Sultan Suleiman I al-Qanuni. Di bawah pemerintahannya, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah mulai mengalami masa kejayaan. | DOK WIKIPEDIA
29 Nov 2020, 09:17 WIB

Aliansi Prancis-Turki Abad XVI

Terbukanya aliansi Prancis-Utsmaniyah menandakan babak baru dalam sejarah “konfrontasi” antara Barat dan Timur,

OLEH HASANUL RIZQA

Turki Utsmaniyah mengalami masa jaya saat dipimpin Suleiman al-Qanuni. Kekhalifahan disegani seluruh Eropa. Prancis sampai memohon bantuan sang sultan agar rajanya bebas dari tawanan musuh. 

Pada 30 September 1520, Suleiman naik takhta untuk menggantikan Selim I. Ayahnya itu telah berjasa besar dalam memperluas wilayah Turki Utsmaniyah hingga ke Mediterania Timur (Levant), Hijaz, Mesir, dan sebagian Aljazair. Dengan menguasai Makkah, Madinah, dan Yerusalem sejak 1517, kesultanan itu berhak menyandang titel kekhalifahan Islam yang sebelumnya dipegang Dinasti Abbasiyah.

Mengikuti jejak pendahulunya, Sultan Suleiman —belakangan bergelar “Sultan Suleiman I al-Qanuni”— juga menerapkan politik ekspansi. Waktu itu, Kekhalifahan Turki menghadapi dua ancaman. Di timur, ada Dinasti Safavid yang menguasai Persia (Iran) dengan ideologi Syiah. Di barat, terdapat berbagai negeri Kristen, tetapi yang terbesar di antaranya adalah Wangsa Habsburg.

Terkait

Pada tahun pertama pemerintahannya, Suleiman I berfokus pada pihak lawan di sisi barat. Pada 1521, Turki berhasil merebut Belgrade dari Kerajaan Hongaria. Setahun berikutnya, Pulau Rhodes juga dapat dikuasainya setelah pengepungan selama lima bulan.

photo
Lukisan tentang pengepungan Nice oleh aliansi Turki Utsmaniyah dan Prancis pada Agustus 1543. - (DOK WIKIPEDIA)

Kelompok ksatria Tentara Salib pun terusir ke Pulau Sisilia. Berbeda dengan sultan-sultan sebelumnya, al-Qanuni sangat memperhatikan armada tempur. Kastil Marmaris didirikannya sebagai markas angkatan laut Turki.

Setelah Belgrade jatuh, Hongaria terus menyusun kekuatan. Kerajaan Kristen itu lantas membangun aliansi, antara lain, dengan Kroasia dan Polandia. Dengan sokongan Kekaisaran Romawi Suci, berangkatlah persekutuan tersebut ke Kota Mohacs pada 29 Agustus 1526 untuk menghadapi Turki. Mereka memboyong sekitar 40 ribu prajurit dan 80 meriam.

Namun, kekuatan itu tidak sebanding dengan yang dimiliki Utsmaniyah. Di Mohacs, kesultanan Islam tersebut diperkuat 70 ribu prajurit dengan 200 meriam. Louis II kehilangan lebih dari separuh jumlah pasukannya. Raja Hongaria itu kemudian kabur dari medan perang. Kemenangan dalam pertempuran tersebut meneguhkan dominasi Turki di Semenanjung Balkan hingga Eropa Tengah.

 
Kemenangan dalam pertempuran Mohacs meneguhkan dominasi Turki di Semenanjung Balkan hingga Eropa Tengah.
 
 

Saat melarikan diri, Louis II dibunuh prajurit musuh. Kematiannya berarti akhir Dinasti Jagiellon. Hongaria kemudian dikuasai Dinasti Habsburg yang berpusat di Austria. Hingga kini, Perang Mohacs masih menyisakan trauma bagi rakyat Hongaria. Mereka menilai peristiwa tersebut telah mengakhiri riwayat Hongaria sebagai sebuah negara Eropa yang merdeka dan kuat.

Wangsa Habsburg atau Wangsa Austria berdiri sejak abad ke-11. Hingga awal abad ke-18, dinasti tersebut merupakan salah satu trah ningrat yang paling berpengaruh di Eropa. Takhta Kekaisaran Romawi Suci hampir selalu diisi raja-raja dari kalangan mereka, dengan dukungan paus yang berkedudukan di Roma (Vatikan).

Dalam merebut dominasi di seluruh Benua Biru, Wangsa Habsburg memiliki rival yakni Wangsa Kapetia atau Prancis. Meskipun sama-sama memeluk Kristen, kedua belah pihak saling bersaing keras. Persaingan tersebut bahkan menyebabkan Prancis mendobrak tabu yang waktu itu berlangsung di Eropa: kerja sama antara negeri Salib dan Bulan Sabit.

