IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
22 Feb 2021, 03:00 WIB

Tiga Hal Buat Zionis Terus Happy

Pengaruh kuat lobi Zionis di lembaga-lembaga pengambil kebijakan luar negeri AS telah mengakar.

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan kini gundah, juga politisi pendukungnya. Penyebabnya, seperti ditulis The Washington Post hingga empat pekan Presiden Joe Biden bersinggasana di Gedung Putih, belum menghubungi sang PM.

Di lain pihak, Biden sudah menelepon pemimpin negara sekutu AS. Beberapa pihak melihat, itu tanda ketidaksenangan Biden pada Netanyahu.

Penyebabnya banyak, antara lain, dukungan Netanyahu secara terang-terangan kepada Trump, ia pun menyebutnya ‘teman terhebat Israel di Gedung Putih yang pernah ada’. Jadi, apakah kebijakan AS terhadap Israel dan Timur Tengah akan berubah?

Terkait

Jawabannya, mari kita simak pendapat Dr Mohamed al-Omr, peneliti di Universitas Louvain, Belgia, yang dimuat Aljazirah beberapa hari lalu. Menurut dia, kebijakan AS di Timur Tengah tidak akan berubah selama era Biden.

 
Hal ini, katanya, karena pengaruh kuat lobi Zionis di lembaga-lembaga pengambil kebijakan luar negeri AS  telah mengakar.  
 
 

Profesor al-Omr melihat, perubahan keduanya hanya pada tingkat taktis. Sedangkan kebijakan strategis, tidak berubah. Hal ini, katanya, karena pengaruh kuat lobi Zionis di lembaga-lembaga pengambil kebijakan luar negeri AS telah mengakar.  

Berikut tiga fakta yang menunjukkan pengaruh kuat lobi Zionis. Pertama, kekuatan lobi Zionis di Washington. Sebagai bukti, al-Omr menunjuk pengeboman Israel atas kapal ‘USS Liberty’ pada 1967 yang menewaskan 35 awak kapal AS.

Meski dianggap penghinaan terhadap Gedung Putih, Israel tak disanksi, justru mendapat ‘hadiah’. Dari pesawat canggih dilengkapi rudal Maverick hingga persetujuan Kongres AS untuk mencabut semua batasan perdagangan dengan Israel.

Pada pemerintahan Presiden Barack Obama, Israel mendapat bantuan militer terbesar dalam sejarah negara Zionis itu, yakni 38 miliar dolar AS. Pada masa Presiden Donald Trump, jangan tanya lagi. Trump memberi hadiah yang lama diimpikan Zionis Israel, yaitu pengakuan AS bahwa Yerusalem ibu kota negara Yahudi itu.

Lalu, ditindaklanjuti pemindahan Kedubes AS dari Tel Aviv ke Kota Suci itu. Selain itu, pengakuan Trump bahwa Dataran Tinggi Golan milik Suriah merupakan bagian Israel.

 
Kedua, kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah yang tidak pernah berubah, tentu kebijakan yang strategis.
 
 

Permukiman Yahudi di wilayah pendudukan dianggap sah hingga ia mensponsori normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Kedua, kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah yang tidak pernah berubah, tentu kebijakan yang strategis. Kebijakan strategis AS di Timur Tengah digodok di Tel Aviv, lalu direalisasikan melalui Lobi Zionis di Washington.

Strategi itu intinya ‘memicu perselisihan antarkelompok di Timur Tengah’, sebagai langkah awal memecah-belah bangsa dan negara di kawasan agar tetap lemah sehingga Israel tetap menjadi satu-satunya kekuatan pengendali.

Presiden George Bush senior dan junior menggunakan kekuatan mililter untuk menghancurkan Irak. Presiden Obama dan Trump sengaja tidak mengintervensi untuk menghentikan perang di Suriah, dan membiarkan negara itu hancur dengan sendirinya.

 
Sikap baru Presiden AS ini tentu melemahkan citra Saudi.
 
 

Ketiga, Timur Tengah pada masa Presiden Joe Biden. Banyak pihak melihat akan ada perubahan kebijakan. Namun, sekali lagi, perubahan itu bersifat taktis, bukan strategis. Dalam masalah Turki misalnya, Biden mengatakan akan mendukung oposisi.

Ia pun mengkritik keras Presiden Erdogan sebagai pemimpin yang otoriter dan harus membayar mahal atas sikapnya. Terhadap Arab Saudi, Biden menegaskan akan menghentikan dukungannya dalam perang di Yaman.

Sikap baru Presiden AS ini tentu melemahkan citra Saudi. Ia pun menyerang putra mahkota Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), dan menyalahkannya dalam kasus pembunuhan wartawan senior Jamal Khashoggi.

Ia berjanji akan meminta pertanggungjawabannya. Kasus pembunuhan Khashoggi ini bisa menjadi kartu mematikan buat menjepit MBS, yang bisa diterjemahkan ke dalam penandatanganan normalisasi hubungan dengan Israel.

Mengenai Iran, Biden mengatakan, tidak akan meneruskan kebijakan Trump yang menarik secara sepihak perjanjian nuklir dengan Iran. Sebagai gantinya, ia menerapkan sanksi berat pada Iran. Ini pun tak bertentangan dengan kebijakan umum Israel terhadap Iran.

 
Pada akhirnya, baik kebijakan Bush maupun Biden, sama-sama menguntungkan Israel. 
 
 

Yakni, sanksi berat Trump telah mencegah Iran menjadi negara nuklir, yang bisa mengancam keamanan Israel. Sikap Biden akan membiarkan negara itu bernapas lega dari waktu ke waktu, sehingga ada alasan bagi Israel untuk terus ‘mengontrol’ Iran.

Pada akhirnya, baik kebijakan Bush maupun Biden, sama-sama menguntungkan Israel. Soal Palestina, Biden tentu tidak bisa menarik ‘semua keuntungan’ Israel yang telah diberikan Trump, termasuk pengakuan tentang Yerusalem dan Golan.

Terkait normalisasi hubungan Israel dengan sejumlah negara Arab, Biden memujinya dan akan meneruskannya. Tentang the Deal of the Century, rancangan perdamaian Timur Tengah yang dibuat Trump, akan dipoles sana-sini karena tidak laku dipasarkan.

Ia pun mendukung solusi dua negara, Israel dan Palestina, dengan penekanan utama jaminan keamanan Israel.

Itulah tiga hal yang membuat Zionis akan terus happy, siapa pun presiden AS. Jadi jangan berharap banyak, kebijakan Presiden Joe Biden di Timur Tengah, minimal empat tahun ke depan akan berubah. 


×