Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Prof Ali Ghufron Mukti. | DOK IST
26 Nov 2020, 02:16 WIB

Prof Ali Ghufron Mukti, Vaksin Merah Putih Karya Anak Bangsa

Sejak awal (pengembangan) vaksin Merah Putih, kami melibatkan LPPOM MUI.

 

Sudah lebih dari sembilan bulan pandemi virus korona baru melanda dunia. Hingga kini, kalangan ilmuwan terus berupaya menciptakan vaksin yang mampu mencegah penularan virus penyebab Covid-19 itu. Pemerintah Indonesia pun mengupayakan pengadaan vaksin tersebut, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurut Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Prof Ali Ghufron Mukti, vaksin produksi dalam negeri penting untuk dikembangkan. Dengan begitu, masyarakat di Tanah Air dipastikan akan mendapatkan vaksinasi demi tercapainya kekebalan kelompok.

Vaksin karya anak bangsa itu disebut sebagai vaksin Merah Putih. Pemerintah menggandeng Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), sebagai pihak yang mengembangkan vaksin tersebut.

Terkait

“Vaksin Merah Putih adalah vaksin buatan anak bangsa. Ini dikembangkan berbasis pada virus isolate yang beredar di Indonesia dan dilakukan sedemikian rupa. Tentu, harapannya lebih efektif dan cocok buat orang Indonesia,” kata peraih gelar doktor honoris causa dalam bidang kesehatan dari Coventry University, Inggris Raya, itu.

Lantas, apa kabar pengembangan vaksin Merah Putih hingga saat ini? Apakah vaksinasinya dapat dilakukan sesuai target? Berikut bincang-bincang wartawan Republika, Muhyiddin, dengan sosok alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu beberapa waktu lalu.

photo
Menurut mantan wakil menteri kesehatan Prof Ali Ghufron Mukti, vaksin Merah Putih dapat dipastikan berstatus halal. Sebab, pengembangannya sejak awal selalu melibatkan Majelis Ulama Indonesia. - (DOK IST)

Secara teori, bagaimana vaksin bekerja untuk mencegah seseorang dari suatu penyakit?

Vaksin itu suatu zat yang juga bentuk produk biologis. Asalnya dari bakteri atau virus yang sudah dilemahkan atau dimatikan, yang lalu dimasukkan ke dalam tubuh manusia. Nah, dia berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit yang disebabkan bakteri atau virus tersebut.

Vaksin melatih tubuh agar menciptakan kekebalan baru terhadap penyakit. Versi jinak dari agen penyebab penyakit ini akan membantu tubuh kita dalam mengenali versi jahatnya. Dengan begitu, melatih sistem imun dalam tubuh manusia untuk melawannya.

Dalam tubuh, mikroba kandungan vaksin akan berperan sebagai antigen. Antigen adalah zat yang dapat merangsang sistem imun untuk menghasilkan antibodi sebagai bentuk perlawanan. Antibodi diproduksi oleh sel dalam sistem imun tubuh yang bernama limfosit.

Maka, ketika kemudian hari seseorang terpapar virus penyebab penyakit yang sama, sistem imun tubuh sudah bisa mengenalinya, dan lalu memproduksi antibodi dengan cepat. Antibodi akan menghancurkan antigen tersebut bahkan sebelum menyebar dan menyebabkan infeksi.

Apa yang melatarbelakangi pengembangan vaksin Merah Putih?

Vaksin Merah Putih adalah vaksin buatan anak bangsa. Ini dikembangkan berbasis pada virus isolate yang beredar di Indonesia dan dilakukan sedemikian rupa. Tentu, harapannya lebih efektif dan cocok buat orang Indonesia.

Diketahui, Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar nomor empat di dunia. Dengan pengembangan vaksin sendiri, bukan hanya kita akan memenuhi kebutuhan yang sangat besar, melibatkan triliunan rupiah, tetapi hal itu juga berarti bahwa kita menguasai teknologi yang canggih dalam pengembangan vaksin. Artinya, kita memiliki kedaulatan dan kemandirian teknologi vaksin, agar Indonesia segera bisa berkontribusi dalam menyelesaikan pandemi global Covid-19.

Kita pada prinsipnya menerapkan triple-helix, yaitu kerja sama yang erat antara ilmuwan dan peneliti di perguruan tinggi dan lembaga penelitian, seperti Eijkman dan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Pemerintah juga menggandeng industri dalam negeri, yakni PT Bio Farma.

Secara garis besar, bagaimana pembuatan suatu vaksin sejak riset hingga dianggap layak untuk diproduksi massal?