 
Prancis mendobrak tabu yang waktu itu berlangsung di Eropa: kerja sama antara negeri Salib dan Bulan Sabit.
 
 

Prancis-Habsburg

Terbukanya aliansi Prancis-Utsmaniyah menandakan babak baru dalam sejarah “konfrontasi” antara Barat dan Timur, khususnya sejak akhir abad pertengahan. Pada mulanya, Prancis menjalin hubungan diplomatik dengan Kesultanan Mamluk yang berpusat di Mesir. Mamluk memberikan konsesi kepada Prancis untuk berdagang di pelabuhan-pelabuhan Mesir.

Sesudah Mesir dikuasai Turki Utsmaniyah, perjanjian itu sempat terjeda. Prancis pun larut dalam persaingan dengan Wangsa Habsburg, terutama dalam merebut wilayah Eropa selatan. Pada Januari 1515, Francis I naik takhta memimpin negeri itu.

Dua tahun kemudian, Paus Leo X mendekati raja muda yang berusia 21 tahun itu dan menawarkan kepadanya untuk memimpin aliansi militer melawan Sultan Selim I. Francis I menyambut dengan antusias tawaran itu. Namun, konsentrasinya terpecah untuk misi militer negerinya di kancah Perang Italia yang sudah berlangsung sejak 1494. Perang itu mempertemukan antara Prancis dan Wangsa Habsburg.

photo
Raja Charles V, penguasa dari Wangsa Habsburg ini menjadi saingan utama Raja Francis I dalam konteks dunia Kristen pada akhir abad pertengahan. - (DOK WIKIPEDIA)

Kaisar Maximilian I meninggal pada 12 Januari 1519. Sejak itu, takhta Kekaisaran Romawi Suci kembali diperebutkan. Sebagai salah seorang kandidat, Francis I menjanjikan dirinya akan memperkuat barisan Kristen dalam melawan Turki Utsmaniyah. Namun, dalam pemilihan itu raja Prancis tersebut kalah suara dibandingkan Charles V yang berasal dari trah Habsburg.

Beberapa tahun kemudian, Francis I kembali melawan Charles V. Kali ini bukan di ajang pemungutan suara, melainkan perang terbuka. Pertempuran Pavia terjadi pada 24 Februari 1525. Pertempuran itu merupakan salah satu babak penting dalam rangkaian Perang Italia yang mempertemukan antara aliansi Prancis di satu pihak dan Habsburg-Inggris di pihak lain.

photo
Lukisan dalam Ruprecht Heller mengenai Pertempuran Pavia (1529), Nationalmuseum, Stockholm - (DOK Wikipedia)

Perang ini berlangsung empat jam lamanya. Di Kota Pavia, kedua belah pihak saling adu kekuatan. Aliansi Prancis sesungguhnya tidak kurang tangguhnya daripada Habsburg, yang disertai 20 ribu prajurit.

Namun, strategi yang dijalankan Raja Charles V terbukti lebih unggul dan efektif dalam memukul mundur lawan. Alhasil, Francis I kian terdesak dan akhirnya kalah total.

Raja Prancis itu lantas ditangkap dan menjadi tawanan. Awalnya, ia dipenjara di Benteng Pizzighettone, Lombardy (Italia). Namun, Charles V lantas membawanya ke Madrid, Spanyol.

Dalam tahanan, putra pangeran Angouleme tersebut menulis surat yang ditujukan kepada ibunya, Louise (Louise of Savoy). Dalam suratnya, ia menyampaikan, “Tak ada yang tersisa dariku selain kehormatan dan nyawa, yang dalam keadaan selamat.” Perkataan itu akhirnya memunculkan peribahasa di kalangan bangsawan Eropa “all is lost, save honour” (meskipun semuanya lenyap, tetap pertahankan kehormatan).

photo
Francis I, raja Prancis yang berkuasa sejak awal abad ke-16. Ia sempat menjadi tawanan raja Habsburg, tetapi dilepaskan berkat ultimatum Sultan Suleiman I. - (DOK WIKIPEDIA)

Langkah pertama

Begitu mendengar kabar bahwa putranya ditawan, Louise segera mengumpulkan seluruh kalangan istana. Diputuskanlah bahwa Prancis akan membangun aliansi baru demi mendesak Wangsa Habsburg. Dan, satu-satunya kekuatan yang dapat mengatasi dinasti tersebut ialah kerajaan Islam, Kekhalifahan Turki Utsmaniyah. Inilah langkah awal kerja sama lintas agama yang sebelumnya sangat tabu bagi dunia Kristen abad pertengahan; aliansi yang mempertemukan antara bendera Salib dan Bulan Sabit.

