsi meningkat di atas 50 persen.

JAKARTA — Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mencatat, pemakaian tempat tidur (BOR) di rumah sakit yang menangani Covid-19 secara nasional di bawah 30 persen per Kamis (20/5). Kendati demikian, beberapa provinsi disebut mengalami peningkatan BOR pasien Covid-19 di atas 50 persen. 

Sekretaris Jenderal Persi Lia G Partakusuma mengatakan, salah satu provinsi yang mengalami lonjakan BOR adalah Provinsi Aceh dengan kenaikan di atas 100 persen. "Ada beberapa provinsi yang BOR-nya naik lebih dari 50 persen, yaitu Aceh dan Sulawesi Barat (Sulbar). Bahkan, BOR pasien Covid-19 di Aceh bisa naik lebih dari 100 persen," ujarnya saat mengisi konferensi virtual FMB9 bertema “Terus Kencangkan Protokol Kesehatan”, Kamis (20/5).

Ia mengungkapkan, provinsi yang mengalami BOR 50-55 persen, antara lain, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, dan Riau. Kemudian, BOR pasien Covid-19 sebanyak 10 hingga 24 persen terdapat di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Jawa Tengah, dan Jambi. 

Lia mengatakan, dari 100 orang yang terinfeksi Covid-19, sebanyak 80 persen pasien tidak mengalami gejala. Sisanya mengalami gejala ringan, sedang, hingga berat. Adapun di antara pasien bergejala, ada sebanyak 5 persen yang membutuhkan perawatan khusus.  

Untuk mengantisipasi melonjaknya pasien Covid-19, dia menyebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menetapkan bahwa RS harus punya 40 persen tempat tidur biasa dan 25 persen tempat tidur untuk ICU. Sehingga, rumah sakit harus melakukan konversi tempat tidur.

Kendati demikian, ia mengakui, pembagian dan penyiapan tempat tidur tidaklah mudah karena pasien non-Covid-19 juga mulai berobat. "Jadi, kalau tiba-tiba ada penambahan kebutuhan pasien Covid-19 dalam jumlah banyak dan bisa mencapai puncak (peak), pasien Covid-19 yang dikorbankan. Mereka terpaksa harus pulang. Ini kan tidak adil," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Satuan Tugas Covid-19 (satuantugascovid19)

Persoalan makin ditambah dengan terbatasnya sumber daya manusia (SDM) kesehatan untuk bertugas di ruang ICU. Sebab, SDM tersebut harus memiliki kemampuan khusus. Sementara, banyak tenaga kesehatan (nakes) yang kewalahan sehingga tidak bisa memberi pelayanan kesehatan pada pasien.

Meski kasus baru saat ini dalam tren menurun, Persi mengaku khawatir virus Covid-19 semakin lama semakin cepat menular dan menyebabkan kematian. Persi mencatat, sebanyak 172 pasien per hari tidak dapat ditolong dan jumlah ini naik menjadi 2,77 persen. Karena itu, kata dia, Persi sangat berharap kasus Covid-19 tidak melonjak. "Sebab, jika ini terjadi, tentu menyulitkan rumah sakit untuk melakukan penanganan.” 

Di sejumlah daerah, kasus Covid-19 dilaporkan kembali mengalami kenaikan. Ini salah satunya terjadi di Provinsi DIY. Kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sempat turun di bawah 200 kasus per hari selama masa libur Lebaran 2021. Namun, dalam dua hari terakhir, peningkatan kasus di atas 200 kasus per hari kembali terjadi.

"Trennya (kasus positif) meningkat lagi," kata anggota Tim Perencanaan Data dan Analisis Gugus Tugas Penanganan Covid-19 DIY, Riris Andono Ahmad, Kamis (20/5).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Satuan Tugas Covid-19 (satuantugascovid19)

Riris menyangkal bahwa peningkatan terjadi karena kegiatan mudik maupun libur Lebaran. Menurut dia, peningkatan kasus di DIY terjadi karena transmisi Covid-19 yang memang sudah meluas di DIY. "Tidak harus (kaitannya dengan) yang mudik, wong di DIY transmisi sudah tinggi," ujar Riris.