Proses pembuatan vaksin tergantung pada platform yang digunakan. Untuk platform, ada platform inactivated whole virus. Artinya, keseluruhan virus yang dimatikan atau dilemahkan. Ini seperti vaksin yang dikembangkan Sinovac (Sinovac Biotech, perusahaan pengembang vaksin asal China –Red) yang sekarang sedang diuji klinik tahap ketiga di Bandung, Jawa Barat. Adapun platform sub-unit protein rekombinan, seperti yang dikembangkan Eijkman. Lalu, DNA atau m-RNA atau VLP (virus-like particles) seperti yang dikembangkan UI (Universitas Indonesia).

Intinya, harus ditemukan seed vaccine atau prototyping vaccine yang telah diuji coba di hewan. Kemudian, seed vaccine ini perlu diuji klinik tahap I, II dan III hingga bahkan IV jika perlu. Kalau uji klinik ini hasilnya baik, sesuai harapan, baik dari segi keamanan, efektivitas dan kualitas, serta mendapatkan persetujuan BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan), maka bisa diproduksi massal.

Apa yang membedakan vaksin Merah Putih dari vaksin Covid-19 lainnya yang dikembangkan di luar negeri?

Vaksin Merah Putih dikembangkan berdasarkan virus isolate yang beredar di Indonesia dan dikembangkan oleh anak bangsa. Uji kliniknya semuanya dilakukan di Indonesia. Vaksin Merah Putih ada beberapa platform.

Untuk platform yang dikembangkan di Eijkman, itu menggunakan protein rekombinan spike S dan N, bukan seluruh virus. Hal ini berbeda dengan Sinovac yang virus isolate-nya bukan yang beredar di Indonesia, dan uji klinik tahap I dan II tidak dikerjakan di Indonesia. Seed vaccine (Sinovac) juga tidak dikembangkan oleh anak bangsa Indonesia. Vaksin Sinovac uji klinik III barulah dilakukan di Indonesia.

Bagaimana perkembangan terkini dari riset vaksin Merah Putih?

Perkembangan yang dicapai oleh vaksin Merah Putih yang dikembangkan di Eijkman sekarang sudah mencapai kurang lebih 50 persen untuk mencapai seed vaccine. Yang kurang adalah, dilakukan uji coba hewan dan uji klinis. Maka diharapkan pada akhir pertengahan 2021, uji klinis selesai. Sehingga pada akhir tahun 2021, vaksin itu sudah bisa diproduksi.

Jadi, perbedaan dengan vaksin luar negeri hanya hitungan bulan, bukan tahun. Hal ini disebabkan kita mulainya lebih lambat dibanding dengan kolega-kolega kita di luar negeri, khususnya China.

Bagaimana dengan mutasi gen D614G?

Kurang lebih, 24 whole genom sequencing (WGS) sudah dikirimkan ke GISAID (institusi inisiatif ilmuwan global untuk mempelajari data genetika virus; bermarkas di Munich, Jerman –Red). Ternyata, ada mutasi gen yang kemudian dikenal dengan D614G.

Nah, berbasis pada wawancara atau komunikasi saya dengan presiden GISAID, belum ada bukti keberadaan virus SARS COV-2 D614G menyebabkan infeksinya lebih berat atau sulit diobati.

Dan, kita ketahui bahwa 78 persen kurang lebihnya dari seluruh WGS yang dikirim ke GISAID mengandung mutan D614G. Meskipun tidak terbukti lebih berbahaya, kita tetap perlu menerapkan protokol kesehatan yang ketat, terutama 3M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.

Kembali ke vaksin Merah Putih, bagaimana tingkat kemanjuran atau efikasinya?

Itu akan bisa diketahui nanti setelah ada hasil uji klinik.

Berapa kira-kira kebutuhan vaksin Merah Putih untuk dalam negeri?

Jadi, dua pertiga dari total 265 juta penduduk Indonesia adalah 176 juta orang. Kalau setiap orang mendapatkan dua kali dosis, maka minimum kita memerlukan 353 juta unit vaksin.

Tentu, kalau seluruhan penduduk itu (divaksinasi) maka jauh lebih bagus. Nah, kita bisa lihat, apabila harga vaksin Rp 200 ribu per unit, maka paling tidak dibutuhkan dana sekitar Rp 70 triliun untuk pengembangan vaksin dan sekaligus vaksinasi.

Satu hal yang menjadi kerisauan umat Islam ialah status kehalalan vaksin. Bagaimana peluang vaksin Merah Putih bersertifikat halal?