Pertama-tama, Prancis mengirimkan rombongan delegasi untuk menghadap Sultan Suleiman I. Namun, belum sampai ke Konstantinopel (Istanbul) rombongan itu dibunuh perampok. Seluruh surat berharga yang mereka bawa ikut raib.

photo
Salah satu surat Sultan Suleiman I kepada Raja Francis I. Kini, manuskrip tersebut disimpan di Arsip Nasional Prancis, Paris. - (DOK WIKIPEDIA)

Louise tidak menyerah. Kelompok berikutnya pun dikirim dari Paris. Mereka dipimpin Jean Frangipani, seorang agen berdarah Kroasia yang mengabdi untuk Prancis. Pada Desember 1525, Frangipani sampai di tujuan dan diterima dengan baik oleh pemerintah Turki.

Negeri-negeri Eropa-Kristen waktu itu menjuluki Turki Utsmaniyah sebagai negeri Pintu Mulia (bahasa Prancis: “La Sublime Porte”). Asal-usul julukan itu ialah sebuah gerbang besar di istana Wazir, tempat balai sidang pemerintahan di Konstantinopel. Secara metaforis, ungkapan “Pintu Mulia” dipakai untuk mengibaratkan Turki sebagai gerbang Asia.

Pada 6 Februari 1526, Frangipani kembali ke Paris dengan membawa surat balasan dari Sultan Suleiman I. Surat tersebut berisi pembukaan, yakni segala puja dan puji ke hadirat Allah SWT. Kemudian, shalawat dan salam dihaturkan kepada Nabi Muhammad SAW, para khulafaur rasyidin, juga keluarga beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

Isi surat tersebut yang kerap dikutip kalangan sejarawan adalah sebagai berikut.

Saya adalah sultannya para sultan, penguasa yang berdaulat, pemberi mahkota kepada para raja di muka bumi, bayangan Allah di muka bumi, sultan dan penguasa berdaulat atas Laut Mediterania dan Laut Hitam, (wilayah kekuasaan) dari Rumelia dan Anatolia, Karamania, tanah Romawi, Dhulkadria, Diyarbakir, Kurdistan, Azerbaijan, Persia, Damaskus, Aleppo, Kairo, Makkah, Madinah, Yerusalem, dari semuanya tanah Arab, Yaman dan banyak negeri lain—yang semuanya itu telah dibebaskan oleh para pendahulu saya yang mulia (semoga Allah menerangi kuburan mereka!). (Wilayah-wilayah itu) telah ditaklukkan oleh kekuatan senjata mereka (para sultan Turki), dan Baginda Agustus (kaisar Romawi Timur) telah tunduk pada pedang flamboyan saya.

Saya, Sultan Suleiman Khan, putra dari Sultan Selim Khan, putra dari Sultan Bayezid Khan (mengirim surat) kepada Anda, Fransesko, penguasa provinsi Prancis. Saya membenarkan bahwa Anda telah mengirimkan (utusan) ke Pintu Mulia. Surat Anda dibawa hamba setia Anda, Frangipani, dan kepadanya pula Anda telah mempercayakan komunikasi verbal.

Anda telah memberi tahu saya bahwa musuh telah menguasai negara Anda, dan bahwa Anda saat ini sedang berada di dalam penjara sebagai tawanan. Anda meminta bantuan dari saya untuk pembebasan Anda.

Semua perkataan Anda ini telah dikemukakan di hadapan singgasana saya (melalui Frangipani). Situasi Anda telah mendapatkan perhatian dari kerajaan saya, dan saya telah mempertimbangkan semuanya.

Ketahuilah bahwa penangkapan seorang raja adalah hal biasa. Maka, tenanglah, dan tak perlu gusar! Sebab, sungguh kamilah penakluk negeri-negeri kuat dan benteng-benteng yang kokoh. Dan sungguh, kuda-kuda perang kami selalu terjaga siang dan malam. Pedang-pedang kami selalu terhunus. Maka, Allah yang akan memudahkan segala kebaikan dengan kehendak-Nya jua.

Adapun hal-hal lainnya akan disampaikan kepadamu melalui utusanmu.

photo
Surat pertama dari Sultan Suleiman I al-Qanuni kepada Raja Francis I. Dalam surat itu, sang penguasa Turki Utsmaniyah juga menjawab permohonan raja Prancis itu terkait diplomasi tak setara antara dua negeri. - (DOK WIKIPEDIA)

Dari surat tersebut, jelaslah bahwa Sultan Suleiman I tidak memandang setara antara kerajaannya dan Prancis. Bahkan, Prancis disebutnya hanya sebagai sebuah “provinsi”, seolah-olah Francis I adalah seorang gubernur, bukan raja.

 


,
×