Pada Kamis (20/5), kasus baru Covid-19 di DIY dilaporkan sebanyak 269 kasus. Ratusan kasus baru ini didapatkan dari pemeriksaan terhadap 1.180 spesimen dari 1.146 orang. "Hukum alam, mobilitas (masyarakat) naik ya kasus (positif) naik," kata Juru Bicara Penanganan Covid-19 untuk DIY, Berty Murtiningsih.

Berdasarkan domisili, 269 kasus baru itu tersebar di lima kabupaten/kota se-DIY. Tertinggi disumbang oleh Kabupaten Sleman dengan 92 kasus baru. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Humas Pemda DIY (humasjogja)

Di daerah lainnya, Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, juga melaporkan peningkatan kasus Covid-19 dan pasien yang dirawat. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Badai Ismoyo mengatakan, pada pertengahan Maret 2021 pasien yang dirawat sempat turun menjadi hanya 22 orang, tapi kini menjadi 123 orang positif Covid-19 yang dirawat.

"Lonjakan kasus menjadi 123 pasien, setelah ada penambahan 79 kasus positif Covid-19 pada 19 Mei 2021," kata Badai Ismoyo, kemarin. 

Bupati Kudus Hartopo menjelaskan, lonjakan kasus disebabkan klaster penularan dari lingkungan keluarga yang dimungkinkan mulai abai terhadap protokol kesehatan. "Kami ingatkan kembali masyarakat agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Jangan lelah untuk selalu memakai masker ketika keluar rumah atau berbicara dengan orang lain," ujarnya.

photo
Sejumlah warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 melakukan kegiatan luar ruangan, di lokasi karantina Balai Diklat Baturraden, Banyumas, Jateng, Selasa (18/5/2021). Selain melakukan karantina warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di dua lokasi, Satgas Covid-19 Kabupaten Banyumas, juga melakukan pembatasan mikro di tingkat RT yang menjadi klaster penyebaran Covid-19, usai ditemukan sejumlah klaster baru dibeberapa desa pasca Lebaran. - (IDHAD ZAKARIA/ANTARA FOTO)

Belum terlihat 

Lonjakan kasus Covid-19 yang muncul sebagai akibat naiknya mobilitas warga selama periode mudik Lebaran dinilai belum terlihat. Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan, manivestasi kasus yang muncul selama periode peniadaan mudik Lebaran 6-17 Mei 2021 baru bisa terdeteksi dua pekan ke depan.

Itu pun perhitungannya harus dengan analisis yang valid. "Mengingat perkembangan Covid-19 berdasarkan riwayat alamiah penyakitnya, butuh waktu, baik untuk terdeteksi pada diagnostik maupun untuk menunjukkan gejala," ujar Wiku dalam keterangan pers, Kamis (20/5). 

Mengingat efek mudik Lebaran yang tidak akan muncul dalam waktu instan, Wiku meminta masyarakat yang melakukan perjalanan selama periode peniadaan mudik untuk melakukan karantina mandiri selama 5 x 24 jam. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan infeksi virus yang terbawa oleh pemudik.

"Karena mobilitas yang dilakukan pada masa pandemi adalah aktivitas berisiko. Ini bentuk tanggung jawab bagi diri sendiri dan orang-orang terdekat," ujarnya. 

Wiku juga meminta posko Covid-19 di level desa dan kelurahan agar secara aktif mengawasi warga di wilayahnya yang baru saja tiba dari kampung halaman. Termasuk bila diperlukan melakukan testing dan tracing sebagai upaya preventif perluasan penularan Covid-19.  

"Testing dan tracing khususnya di daerah tujuan arus balik demi memaksimalkan pencegahan Covid-19," katanya. 

 
Testing dan tracing khususnya di daerah tujuan arus balik demi memaksimalkan pencegahan Covid-19.
 
 

Per Kamis (20/5), Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan jumlah kasus positif Covid-19 bertambah sebanyak 5.797 orang. Dengan demikian, total kasus positif Covid-19 telah mencapai 1.758.898 kasus. 

Sementara, kasus meninggal akibat Covid-19 bertambah sebanyak 218 orang menjadi 48.887 orang. Saat ini, ada 88.439 kasus aktif Covid-19 atau mengalami penambahan sebanyak 610 kasus. ';

×