Relawan menyaksikan upacara pembukaan kegiatan lomba-lomba dalam rangka 1 tahun perjuangan melawan Covid-19 Rumah Sakit Darurat Covid (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Sabtu (13/2). | Prayogi/Republika.

Nasional

18 Feb 2021, 03:00 WIB

Kemenkes Klaim Tingkat Keterisian RS Turun

Penurunan keterisian tempat tidur RS juga bisa dilihat dari tren kasus harian.

JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeklaim tingkat keterisian termpat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit (RS) yang merawat pasien Covid-19 turun. Penurunan BOR terjadi di semua RS, baik rujukan maupun yang bukan rujukan Covid-19.

“BOR RS di Jakarta pernah mencapai 84 persen dan sekarang tinggal 60-70 persen. Penurunan BOR ini di rumah sakit rujukan dan non-rujukan,” ujar Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes Abdul Kadir saat dihubungi Republika, Rabu (17/2).

Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) sebelumnya menyebut penurunan BOR hanya terjadi di rumah sakit bukan rujukan Covid-19. Sekretaris Jenderal Persi Lia G Partakusuma mengatakan, jumlah rumah sakit rujukan Covid-19 awalnya sekitar 940 dan tempat tidur yang tersedia jumlahnya sekitar 44.861.

Kemudian, rumah sakit lain juga membuka perawatan untuk Covid-19 menyusul instruksi dari Kemenkes untuk menambah tempat tidur. Dengan tambahan RS ini, kini jumlah RS yang menangani Covid-19 mencapai 2.000-an dan tempat tidur yang tersedia berkisar sampai 66.712.

photo
Petugas membersihkan tempat tidur sebagai ruang isolasi pasien Covid-19 di ruangan Sanggar Pramuka, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (10/2). Pemkab Madiun menyiapkan Sanggar Pramuka yang memiliki 18 ruang dengan kapasitas empat tempat tidur per ruangan sebagai ruang isolasi pasien Covid-19 selama pelaksanaan Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro. - (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

“Dengan ditambahnya RS dan tempat tidur ini memang mengakibatkan ada sedikit penurunan pasien dan yang menyebabkan penurunan pasien di RS. Namun, itu hanya terjadi di rumah sakit bukan rujukan Covid-19,” ujar Lia.

Artinya, kata Lia, pasien memang longgar di rumah sakit selain rujukan Covid-19 yang memiliki ruang isolasi. Sementara, rumah sakit rujukan yang memiliki ICU Covid-19 saat ini masih penuh, terutama di Jawa. Bahkan, keterisian tempat tidur di ruang ICU di beberapa tempat, seperti di Bekasi dan Jakarta masih di atas 60 persen.

Dirjen Pelayanan Kesehatan Kadir enggan menanggapi data Persi. Ia kemudian mengulangi pernyataannya bahwa keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 berkurang. “Kami kan punya datanya. Intinya semua keterisian tempat tidur untuk pasien Covid-19 di rumah sakit turun,” ujar dia.

Menurut Kadir, penurunan BOR RS juga bisa dilihat dari tren kasus harian. Kini kasus harian Covid-19 antara 6.000 hingga 8.000. “Sekarang kan kasus harian turun, kasus positif juga turun. Jadi, rumah sakit tenang, bisa sedikit bernapas,” kata dia.

photo
Pekerja membersihkan tempat tidur pasien di Klinik Permata Bhakti, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, Senin (8/2). Pemkab Sleman mengaktifkan kembali klinik yang setahun tidak beroperasi. Klinik ini nantinya akan menjadi rumah sakit lapangan khusus Covid-19 bagi ibu bersalin. - (Wihdan Hidayat / Republika)

Angka keterisian tempat tidur isolasi di Kota Bogor dalam dua pekan terakhir juga turun 14 persen. Saat ini, BOR di Kota Bogor berada di angka 48 persen. “Jadi di bawah standar WHO yang 50 persen maksimal. Ini sangat baik,” kata Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, Selasa (15/2).

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Bogor, BOR pada 4 Februari 2021 menunjukkan angka sebesar 62,9 persen. Di mana, dari 814 tempat tidur telah terisi sebanyak 512 pasien. Angka itu menurun pekan ini menjadi 48,5 persen, dengan tingkat keterisian 415 sudah terisi dari 856 tempat tidur yang tersedia.

Sementara, keterisian ICU dari 48 tempat tidur, terisi 31 pasien. Tempat tidur di ruang isolasi Lido dari 100 tempat tidur terisi 36, termasuk Rumah Sakit Lapangan yang sudah terisi sebanyak 40 dari total 64 tempat tidur, sudah terisi sebanyak 40 pasien.

Bima Arya menyebutkan, penurunan BOR dan kasus positif Covid-19 di Kota Bogor dikarenakan kebijakan ganjil genap selama dua pekan terakhir. Selain, kasus Covid-19 turun, terjadi juga penurunan arus kendaraan yang masuk ke Kota Bogor dan kerumunan orang berkurang.

 
Jadi ini penurunan yang signifikan sepanjang masa pandemi di Kota Bogor.
 
 

 

"Yang paling penting adalah tren jumlah kasus positif Covid yang menurun sangat siginifikan. Jadi ini penurunan yang signifikan sepanjang masa pandemi di Kota Bogor," jelasnya.

Meski terjadi peningkatan di beberapa aspek, Bima Arya mengatakan, penerapan ganjil-genap dan PPKM Mikro menyebabkan penurunan di bidang ekonomi. Beberapa di antaranya, yakni tingkat hunian hotel, kunjungan restoran, dan kunjungan pasar.

Sehingga, aktivitas ekonomi akan dibuka secara bertahap. Namun masih sesuai dengan jam operasional yakni hingga pukul 21.00 WIB. “Itu kami harus mencari titik temu, protokol kesehatan yang utama, tetapi ekonomi diperhatikan,” ujarnya. ';

×