Warga memotret atap rumah yang ambruk akibat gempa bumi di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis (14/1/2021). BMKG Sulawesi Barat mencatat gempa bumi berkekuatan 5,9 skala richter terjadi pada pukul 14:35:49 WITA di empat kilometer Barat Laut Majene-Sulbar dengan | ANTARA FOTO/Akbar Tado

Nasional

TNI AU Kerahkan Alutsista Bantu Korban Gempa Majene

Gempa Majene menjadi duka masyarakat Indonesia di tengah Pandemi Covid-19.

JAKARTA -- TNI Angkatan Udara (AU) menyiagakan sejumlah pesawat untuk dukungan SAR, evakuasi, dan bantuan logistik untuk warga masyarakat Majene, Sulawesi Barat. Pesawat Boeing 737 TNI AU pun dikirim untuk memastikan situasi kondisi di daerah terdampak bencana alam dan mengalami kerusakan dari udara.

"KSAU memerintahkan untuk memberangkatkan pesawat Boeing 737 dari Skadron Udara V Lanud Sultan Hasanuddin untuk memastikan situasi dan kondisi daerah yang terdampak bencana alam dan mengalami kerusakan dari udara," ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma TNI Indan Gilang B, kepada wartawan lewat pesan singkat, Jumat (15/1).

TNI AU juga menyiagakan pesawat C-130 Hercules dari Skadron Udara 33 Lanud HND dan Skadron Udara 31 Lanud Halim P, pesawat CN 295 dari Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma. Kemudian satu pesawat Helikopter Super Puma NAS-332 dari Skadron Udara VI Lanud Atang Sendjaja bersiaga SAR Lanud Sultan Hasanuddin.

"(Disiagakan) untuk dukungan search dan rescue (SAR), evakuasi, dan bantuan logistik kepada warga masyarakat yang terdampak bencana," kata dia.

Perbantuan itu merupakan wujud dari kehadiran negara melalui TNI AU pada masyarakat yang tertimpa musibah bencana. Selain itu, hal ini juga sekaligus merupakan pelaksanaan tugas TNI di operasi militer selain perang alias OMSP, yang salah satunya penanggulangan bencana alam.

republikaonline

Warga sempat kesulitan mengevakuasi korban yang tertimpa runtuhan bangunan ##gempa ##Mamuju ##TiktokBerita original sound - Republika

 

Data sementara, delapan orang meninggal dunia akibat gempa magnitudo 6,2 di Majene, Sulawesi Barat, Jumat (15/1) dini hari. Badan Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut, gempa terjadi sekitar pukul 01.28 WIB.

Dalam rilis resminya, BNPB mengabarkan, sejauh ini ada 24 orang yang dilaporkan mengalami luka-luka dan kemungkinan datanya masih bisa bertambah. Sekitar 2.000 orang juga harus mengungsi akibat bencana alam ini.

Sementara itu, jaringan listrik warga Majene padam dan Kantor Gubernur Sulbar mengalami rusak berat. Kerugian materiil terkait rumah warga yang rusak akibat gempa masih dalam pendataan.

Gempa juga berdampak pada longsor di tiga titik jalan poros Majene-Mamuju yang membuat akses jalan terputus.  BNPB menyebut, sebelumnya gempa dengan magnitudo 5,9 terjadi pada Kamis (14/1) pukul 14.35 WITA. Gempa berikutnya yang lebih kuat terjadi dengan magnitudo 6,2 pada 01.28 WIB.

"Masyarakat setempat panik dan keluar rumah. Masyarakat saat ini masih berada di luar rumah mengantisipasi gempa susulan," kata BNPB dalam rilisnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Gempa ini juga berdampak kepada kantor Airnav di Bandara Tampa Padang. Gempa tersebut berpusat di enam kilometer timur laut Majene. "Kantor AirNav Indonesia Unit Mamuju dan Tower Pemandu Lalu Lintas Penerbangan di Bandar Udara Tampa Padang mengalami kerusakan," kata Manager Humas Airnav Indonesia Yohanes Sirait, Jumat (15/1).

Untuk sementara ini, pelayanan navigasi penerbangan dilakukan berbasis komunikasi dan jangkauan terbatas. Hal tersebut dilakukan dengan bantuan pemanduan navigasi penerbangan dari Cabang MATSC di Makassar. Saat ini, AirNav Indonesia mengirimkan tiga orang personel bantuan operasional. Personel tersebut yakni satu orang ATC dan dua orang teknisi.

"Kami juga mengirimkan beberapa peralatan komunikasi dan navigasi dari Kantor Cabang MATSC sebagai bantuan operasional di Unit Mamuju," jelas Yohanes.

Airnav Indonesia bersama seluruh stakeholder terkait akan terus berkoordinasi. Hal tersebut dilakukan agar operasional penerbangan dapat terus berjalan dengan selamat dan aman.

Kerusakan

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati mengatakan, sejumlah dampak telah teridentifikasi pasca gempa M6,2 di Provinsi Sulawesi Barat. Menurutnya, hingga kini pihak dia masih berkoordinasi dengan BPBD setempat. 

"Data per Jumat (15/1), pukul 06.00 WIB, BPBD Mamuju melaporkan korban meninggal dunia 3 orang dan luka-luka 24," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika, Jumat (15/1).

Jumlah itu, kata Raditya, belum termasuk dua ribu warga lainnya yang mengungsi ke tempat aman. Menyoal kerugian material, beberapa bangunan seperti rumah dan Hotel Maleo hingga kantor Gubernur Sulbar dilaporkan mengalami rusak berat (RB).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Lebih lanjut, BPBD Majene lanjut dia, juga menginformasikan longsor tiga titik di sepanjang jalan poros Majene-Mamuju (akses jalan terputus). Selain itu, sebanyak 62 unit rumah rusak (data sementara), 1 unit Puskesmas (RB) dan 1 Kantor danramil Malunda (RB). 

Sejauh ini BPBD setempat melakukan penanganan darurat, seperti menangani korban luka, evakuasi, hingga pendataan dan pendirian pos pengungsian. Kebutuhan mendesak saat ini berupa sembako, selimut dan tikar, tenda keluarga, pelayanan medis dan terpal. 

Kerusakan tersebut, belum termasuk jaringan listrik yang masih padam pascagempa. 

Sebelumnya, berdasarkan analisis peta guncangan BMKG yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity, gempa M6,2 ini memicu kekuatan guncangan IV - V MMI di  Majene, III MMI di Palu, Sulawesi Tengah dan II MMI di Makasar, Sulawesi Selatan. 

Terkait dengan gempa M6,2 ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan parameter gempa terjadi pada pukul 01.28 WIB yang berpusat 6 km timur laut Majene. Pusat gempa memiliki kedalaman 10 km. Berdasarkan pemodelan BMKG, gempa tidak memicu terjadinya tsunami. 

BNPB masih memantau dan berkoordinasi dengan beberapa BPBD setempat yang terdampak guncangan gempa. Kepala BNPB Doni Monardo juga disebutnya akan berkoordinasi dengan BPBD terdampak di lokasi bencana pada pagi ini. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat