ILUSTRASI Turki Utsmaniyah pada abad ke-16 memiliki kekuatan maritim yang unggul. Prancis menjadi salah satu kerajaan yang meminta bantuan Turki dengan menjalin aliansi militer. | DOK WIKIMEDIA
29 Nov 2020, 07:49 WIB

Ketika Turki Selamatkan Prancis

Dengan dukungan Turki, Prancis dapat merebut kembali wilayahnya dari Spanyol-Habsburg.

OLEH HASANUL RIZQA 

Sultan Suleiman I al-Qanuni menerima dengan baik rombongan delegasi Kerajaan Prancis yang dipimpin Jean Frangipani. Di hadapan sang khalifah Turki Utsmaniyah, Frangipani mengabarkan penawanan Raja Francis I oleh Charles V.

Sebelumnya, Prancis mengalami kekalahan telak dalam Perang Pavia di Italia utara pada Februari 1525. Tidak hanya kehilangan banyak prajurit, rajanya pun kini berstatus tawanan Wangsa Habsburg. Kondisi negeri itu sangat gawat, bagaikan telur di ujung tanduk.

Pada masa itu, membangun aliansi dengan negeri Islam adalah sesuatu yang sangat tabu dilakukan kerajaan Kristen di Eropa. Namun, ibunda Francis I, Louise Savoy, tidak melihat adanya pilihan lain begitu putranya ditawan raja Dinasti Habsburg. Baginya, kedaulatan Prancis—dan tentu keselamatan anaknya—lebih utama daripada sekadar sentimen anti-Islam.

Terkait

Frangipani pulang ke Paris dengan membawa surat balasan dari Sultan. Secara garis besar, isinya menyambut baik upaya hubungan diplomatik, yang tidak setara, antara Turki Utsmaniyah dan Prancis. Dikatakan tidak setara karena saat itu Turki merupakan sebuah negara adidaya. Kekuasaannya mencakup sebagian Asia, Afrika Utara, dan Eropa. Dibandingkan dengan itu, wilayah kendali Francis I “hanya” meliputi negara modern Prancis kini.

Bahkan, dalam surat balasannya Sultan Suleiman I menyebut putra pangeran Angouleme dan Louise Savoy itu sebagai “Fransesko, penguasa provinsi Prancis.” Seolah-olah, Francis I hanyalah seorang gubernur, bukan raja.

photo
Surat pertama dari Sultan Suleiman I al-Qanuni kepada Raja Francis I. Dalam surat itu, sang penguasa Turki Utsmaniyah juga menjawab permohonan raja Prancis itu terkait diplomasi tak setara antara dua negeri. - (DOK WIKIPEDIA)

Louise menyambut gembira jawaban Turki Utsmaniyah. Sang ibu suri lantas menyuruh Frangipani untuk kembali berangkat ke Konstantinopel (Istanbul). Tugasnya kali ini untuk membujuk sang khalifah agar menyerang basis pertahanan Habsburg di Balkan utara.

Sementara itu, Sultan Suleiman I menyerukan kepada Charles V agar membebaskan Francis I dari tahanan di Madrid. Sebuah sumber menyebutkan, sang sultan juga mengancam akan menyerang Spanyol sehingga raja Habsburg itu tak akan bisa melihat matahari terbit keesokan pagi. Berkat ultimatum tersebut, Charles V melunak. Francis I pun dapat kembali ke Paris dengan selamat pada 17 Maret 1526.

photo
Francis I, raja Prancis yang berkuasa sejak awal abad ke-16. Ia sempat menjadi tawanan raja Habsburg, tetapi dilepaskan berkat ultimatum Sultan Suleiman I. - (DOK WIKIPEDIA)

Sesungguhnya, tanpa disarankan Prancis pun Turki sudah menjalankan politik ekspansi di Semenanjung Balkan. Keberhasilan Sultan Mehmed II al-Fatih dalam menaklukkan Konstantinopel pada 29 Mei 1453 adalah tonggak mulanya. Dan, pergerakan pasukan Muslim semakin gencar sejak Suleiman I berkuasa pada September 1520.

Waktu itu, Hongaria masih menjadi lawan utama yang berhadapan langsung dengan kesultanan tersebut. Puncaknya, Perang Mohacs pecah pada 29 Agustus 1526.

Meskipun sudah bersekutu dengan kerajaan-kerajaan Kristen lainnya, termasuk Kroasia dan Polandia, Hongaria tetap saja tak berkutik melawan Turki. Raja Hongaria Louis II bahkan tewas dalam upayanya melarikan diri.

Berbeda dengan sesama negeri Kristen lainnya, Prancis justru memuji kemenangan Sultan Suleiman I dalam pertempuran tersebut. Pujian itu mungkin sebagai balasan atas jasa sang sultan yang telah menekan Charles V untuk membebaskan Francis I.

Setelah kematian Louis II, Hongaria jatuh ke tangan Dinasti Habsburg—rival Prancis. Karena itu, Francis I pun semakin mempererat hubungan dengan Konstantinopel atau yang dijuluki Pintu Mulia (La Sublime Porte). Bagi Porte, upaya Prancis itu berarti memudahkan ekspansi kekhalifahan Islam di seluruh kawasan Mediterania.

Dimulailah konfrontasi yang panjang antara Turki Utsmaniyah dan Habsburg. Selama lebih dari dua setengah abad, kedua wangsa itu bertarung secara periodik demi memperebutkan wilayah di Eropa Selatan dan Eropa Tengah. Dalam pada itu, Prancis berpihak pada kerajaan Islam tersebut, alih-alih sesama negeri Nasrani.

photo
Lukisan yang menggambarkan Pertempuran Wina karya Juliusz Kossak - (DOK Wikipedia)

Strategi Habsburg

Memasuki musim semi tahun 1529, Sultan Suleiman I memimpin sebanyak 300 ribu pasukan ke perbatasan Hongaria dan Kekaisaran Romawi Suci. Pada September tahun yang sama, balatentaranya kian mendekati Wina. Kota di jantung Austria itu pun dikepung dari empat arah mata angin.

Suleiman I mengirimkan utusan ke gerbang Wina dengan pesan agar seluruh pemimpin dan penduduk kota tersebut menyerah. Dengan begitu, mereka tidak akan disakiti dan diberikan hak-haknya. Namun, ajakan sang sultan tidak dibalas oleh pihak lawan.

Garnisun Austria kemudian melancarkan serangan mendadak untuk menghalangi penggalian terowongan yang dilakukan prajurit Utsmaniyah di bawah tembok kota Wina. Upaya tersebut membuahkan hasil. Bahkan, nyaris saja perdana menteri Turki, Ibrahim Pasha, tertangkap.

Hujan deras mengguyur medan pengepungan pada 11 Oktober 1529. Suleiman I semakin kesulitan untuk menembus tembok kota Wina. Apalagi, kian banyak prajuritnya yang gugur dan jatuh sakit.

Para janissari pun mulai menyuarakan ketidaksenangan mereka pada perkembangan situasi. Sang sultan menjanjikan serangan pamungkas keesokan harinya. Namun, tetap saja Wina mampu bertahan. Akhirnya, pada 14 Oktober 1529, dengan persediaan yang kian menipis dan terpaan angin musim dingin, Suleiman I menginstruksikan pasukannya agar menyudahi pengepungan.

Kegagalan Turki merebut Wina memberikan jeda bagi Wangsa Habsburg untuk menyusun kekuatan. Mereka lantas menggencarkan usaha membangun aliansi dengan musuh Turki di timur, Dinasti Safavid. Ketika Wina sedang dikepung, utusan Habsburg dalam perjalanan menuju Persia. Raja Safavid Tahmasp I yang berhaluan syiah menyambut baik ajakan kerajaan Kristen itu untuk bersekutu.

photo
Lukisan Shah Tahmasp I di Istana Chehel Sotoon. - (DOK Wikipedia)

Sejak 1530-an, antara Habsburg dan Safavid terjalin sikap saling memahami. Yakni, ketika Turki Utsmaniyah berupaya menggempur wilayah Habsburg di Balkan, maka Safavid akan menyerang perbatasan timur kekhalifahan Islam tersebut di timur. Itu akan memaksa Sultan Suleiman I untuk lekas kembali ke ibu kotanya sesudah melakukan ekspansi di barat.

Perang Utsmaniyah-Safavid yang terjadi secara periodik sejak 1532 dalam banyak hal menguntungkan Habsburg. Bagaimanapun, pertempuran panjang itu akhirnya dimenangkan Turki pada 1555.

Aliansi maritim

Adalah impian Sultan Suleiman I untuk menguasai seluruh Laut Tengah. Kekaisaran Romawi Suci berusaha melawan kekuatan armada Turki Utsmaniyah di lautan. Pada 28 September 1538, pertempuran pecah di dekat Preveza, pesisir Yunani barat. Dalam perang tersebut, Turki berhadapan dengan Spanyol-Habsburg dan sekutunya, termasuk prajurit The Holy League yang dikumpulkan Paus Paul III.

Suleiman I menunjuk bajak laut Muslim terkemuka, Hayreddin (Khair ad-Din) Barbarossa, sebagai komandan pertempuran. Kedua belah pihak memiliki armada laut yang cukup seimbang, yakni sekitar seratusan unit kapal.

Namun, Barbarossa menerapkan strategi yang lebih jitu untuk mendesak kapal-kapal aliansi Spanyol. Akhirnya, Turki meraih kemenangan telak tanpa kehilangan sebuah kapal pun.

photo
Gambar ilustrasi Hayreddin (Khair ad-Din) Barbarossa, saudara dari Uruc Barbarossa. Keduanya merupakan bajak laut yang ikut membantu Muslimin dalam melawan kerajaan Kristen Spanyol yang waktu itu melakukan inkuisisi. Selim I dari Turki Utsmaniyah menyokong kekuatan armada maritim kakak beradik itu. - (DOK WIKIPEDIA)

Hasil dari Perang Preveza membuka jalan bagi kedaulatan maritim Turki di seluruh Mediterania. Prancis melihat fakta itu sebagai kesempatan untuk terus menekan saingannya, Habsburg, dari arah lautan. Setelah mengirimkan utusan ke Konstantinopel, Francis I mengumumkan aliansi Turki-Prancis. Tujuannya untuk merebut kembali kota pelabuhan Nice di Prancis selatan.

Pasukan Turki dipimpin Khair ad-Din Barbarossa, sedangkan Prancis oleh Francois de Bourbon. Pada 6 Agustus 1543, kekuatan gabungan Turki-Prancis itu bergerak menuju Nice. Penguasa kota tersebut yang juga partner Charles V, Charles III, memutuskan untuk bertahan total.

photo
Pertempuran Preveza (1538) oleh Ohannes Umed Behzad, dilukis tahun 1866. - (DOK Wikipedia)

Setelah digempur terus-menerus, Charles III akhirnya mengibarkan bendera putih pada 22 Agustus 1543. Dalam pengepungan ini, persiapan Turki terbukti lebih baik daripada Prancis. Kastil De Cimiez tidak dapat direbut karena bubuk mesiu yang dijanjikan Prancis untuk meriam-meriam Turki tidak kunjung datang.

Sebelumnya, Barbarossa pun berkali-kali mengeluhkan kurangnya perlengkapan yang disediakan kapal-kapal Prancis. Katanya dengan kecewa, “Apakah kalian (awak kapal Prancis) lebih suka mengisi tong dengan minuman anggur daripada bubuk mesiu?”

Memasuki musim dingin, Francis I mengizinkan Turki agar singgah di Toulon sebelum melanjutkan misi menyerang armada Kekaisaran Roma Suci. Raja Prancis itu menyuruh seluruh penduduk setempat untuk hijrah sementara waktu ke luar kota. Hanya kepala keluarga yang diperbolehkan tinggal di masing-masing rumah. Sebagai kompensasinya, mereka dibebaskan dari kewajiban membayar pajak selama 10 tahun.

Sekitar 30 ribu prajurit Turki kemudian bertempat tinggal di sana. Selama waktu singgah itu, Katedral Toulon diubah menjadi masjid. Azan pun berkumandang untuk pertama kalinya di kota tersebut.

photo
Lukisan tentang pengepungan Nice oleh aliansi Turki Utsmaniyah dan Prancis pada Agustus 1543. - (DOK WIKIPEDIA)

 

Demi Perekonomian Negeri

Eratnya hubungan diplomatik Prancis dengan Turki Utsmaniyah pada abad ke-16 adalah sebuah anomali. Sebab, umumnya negeri-negeri Kristen di Eropa menaruh rasa curiga—kalau bukan kebencian—terhadap kekhalifahan Islam itu, yang berhasil menaklukkan Konstantinopel sejak 29 Mei 1453. Padahal, Raja Prancis Francis I pada tahun-tahun awal pemerintahannya kerap mengusung semangat anti-Turki.

