Ilustrasi longsor di jalur Puncak Kabupaten Bogor | ANTARA FOTO/Anis Efizudin
13 Jan 2021, 09:25 WIB

Waspadai Longsor Susulan di Jalur Puncak Bogor

Aliran mata air yang menyebabkan longsor di Jalur Puncak Bogor sudah dialihkan.

BOGOR -- Longsor di sekitar Riung Gunung, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor sudah ditangani sejak Senin (11/1). Stasiun Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Citeko menjelaskan, penyebab longsor di lokasi tersebut akibat akumulasi curah hujan beberapa hari sebelumnya.

Kepala Stasiun BMKG Citeko Bogor, Asep Firman Ilahi, mengatakan, akumulasi curah hujan beberapa hari sebelum Ahad (10/1). Terutama sehari sebelum kejadian menjadi penyebab longsor di sekitar Riung Gunung.

“Dengan akumulasi hujan 30 mm/jam dapat dikatakan kejadian hujan tersebut dalam kategori hujan sangat lebat, yang menyebabkan tanah kehilangan kerapatannya menahan intrusi air sehingga terjadi tanah longsor dalam skala kecil,” kata Asep, Selasa (12/1).

Pada waktu dan lokasi kejadian, dijelaskan Asep, terdapat penumbuhan awan hujan di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor. Kemudian, terjadi hujan ringan mulai pukul 17.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB. “Curah hujan kumulatif pada saat kejadian dalam kurun tersebut tercatat 4 mm,” ujar dia.

Terkait

Sementara itu, berdasarkan analisis curah hujan sepuluh hari terakhir, terlihat kumulasi curah hujan yang sangat signifikan, yakni pada 2 Januari 2021 terjadi hujan sangat lebat sebesar 25.8 mm/jam.

Kemudian, pada 6 Januari 2021 pukul 14:00 WIB tercatat kumulasi 15.5 mm/jam dalam kategori hujan lebat. “Selanjutnya, tanggal 9 Januari 2021 15.00 WIB kembali terjadi hujan sangat lebat, tercatat 30 mm/jam,” kata Asep.

Untuk itu, Asep mengatakan, BMKG mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap fenomena bencana hidrometeorologi yang dapat terjadi sewaktu-waktu di musim hujan saat ini. “Hindari daerah bukit atau tebing serta daerah aliran sungai dan pohon-pohon tinggi yang dapat berpotensi terjadinya guguran tanah atau bebatuan, longsor, banjir, dan pohon tumbang,” ujar dia.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor mencatat ada 11 kejadian bencana selama dua pekan awal 2021. Delapan kejadian bencana tersebut didominasi oleh tanah longsor.

“Longsor yang paling banyak terjadi. Dari sebelas kejadian, tiga di antaranya kejadian tanah longsor,” kata Kepala BPBD Kota Bogor, Priyatnasyamsah.

Ketiga kejadian tanah longsor tersebut, dijelaskan Priyatna, terjadi di Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Bogor Timur, dan Kecamatan Bogor Barat. Berdasarkan data yang dimiliki BPBD Kota Bogor, ketiga kecamatan itu memang tergolong rawan tanah longsor.

“Kecamatan Bogor Utara, Bogor Timur, dan Bogor Barat memang termasuk daerah rawan tanah longsor. Bogor Utara dan Bogor Timur juga rawan akan banjir lintasan,” ujar dia.

Priyatna melanjutkan, penyebab dari tanah longsor yang terjadi disebabkan oleh hal yang berbeda. Untuk di Bogor Utara, tanah longsor terjadi karena curah hujan dan pengikisan tanah. Akibatnya, tembok rumah milik warga jebol tertimpa material longsoran.

Selain itu, lanjutnya, untuk tanah longsor di Bogor Timur, disebabkan oleh terkikisnya fondasi oleh aliran air yang berada di bawah Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bening. Sementara itu, untuk di Bogor Barat, tanah longsor mengancam rumah milik warga yang berada di pinggir aliran Kali Cibanen.

“Kejadian itu disebabkan oleh curah hujan dengan intensitas tinggi, sehingga dampaknya mengancam rumah tersebut. Namun, beruntungnya tidak ada korban luka maupun korban jiwa,” kata Priyatna.

Sementara itu, untuk delapan kejadian lainnya, diperincikan Priyatna, antara lain dua kejadian kebakaran di Kecamatan Tanah Sareal, dua tembok ambruk di Bogor Utara dan Bogor Tengah, satu kejadian tanah amblas di Bogor Barat, satu pohon tumbang di Bogor Barat, serta dinding rumah ambruk di Tanah sareal.

“Kami juga sempat melakukan penyelamatan terhadap Bapak Agustinus Woro, yang sempat melakukan aksi demo tunggal dengan menaiki atap bangunan milik Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bogor, serta membakar dua kendaraan roda dua,” ujar dia.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh BPBD KABUPATEN BOGOR (bpbdkabbogor)

Dialihkan

BPBD Kabupaten Bogor mengalihkan aliran mata air yang menyebabkan longsoran di Jalur Puncak, tepatnya di sekitaran Gunung Mas. Pada dinding tebing longsoran sudah tidak terdapat aliran air setelah dialihkan.

“Aliran mata air pada dinding tebingan tersebut kini sudah dialihkan langsung ke Sungai Cikamasan. Ini demi mengantisipasi terjadinya longsor susulan,” kata Sekretaris BPBD Kabupaten Bogor Budi Pranowo.

Pasalnya, longsoran yang sempat menutup Jalur Puncak dengan tebal sekitar 50 meter itu disebabkan dari mata air yang menyumbat dan kemudian tumpah bersama tanah tebingan.

Jalur penghubung Kabupaten Bogor dengan Kabupaten Cianjur itu sudah dibersihkan dari longsoran menggunakan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR). Tidak ada korban ataupun bangunan rusak yang disebabkan akibat peristiwa longsor tersebut.


×