Jelas kami pastikan kehalalan vaksin Merah Putih. Sejak awal (pengembangan) vaksin Merah Putih, kami melibatkan LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia).

Bila nantinya vaksin Merah Putih tersedia, bagaimana proses vaksinasi itu dilakukan?

Untuk penggunaan dan program vaksinasi, akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Memang, rencananya ada kekhususan bagi kelompok-kelompok masyarakat yang tidak mampu. Mereka masuk kelompok Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan vaksinasinya akan dilakukan secara gratis.

photo
Seorang pengguna jalan melintas dekat mural tentang protokol kesehatan pada masa pandemi. Menurut Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Prof Ali Ghufron Mukti, perlu kerja bersama antara negara dan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat di tengah pandemi Covid-19 - (DOK REPUBLIKA/Prayogi)

Tiga Hal Atasi Pandemi Covid-19

Wabah virus korona baru belum juga mereda di Indonesia. Hingga tulisan ini dibuat, Rabu (14/10), jumlah kasus positif Covid-19 di Tanah Air sudah mencapai lebih dari 340 ribu orang, tepatnya 344.749 kasus. Pada saat yang sama, penyakit tersebut telah merenggut nyawa sebanyak 12.156 orang.

Pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk menanggulangi Covid-19. Di antaranya adalah pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan kampanye protokol kesehatan. Selain itu, kalangan pemuka masyarakat dan tokoh agama juga diajak untuk terus mengimbau publik agar disiplin dalam mencegah penyebaran virus korona baru.

Ketua Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19 Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN) Prof Ali Ghufron Mukti mengatakan, situasi Covid-19 di Tanah Air menuntut seluruh elemen bangsa untuk bersatu padu. Dengan cara demikian, epidemi tersebut dapat segera diatasi bersama-sama.

Mantan wakil menteri kesehatan itu meneruskan, ada beberapa faktor penting yang diperlukan Indonesia untuk mengatasi Covid-19 secara tuntas. “Ada tiga hal untuk mengatasi pandemi Covid-19 ini. Yang pertama, ditemukannya vaksin. Kedua, ditemukannya obat yang efektif dan tepat. Lalu yang ketiga, apabila kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat bisa betul-betul dibuat secara tepat dan kondusif,” ujar dia saat dihubungi Republika, belum lama ini.

Alumnus University of Newcastle, Australia, itu menjelaskan, pengembangan vaksin Covid-19 mesti memperhatikan tiga hal, yaitu kecepatan, efektivitas, dan kemandirian. Dalam hal ini, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) sedang mengembangkan vaksin karya anak bangsa yang disebut sebagai vaksin Merah Putih. Harapannya, vaksin tersebut dapat menjadi jawaban penanggulangan Covid-19 di Tanah Air.

Tentunya, pemerintah tak menutup penjajakan kerja sama pengadaan vaksin Covid-19 dengan pihak-pihak luar negeri. Untuk mengejar aspek kecepatan, lanjut Mukti, Bio Farma misalnya telah bekerja sama dengan Sinovac di Cina untuk menghasilkan vaksin. Dan, kini vaksin tersebut sudah diuji klinis tahap ketiga.

“Isu yang kedua tentang efektivitas, maka uji klinis juga terus dilakukan evaluasi, apakah keamanan dan juga keefektifan bisa diperoleh,” ucapnya.

Terkait vaksin Merah Putih, ia menerangkan, setidaknya ada lima pihak di Indonesia yang terus bekerja keras dalam mewujudkannya. Selain LBME, mereka adalah Universitas Indonesia (UI), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Airlangga (Unair). Baru-baru ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga turut ambil peranan dalam pengembangan vaksin Merah Putih.

“Nah, kita bisa lihat, kalau vaksin ini bisa ditemukan, dan orang divaksinisasi. Dengan begitu, maka kekebalan kelompok akan terbentuk. Ini akan bisa menghindarkan orang dari terinfeksi Covid-19,” kata sosok kelahiran Blitar, Jawa Timur, itu.

Sambil menunggu hadirnya vaksin Merah Putih, lanjut dia, mekanisme 4T dan 3M dapat terus digalakkan. Proses 4T itu adalah testing (pengujian), tracing (pelacakan), tracking, dan treatment (perawatan). Adapun 3M adalah kampanye kesehatan umum pada masa pandemi, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun.

“Semoga kita bisa melalui masa pandemi ini dengan sebaik-baiknya,” tutup dosen tamu Harvard University ini.


,
×