Menurut De Lamar Jensen dalam artikelnya, “The Ottoman Turks in Sixteenth Century French Diplomacy” (1985), perubahan sikap Francis I bukan semata-mata imbas dari kekalahannya dalam Perang Pavia pada 1525. Tak dapat dipungkiri, peran Sultan Suleiman I al-Qanuni cukup besar dalam pembebasan putra Louise Savoy itu dari tahanan Charles V. Namun, mengapa aliansi dengan Utsmaniyah tetap diteruskan Prancis sesudah rajanya bebas?

Jensen meyakini, alasannya adalah bahwa Francis I melihat besarnya keuntungan dari jalinan kerja sama dengan Turki. Waktu itu, imperium Islam tersebut menguasai nyaris seluruh Asia Barat dan sebagian pesisir Mediterania. Berbagai kota dan pelabuhan strategis berada di bawah kendali La Sublime Porte.

Akademisi Brigham Young University itu mengatakan, Francis I mengupayakan diplomasi jangka panjang dengan Turki demi merebut berbagai konsesi perdagangan internasional. Raja Prancis itu menyadari, negeri-negeri Kristen semisal Venesia dan Ragusa telah menikmati berbagai keuntungan dengan membuka kerja sama dengan Turki. Hasilnya, dua negara-kota itu menjadi lebih makmur. Bandar perniagaannya selalu ramai dan menerima pasokan berbagai komoditas berharga dari Asia.

Setelah kembali ke Paris, pada 1529 Francis I mengutus delegasi yang dipimpin Antonio Rincon ke Konstantinopel. Mulanya, utusan itu ditugaskan untuk meminta restu Sultan Suleiman I agar berkenan memulihkan status gereja tua di Yerusalem yang sudah menjadi masjid. Namun, secara halus permintaan itu ditolak sang sultan. Bagaimanapun, pemimpin Turki itu menghargai klaim Prancis sebagai pelindung hak-hak umat Kristen di Tanah Suci Yerusalem.

Pada April 1535, tepat ketika Charles V menyerang basis militer Turki di La Goletta dan Tunis, Francis I mengutus Jean de La Foret ke Porte. Tugasnya tidak hanya menyampaikan dukungan formal Prancis untuk misi militernya di Mediterania dalam melawan Habsburg dan Kekaisaran Romawi Suci, tetapi juga menjajaki perjanjian jangka-panjang dalam bidang perdagangan.

 
Hingga akhir hayatnya Raja Francis I dan Suleiman I, perjanjian tersebut terus berlaku.
 
 

Misi tersebut berhasil. Hingga akhir hayatnya Raja Francis I dan Suleiman I, perjanjian tersebut terus berlaku. Hasilnya, para pelaut dan saudagar Prancis menikmati berbagai kemudahan untuk berdagang dan mendapatkan barang di pelabuhan-pelabuhan milik kekhalifahan, baik di Asia maupun Afrika Utara.

Patut diketahui, hubungan Turki-Prancis saat itu tak berlangsung setara. Dalam arti, yang lebih aktif adalah Prancis. Negeri Heksagon terus mengirimkan para duta besarnya. Konsulat Prancis pun dibuka di Konstantinopel serta beberapa kota.

Namun, tidak pernah ada kantor perwakilan permanen atau semacam kedutaan besar Turki di wilayah Prancis, utamanya pada era Suleiman I. Jensen mengatakan, hal itu bukan berarti Kekhalifahan setengah-hati dalam menjalin diplomatik. Yang hendak ditegaskan Sultan ialah, kerajaannya selalu berposisi lebih superior. Prancis membutuhkan Turki, tetapi belum tentu Turki membutuhkan Prancis.

photo
Peta pusat kekuasaan Turki Utsmaniyah sejak abad ke-16. - (DOK WORDPRESS)


,
×