Ilustrasi korban penggusuran | GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO
27 Oct 2020, 04:00 WIB

Sudah Kena Pandemi Digusur Pula

Sejak digusur itu mereka hidup bak orang sedang berkemah.

OLEH MUHAMAD UBAIDILLAH

Tahun 2020 menjadi waktu yang tidak akan terlupakan bagi warga RT 06, RW 04, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara. Tepatnya pada Rabu (15/7), rumah-rumah mereka digusur PT KAI. Penggusuran ini karena tanah yang mereka duduki merupakan lokasi untuk pelebaran Stasiun Kampung Bandan.

Sejak penggusuran itu mereka hidup bak orang sedang berkemah. Tenda-tenda biru berjejer di sisi kiri dan kanan rel. Berdasarkan pantauan Republika pada Senin (24/8) malam, warga duduk di sisi rel kereta dengan bercelana pendek, kaos oblong, memakai sarung, rok, masker, dan hanya dua orang memakai jaket.

Salah seorang korban penggusuran, Arsyad mengatakan, suara bising rel, panas matahari, dan derasnya air hujan sering masuk hingga ke dalam tenda. Jauh sebelum itu, rumahnya yang digusur juga memiliki kondisi yang sama. 

Terkait

"Iya derita enggak punya rumah layak dan tanah sendiri, tapi lama-lama terbiasa," tutur Arsyad.

Usai penggusuran, Arsyad bersama keluarganya tinggal di tenda yang terbuat dari terpal. Dapur dan tempat tidur berdampingan. Sedangkan toilet berbarengan dengan warga yang lain, berbentuk bilik, dan dibuat dari sisa-sisa bangunan. Airnya diambil dari sumur yang berada di sekitar lokasi.

Arsyad sudah 20 tahun tinggal di bantaran rel. Sehari-hari ia berkeliling berjualan kue rangi khas Betawi di wilayah Semper, Jakarta Utara. Keuntungan yang didapat tak cukup untuk menyewa kontrakan atau menyicil rumah. Tapi, lanjut Arsyad, hasil berjualannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga lainnya, Rasminiyati menceritakan sudah 58 tahun tinggal di bantaran rel. Banjir dan kebakaran pernah ia alami, namun dirinya tetap bertahan. Alasannya karena tidak ada tempat lain untuk tinggal. 

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, perempuan yang akrab disapa Mpok Ras ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Kota, Jakarta Barat. Mpok Ras mengatakan jarak menuju tempat kerjanya cukup dekat, hanya satu kali naik angkutan umum.

"Saya tidak masalah dipindahkan ke rusun, tapi risikonya jarak ke tempat kerja lebih jauh, harus naik angkot dua kali," kata Rasminiyati. 

Rasminiyati berharap di tempat tinggalnya yang baru, pemerintah juga akan memfasilitasi pekerjaan. Sehingga jarak antara rumah dan tempat kerja dekat. Selain itu beragam bantuan sembako saat pandemi ini juga sangat dibutuhkan.

Malam itu, Lurah Ancol, Rusmin mengunjungi warga korban penggusuran. Rusmin menyampaikan, warga akan mulai direlokasi ke Rusun Marunda, Cilincing, Jakarta Utara pada Selasa (25/8) ini. Setiap beberapa menit Lurah berhenti bicara karena suara bising rel kereta, meski sudah menggunakan pengeras suara.

Sebanyak 128 warga dari 34 KK direlokasi menggunakan dua bus sekolah dan satu truk satpol PP. Rusmin menjelaskan, Rusun Marunda dipilih karena biaya sewa yang terjangkau. Sehingga warga setuju direlokasi.

Selain itu, jaminan kesehatan, pendataan penduduk, dan penyaluran bantuan juga akan mudah diperoleh dibanding tinggal di pinggir rel. "Ini demi kemanusiaan dan kepentingan jangka panjang. Jangan mikir kita-kita yang sudah tua, pikirkan masa depan anak-anak, kenyamanan tinggal di sana, dan bantuan kepastian hidup seperti kesehatan, pendidikan, dan bantuan sosial," kata Rusmin. 

Rusmin melanjutkan, biaya sewa di Rusun Marunda setiap bulan di lantai 1 Rp 159 ribu, lantai 2 Rp 148 ribu, lantai 3 Rp 144 ribu, lantai 4 Rp 136 ribu, dan lantai 5 Rp 128 ribu. "Lantai satu diprioritaskan untuk warga yang sudah tua, yang sudah enggak kuat naik tangga," kata Rusmin. 


,
×