Sejumlah petugas kebersihan dengan pakaian pelindung diri bersiap-siap memasuki Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II Jalan Indrapura, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/1). | ANTARA FOTO/Zabur Karuru
13 Jan 2021, 03:00 WIB

Rumah Sakit Upayakan Tambah Bed

Jika tempat tidur penuh 100 persen, maka pasien Covid-19 baru tidak akan bisa ditangani.

JAKARTA – Pihak rumah sakit (RS) mengupayakan untuk menambah bed atau tempat tidur bagi pasien Covid-19. Namun, Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) mewanti-wanti, langkah ini memiliki beberapa konsekuensi, di antaranya adalah berkurangnya jatah untuk pasien nonCovid-19.

“RS berusaha menambahkan, tetapi semoga masyarakat jangan tambah abai.  Sebab, penambahan kamar Covid-19 akan menggeser kamar untuk pasien nonCovid-19,” kata Sekretaris Jenderal Persi, Lia G Partakusuma, saat dihubungi Republika, Selasa (12/1).

Selain itu, penambahan tempat tidur Covid-19 berdampak pada sumber daya manusia (SDM). Saat ini, kata Lia, adalah situasi yang disebut sebagai upaya surge capacity di RS. Artinya, ada lonjakan kebutuhan sehingga musti dipikirkan strategi apa yang harus dikerjakan oleh RS.

Lia menambahkan, pihak RS juga harus melindungi tenaga kesehatan (nakes) dengan tidak boleh mengabaikan waktu kerja yang berlebih. RS juga melakukan screening bagi para nakes secara berkala. “Kemudian untuk tindakan-tindakan yang bukan emergency ditunda dulu,” ujar dia.

Terkait

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin sebelumnya meminta seluruh RS menambah kapasitas kamar pasien Covid-19. Penambahan kamar diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien Covid-19 pascaliburan Natal dan tahun baru. “Yang tadinya cuma 10 persen (untuk pasien Covid-19), jadi 30 persen atau 40 persen secara temporer saja,” kata Budi.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, nakes di RS dengan tingkat keterisian kamar lebih dari 60 persen saat ini sudah sangat kewalahan menangani pasien Covid-19. Jika kasus positif terus meningkat, maka beban tenaga kesehatan dan potensi terpapar virus semakin meningkat.

“Saya ingatkan, pada Desember saja sudah ada 49 orang dokter yang meninggal akibat Covid-19. Tidak selayaknya kita kehilangan tenaga kesehatan dari kelalaian kita untuk menanggulangi pandemi ini,” kata Wiku.

Satgas melaporkan, 10 besar provinsi memiliki tingkat keterisian tempat tidur ruang isolasi dan ICU lebih dari 60 persen. Tingkat keterisian tempat tidur di DKI Jakarta yang tertinggi yakni mencapai 82 persen, Banten mencapai 81 persen, DIY sebesar 78 persen, Jawa Barat sebesar 75 persen, dan Jawa Timur sebesar 71 persen.

photo
Gambaran keterisian ICU di Indonesia. - (Kementerian Kesehatan)

Sedangkan tingkat keterisian kamar di Sulawesi Selatan mencapai 71 persen, Jawa Tengah sebesar 71 persen, Sulawesi Tengah sebesar 65 persen, Kalimantan Timur sebesar 64 persen, dan Lampung sebesar 63 persen.

“Apabila tempat tidur di fasilitas kesehatan penuh 100 persen, maka pasien-pasien Covid-19 baru, terlepas dari tingkat keparahan penyakitnya dan kebutuhannya atas penanganan di rumah sakit, tidak akan bisa ditangani,” ujar Wiku.

Menkes telah memutuskan untuk merelaksasi aturan terkait izin perawat yang belum memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) untuk langsung bekerja di RS. Sebanyak 10 ribu perawat tanpa STR pun diperbolehkan langsung bekerja guna mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19 pascalibur Natal dan tahun baru yang diperkirakan terjadi di pekan ini hingga pekan depan.

Kemenkes juga sedang melakukan kajian dengan IDI agar relaksasi tersebut juga dapat diberlakukan untuk para dokter. Budi menyebut terdapat sekitar 4.000 dokter yang dapat diperbantukan untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19.

photo
Petugas kesehatan membantu seorang pasien Covid-19 memasuki ruangan di Rumah Sakit Lapangan Kogabwilhan II Jalan Indrapura, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/1). - (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY mengakui kekurangan nakes penanganan Covid-19. Hal ini mengingat kenaikan kasus yang terus terjadi dengan jumlah yang signifikan tiap harinya di DIY. Bahkan pada 7-9 Januari lalu lebih dari 300 kasus baru per hari.

Kepala Dinkes DIY, Pembayun Setyaningastutie, mengatakan, penambahan jumlah kasus baru tidak sebanding dengan jumlah SDM kesehatan di DIY. Pihaknya juga telah melakukan rekrutmen untuk menambah kekurangan tenaga kesehatan.

Setidaknya, DIY membutuhkan 200 lebih nakes untuk mengisi kekurangan tenaga. Namun, hanya 88 orang yang mendaftar dan hanya 26 orang dari total tersebut yang bisa mengisi kekurangan tenaga untuk penanganan Covid-19 di DIY. “Kita butuh 238 tenaga kesehatan, yang mendaftar 88 orang, lolos administrasi 63 orang, buntutnya tinggal 26 (yang diterima),” ujar dia.


×